Pagi itu, Margotulus terbangun dalam dekapan kabut yang lebih tebal dari biasanya. Hawa dingin sisa hujan semalam masih merayap di sela-sela ubin semen sekolah, membawa aroma tanah basah dan lumut yang menusuk hidung. Aris tiba di sekolah dengan tubuh yang terasa seolah baru saja dihajar habis-habisan. Setiap langkah yang ia ambil memicu rasa nyeri di betis dan paha—kenang-kenangan fisik dari pendakian Bukit Meranggas kemarin sore. Sepatu pantofelnya, yang kini sudah tidak lagi mengkilap meski sudah ia sikat sekuat tenaga, terasa berat dan kaku.
Namun, di balik rasa lelah yang menghimpit tulangnya, ada semacam kehangatan yang menetap di dadanya. Sebuah memori tentang genggaman tangan di puncak bukit yang sunyi.
Ia melangkah menuju "Inner Sanctum" dengan tas punggung yang terasa lebih ringan. Di dalamnya, tidak ada buku-buku teks ekonomi yang berat; hanya ada dua bungkus mi instan rasa soto ayam yang ia beli di warung depan kontrakan dengan sisa uang koin terakhirnya. Itu adalah harta karun paling berharga yang ia miliki pagi ini. Saldo banknya masih menunjukkan angka nol yang keras kepala, dan perutnya sudah mulai menyanyikan lagu keroncongan sejak ia terbangun di atas kasur tipisnya.
Pintu ruang guru honorer itu berderit saat Aris mendorongnya. Ruangan itu masih remang-remang. Cahaya matahari yang pucat mencoba menembus kaca jendela yang berdebu, menciptakan garis-garis cahaya yang penuh dengan tarian debu halus. Di sana, di balik mejanya yang penuh dengan tumpukan kertas ujian, Gita sudah duduk. Ia tampak lebih lelah dari biasanya. Rambutnya tidak diikat sekencang kemarin, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang pucat. Ia sedang menatap termos peraknya yang kosong dengan pandangan yang sangat melankolis.
"Kamu datang lebih pagi dari penjaga sekolah, Aris," gumam Gita tanpa menoleh. Suaranya serak, tanda bahwa ia pun belum menyentuh cairan apa pun sejak bangun tidur.
"Aku punya sesuatu," ujar Aris sambil berjalan menuju meja kecil tempat teko listrik tua itu berada. "Anggap saja ini upah atas jasa pemanduan lapangan kemarin."
Aris mengeluarkan dua bungkus mi instan itu dan meletakkannya di atas meja kayu yang lapuk. Mata Gita sedikit melebar. Ia menatap bungkus plastik berwarna hijau itu seolah-olah itu adalah batangan emas. Ada kilatan lapar yang sangat jujur di matanya, sebuah sisi manusiawi yang biasanya ia bungkus rapat dengan sinisme tingkat tinggi.
"Mi instan? Di jam tujuh pagi?" Gita bertanya, mencoba mengembalikan nada sarkasmenya, namun perutnya justru berkhianat dengan mengeluarkan bunyi nyaring yang terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.
Aris terkekeh pelan. "Dalam ekonomi, kita bicara soal utility. Kegunaan barang ditentukan oleh waktu dan keadaan. Dan menurut kalkulasi perutku, kegunaan mi instan ini mencapai puncaknya sekarang juga."
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Aris mulai melakukan ritual "memasak". Ia mengisi teko listrik dengan air dari galon kecil yang mereka beli dengan iuran minggu lalu. Suara dengungan teko yang mulai memanaskan air mengisi kekosongan udara. Aris mengambil dua buah gelas plastik besar—satu-satunya wadah yang cukup layak untuk menampung mi. Ia merobek bungkusnya, mematahkan kepingan mi kering itu menjadi dua agar muat di dalam gelas, lalu menaburkan bumbu gurih yang aromanya segera menyeruak, memenuhi ruangan yang pengap itu.
Aroma MSG, bawang goreng, dan kunyit buatan itu mendadak mengubah atmosfer "Inner Sanctum". Ruangan yang biasanya berbau debu dan kertas lama kini berubah menjadi dapur darurat yang penuh harapan.
Gita bangkit dari kursinya, berjalan mendekat. Ia memperhatikan gerakan tangan Aris dengan saksama. "Kamu tahu kan, memakan ini setiap hari bisa merusak metabolisme?"
"Aku tahu. Tapi tidak memakan ini sekarang bisa merusak kewarasanku," jawab Aris sambil menuangkan air mendidih ke dalam gelas. Uap panas membubung tinggi, mengenai wajah mereka berdua yang berdiri berdekatan di sudut sempit itu.
Aris menutup permukaan gelas dengan buku agenda miliknya agar mi cepat lunak. Mereka berdiri diam selama tiga menit yang terasa sangat lama. Di luar, suara sapu lidi penjaga sekolah terdengar ritmis di lapangan, namun di dalam ruangan itu, waktu seolah berhenti di antara kepulan uap.
"Gita," panggil Aris pelan. "Terima kasih untuk kemarin. Aku tidak sempat mengatakannya dengan benar saat kita turun bukit."
Gita menunduk, memainkan ujung jemarinya di atas meja. "Aku hanya tidak ingin kehilangan rekan kerja yang bisa diajak berdebat. Margotulus akan sangat membosankan kalau hanya ada Sugeng dan Pak Kepala Sekolah."
"Hanya itu?" Aris mencoba memancing.
Gita mendongak, matanya bertemu dengan mata Aris di balik uap mi yang mulai menipis. "Mungkin... aku juga tidak ingin ada orang lain yang merasakan tersesat di bukit itu sendirian. Aku tahu rasanya, dan itu tidak menyenangkan."
Aris tersenyum. Ia membuka tutup gelasnya. Mi itu sudah mengembang sempurna, kuahnya yang kuning kental terlihat sangat menggoda. Ia memberikan satu gelas kepada Gita, lengkap dengan sendok plastik yang warnanya sudah memudar.
"Silakan, Bu Guru. Sarapan ala kadarnya di restoran paling eksklusif di Margotulus," ujar Aris.