Catatan Dari Bangku Belakang

kutipan.izs
Chapter #11

BAB 11: SINYAL HILANG DI BALIK BUKIT SEKOLAH

Dunia di tahun 2026 seharusnya adalah dunia tanpa sekat, sebuah jagat raya yang terhubung oleh serat optik dan gelombang elektromagnetik yang sanggup mengirimkan jutaan bit data dalam sekejap mata. Namun, bagi SMA Negeri 1 Margotulus, kemajuan zaman hanyalah sebuah mitos yang tertulis dalam pamflet kusam di mading sekolah. Sore itu, matahari Margotulus menggantung rendah, berwarna merah tembaga yang menghanguskan, seolah sedang menghukum siapa pun yang masih berani beraktivitas di bawah bayang-bayangnya. Aris berdiri di tengah lapangan upacara yang gersang, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi ke langit, melakukan sebuah tarian putus asa yang kini menjadi ritual harian bagi setiap guru honorer di sana.

"Satu garis... tolong, hanya satu garis saja," bisik Aris, suaranya parau oleh debu yang masuk ke tenggorokannya.

Layar ponselnya yang retak menunjukkan ikon pemuatan yang berputar tanpa henti—sebuah lingkaran setan digital yang melambangkan ketidakberdayaan. Aplikasi Portal Pendidik Nasional baru saja merilis pembaruan wajib. Seluruh tenaga honorer diperintahkan untuk mengunggah 'Portofolio Digital Kinerja' sebelum pukul enam sore. Jika tidak, sistem pusat secara otomatis akan mengategorikan mereka sebagai 'Tenaga Tidak Aktif', sebuah eufemisme birokrasi yang berarti nama mereka akan dihapus dari daftar penerima honorarium bulan depan.

Keringat dingin mengalir di punggung Aris, membasahi kemejanya yang sudah mulai lecek. Ia melirik ke arah pohon kamboja di depan kantor TU, tempat yang biasanya menjadi oase sinyal. Di sana, kerumunan guru sudah berkumpul, saling bersikut dan mengangkat tangan ke udara seolah-olah sedang melakukan upacara pemanggilan arwah digital. Wajah-wajah mereka tegang, dipenuhi kecemasan yang sama: ketakutan akan kehilangan eksistensi di mata server pusat yang berada ribuan kilometer jauhnya di ibu kota.

"Percuma di sana, Aris. Trafo di desa sebelah meledak sepuluh menit yang lalu. Pemancar di bukit kehilangan daya cadangannya," suara Gita terdengar dari arah belakang.

Aris berbalik dan menemukan Gita sedang bersandar di tiang bendera yang berkarat. Wajahnya tampak tenang, namun ada kilatan kegelisahan di matanya yang tak bisa disembunyikan. Ia memegang tablet tua miliknya yang layarnya sudah mulai menguning.

"Meledak? Lalu bagaimana dengan tenggat waktu jam enam nanti?" Aris bertanya dengan nada panik yang sulit dikendalikan.

Gita menatap ke arah perbukitan kapur yang membentengi sisi barat sekolah. "Hanya ada satu cara. Titik koordinat 0-7. Bukit Meranggas. Di puncaknya ada sisa-sisa sinyal dari pemancar kabupaten sebelah yang jangkauannya nyasar ke sini. Tapi kita harus mendaki sekarang sebelum matahari benar-benar hilang."

Aris menelan ludah. Bukit Meranggas bukanlah jalur pendakian wisata. Itu adalah gundukan tanah berbatu yang ditumbuhi semak berduri dan pohon jati yang meranggas—sesuai namanya. "Mendaki? Dengan pakaian seperti ini?"

Gita melirik sepatu pantofel Aris yang masih mengkilap hasil semir tadi pagi. "Pilihannya cuma dua: sepatumu kotor, atau namamu hilang dari Dapodik. Aku tidak punya waktu untuk berdebat soal fesyen, Aris. Aku berangkat."

Tanpa menunggu jawaban, Gita melangkah mantap menuju gerbang belakang sekolah yang menuju ke area hutan jati. Aris tertegun sesaat, lalu segera berlari mengekor. Ia mengabaikan teriakan guru-guru lain di bawah pohon kamboja yang masih sibuk merutuki kegagalan sistem. Baginya, Gita adalah kompas satu-satunya di tengah badai birokrasi ini.

Perjalanan dimulai dengan melewati jalan setapak yang dipenuhi daun jati kering yang berisik saat diinjak. Bunyi kresek-kresek itu seolah-olah adalah suara waktu yang sedang terbakar. Matahari yang kian rendah menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di antara batang pohon, memberikan kesan seolah-olah hutan itu sedang mengawasi mereka dengan rasa ingin tahu yang dingin.

"Gita, pelan-pelan sedikit!" seru Aris saat ia hampir tergelincir di atas batu yang licin.

Gita tidak menoleh. "Sinyal itu seperti kesempatan, Aris. Dia tidak akan menunggumu sampai kamu siap. Di puncak itu, sinyal hanya stabil saat angin berembus dari arah selatan. Jika kita terlambat sepuluh menit saja, udaranya akan terlalu lembap dan gelombangnya akan memantul kembali ke lembah."

Aris mendengus, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. Sepatu pantofelnya benar-benar bukan pasangan yang cocok untuk tanah berbatu ini. Ia bisa merasakan setiap kerikil tajam menusuk sol sepatunya yang mulai menipis. Namun, melihat punggung Gita yang tetap tegak di depannya, Aris merasa malu untuk mengeluh. Gita bergerak dengan kelincahan yang mengejutkan, seolah ia sudah menghafal setiap lekuk dan rintangan di bukit ini.

"Kamu sering ke sini?" tanya Aris di sela-sela napasnya yang berat.

"Dulu, saat aku pertama kali sampai di Margotulus tiga tahun lalu," jawab Gita tanpa menghentikan langkahnya. "Waktu itu aku merindukan ibuku di kota. Sinyal di sekolah mati selama seminggu karena badai petir. Aku mendaki ke sini setiap sore hanya untuk bisa mengirim pesan singkat: 'Bu, aku baik-baik saja'. Terkadang pesan itu baru terkirim setelah aku menunggu di puncak selama dua jam."

Aris terdiam. Ia membayangkan Gita yang muda, berdiri sendirian di puncak bukit yang sunyi, memegang ponselnya ke arah langit malam hanya demi sebaris kata untuk ibunya. Ada rasa hormat yang baru tumbuh di hati Aris. Di balik sifat sinis dan dinding es yang dibangun Gita, ternyata ada lapisan kesepian yang sangat dalam yang telah ia taklukkan berkali-kali.

Pendakian menjadi semakin terjal. Mereka harus merangkak melewati celah batu besar yang ditumbuhi lumut kering. Tangan Aris tergores ranting berduri, meninggalkan jalur merah yang perih di lengannya. Namun, ia tidak berhenti. Pikirannya terobsesi pada angka 99%—angka persentase unggahan yang sering kali menjadi kutukan bagi para pejuang sinyal di pelosok.

Setelah tiga puluh menit perjuangan fisik yang melelahkan, mereka akhirnya sampai di puncak Bukit Meranggas. Puncak itu adalah sebuah area datar yang tidak terlalu luas, didominasi oleh sebuah batu besar yang permukaannya halus karena sering diduduki. Dari sini, Margotulus tampak seperti kotak-kotak korek api yang berserakan di tengah hamparan hijau kecokelatan yang luas. Sekolah mereka, SMA 1 Margotulus, tampak kesepian di bawah bayang-bayang senja, sebuah bangunan tua yang tampak sangat rapuh dari ketinggian ini.

"Cepat, nyalakan perangkatmu!" perintah Gita.

Aris segera mengeluarkan ponselnya. Ia berdiri di atas batu besar, mengangkat tangannya setinggi mungkin. Di layar, bar sinyal mulai berkedip-kedip. Edge... 3G... H+... Dan akhirnya, sebuah ikon 4G yang sangat tipis muncul sekejap.

Lihat selengkapnya