Malam di Margotulus selalu membawa keheningan yang bersifat menindas. Di kamar kontrakan Aris yang berukuran tiga kali tiga meter, suara detak jam dinding murah seolah-olah berubah menjadi dentuman palu yang menghantam kesadarannya. Cahaya lampu bohlam sepuluh watt yang mulai meredup—mungkin karena tegangan listrik desa yang sedang sekarat—menciptakan bayangan panjang yang meliuk-liuk di atas dinding semen yang lembap. Aris duduk bersila di atas tikar pandan yang ujung-ujungnya sudah mulai terurai, menatap sebuah benda yang tergeletak di depannya seperti bangkai sejarah: dompet kulit cokelatnya.
Dompet itu adalah sisa kemewahan dari masa lalunya di kota. Mereknya ternama, kulitnya asli, namun kini permukaannya telah mengelupas hebat di bagian lipatan, menyerupai sisik ular yang gagal berganti kulit. Aris mengembuskan napas panjang, sebuah tarikan napas yang membawa aroma minyak kayu putih dan debu buku lama. Dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah sedang melakukan otopsi pada jantungnya sendiri, ia membuka lipatan dompet itu.
Tidak ada lembaran uang berwarna merah atau biru yang menyambutnya. Saku utamanya kosong melompong, hanya menyisakan butiran debu dan aroma samar dari uang kertas yang sudah lama berpindah tangan. Aris mengeluarkan isinya satu per satu, menjejerkan benda-benda itu di atas tikar seolah sedang melakukan inventarisasi atas kegagalan hidupnya.
Benda pertama adalah kartu mahasiswa dari universitas ternama di ibu kota. Di sana, wajah Aris yang lebih muda tiga tahun menatapnya dengan binar mata yang penuh kemenangan. Aris dalam foto itu mengenakan jas almamater kebanggaan, rambutnya tertata rapi dengan potongan undercut yang modis, dan senyumnya memancarkan keyakinan bahwa dunia berada di bawah telapak kakinya. Aris teringat masa itu—masa ketika ia menjadi lulusan terbaik fakultas ekonomi, masa ketika tawaran kerja dari perusahaan multinasional mengalir seperti air bah ke surelnya.
"Lulusan terbaik," bisik Aris getir. "Lulusan terbaik yang kini harus menghitung butir beras pemberian siswanya sendiri."
Benda kedua adalah sebuah struk makan malam di sebuah restoran fine dining tertanggal dua tahun lalu. Tulisan di kertas termal itu sudah sangat memudar, namun Aris masih bisa membaca angka di bagian totalnya—angka yang setara dengan dua bulan honornya sebagai guru di Margotulus saat ini. Struk itu adalah kenangan dari perayaan ulang tahun ayahnya, sesaat sebelum badai menghantam keluarga mereka. Ia ingat aroma steak premium dan denting gelas kristal malam itu. Ia ingat tawa ayahnya yang bangga, mengira bahwa kerajaan bisnis properti mereka akan abadi.
Lalu, Aris merogoh saku tersembunyi di balik tempat kartu. Jemarinya menyentuh selembar foto kecil berukuran dua kali tiga. Ia menariknya keluar dengan tangan yang sedikit gemetar. Foto itu menampilkan seorang wanita dengan gaun putih, berdiri di samping Aris di depan sebuah air mancur kota. Namanya Elena. Wanita yang pernah berjanji untuk menemani Aris dalam keadaan apa pun, namun ternyata "apa pun" itu memiliki batas ambang toleransi saldo bank.
Ketika perusahaan ayah Aris dinyatakan pailit karena skandal penggelapan oleh rekan bisnisnya—skandal yang membuat ayah Aris jatuh stroke dan harta benda mereka disita negara—Elena adalah orang pertama yang menghilang. Bukan karena ia jahat, Aris menyadari itu sekarang, tapi karena Elena adalah makhluk yang dirancang untuk hidup dalam ekosistem kemakmuran. Tanpa itu, dia layu dan mencari tanah yang lebih subur.
Aris menatap foto Elena cukup lama. Ia tidak merasakan benci lagi, hanya sebuah lubang kosong yang kini sudah tertutup oleh debu Margotulus. Luka itu sudah mengering, namun bekasnya masih terasa nyeri setiap kali cuaca menjadi dingin. Margotulus adalah pelariannya. Tempat di mana tidak ada yang mengenalnya sebagai "Anak Koruptor" atau "Sarjana Gagal". Di sini, ia hanya Pak Aris, guru ekonomi yang kemejanya lecek.
Namun, di antara semua benda mati itu, ada satu benda yang paling menyakitkan bagi Aris: sebuah jam tangan perak peninggalan kakeknya yang ia selipkan di saku jaket yang digantung di pojok kamar. Jam itu sudah mati, jarum detiknya terpaku di angka dua belas. Jam itu adalah satu-satunya benda berharga yang tidak disita karena kakeknya memberikannya secara pribadi sebelum meninggal.
Aris mengambil jam tangan itu, merasakan dinginnya logam perak di telapak tangannya. Ia tahu, besok adalah batas akhir pembayaran obat tambahan untuk ayah Bima dan kebutuhan iuran "pajak" Kepala Sekolah yang gila itu. Gaji yang ditunda telah memaksanya ke sudut yang paling gelap. Ia harus memilih: menjaga satu-satunya kenangan fisik tentang martabat keluarganya, atau menjaga perutnya dan janji pada Bima.
"Ekonomi adalah soal biaya peluang," gumam Aris, suaranya pecah di kesunyian kamar. "Apa yang kamu korbankan untuk mendapatkan sesuatu yang lain."
Ia membayangkan wajah Bima saat memeluk seragam barunya. Ia membayangkan mata Gita yang lelah namun penuh pengertian saat mereka berbagi mi instan tadi pagi. Ia menyadari bahwa di Margotulus, martabat tidak lagi diukur dari jam tangan perak atau saldo bank, melainkan dari seberapa jauh seseorang berani berkorban untuk manusia lain.
Aris meletakkan jam tangan itu di atas tikar, tepat di samping kartu mahasiswanya. Ia merasa seolah sedang melihat dua versi dirinya yang sedang bertarung. Aris yang dulu ingin menaklukkan pasar saham, dan Aris yang sekarang hanya ingin melihat seorang kuli panggul lulus sekolah.
Luka lama di dompet kosongnya itu bukan hanya soal uang yang hilang, tapi soal identitas yang terkelupas. Aris teringat malam ketika ia harus mengemasi barang-barangnya dari apartemen mewah dan pindah ke kontrakan ini. Ia teringat tatapan kasihan dari teman-temannya yang dulu memujanya. Di Margotulus, ia mencoba membangun identitas baru, namun dompet kosong itu selalu menjadi pengingat bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya bersembunyi di balik lipatan kulit yang mengelupas.
Tiba-tiba, suara notifikasi pesan masuk dari ponselnya yang terletak di pojok kasur memecah lamunannya. Ia merangkak sedikit untuk meraihnya. Pesan dari Gita.
Gita: "Aris, aku tahu besok kamu pasti bingung soal iuran itu. Jangan jual apa pun yang berharga bagimu. Aku punya tabungan sedikit dari hasil jualan kerupuk di pasar minggu lalu. Pakai itu dulu."
Aris tertegun. Bagaimana Gita bisa tahu? Apakah kemiskinannya sudah begitu transparan di wajahnya? Ataukah karena mereka memang memiliki frekuensi luka yang sama sehingga bisa mencium aroma penderitaan dari jarak jauh?
Aris menatap layar ponselnya, jemarinya ragu untuk mengetik balasan. Ia merasa tersentuh, namun sekaligus merasa harga dirinya sedikit terusik. Ia adalah pria yang ingin menjadi perisai, bukan yang berlindung di balik punggung wanita yang juga sedang menderita.