Sore itu, SMA Negeri 1 Margotulus tampak seperti sebuah reruntuhan peradaban yang sedang menunggu untuk ditelan oleh bayang-bayang bukit kapur. Cahaya matahari yang menyisir cakrawala tidak lagi memberikan kehangatan, melainkan warna jingga kemerahan yang pekat—warna yang mengingatkan Aris pada karat yang menggerogoti tiang-tiang selasar sekolah. Semua siswa telah pulang, menyisakan keheningan yang janggal, hanya sesekali dipecah oleh suara kepakan sayap burung sriti yang bersarang di langit-langit gedung perpustakaan yang lapuk.
Aris berjalan menyusuri selasar dengan langkah pelan. Pergelangan tangannya masih terasa ringan tanpa beban jam tangan peraknya, namun hatinya merasa lebih berisi setelah pagi tadi ia menyelesaikan "utang martabat" kepada Bu Lastri. Ia tidak langsung menuju parkiran motor. Langkahnya seolah ditarik oleh daya magnetis menuju bangku kayu panjang di depan ruang guru honorer—tempat favorit Gita untuk menghirup udara sore sebelum ia benar-benar meninggalkan sekolah.
Benar saja, Gita ada di sana. Ia sedang duduk bersandar, menatap jauh ke arah barisan pohon jati yang meranggas di lereng bukit. Di pangkuannya, sebuah buku catatan kecil dengan sampul kulit hitam yang sudah retak-retak tergeletak terbuka. Ia tidak sedang membaca; ia hanya membiarkan angin sore membolak-balik halaman kertas yang sudah menguning itu.
"Belum pulang, Gita?" Aris menyapa, suaranya rendah agar tidak merusak keheningan yang sedang dibangun wanita itu.
Gita menoleh sedikit, kacamatanya memantulkan cahaya senja, menyembunyikan ekspresi matanya selama beberapa detik. "Menikmati sisa oksigen di sini sebelum aku harus kembali ke pengapnya kamar kos, Aris. Kamu sendiri? Bukankah pahlawan ekonomi kita biasanya langsung melesat pulang setelah tugas mulianya selesai?"
Aris tersenyum kecil. Ia duduk di ujung bangku yang sama, menjaga jarak sopan namun cukup dekat untuk bisa mendengar deru napas Gita yang tenang. "Pahlawan ekonomi itu sedang pensiun sementara. Hari ini aku hanya seorang guru honorer yang merasa... sedikit asing dengan dirinya sendiri."
Gita menutup buku catatannya dengan bunyi plap yang pelan. Ia menoleh sepenuhnya ke arah Aris. "Itu karena kamu baru saja melepaskan sesuatu yang mengikatmu pada masa lalu, kan? Aku melihat pergelangan tanganmu. Jam itu... itu satu-satunya benda yang membuatmu terlihat seperti orang kota yang tersesat di sini. Sekarang, kamu terlihat murni seperti kita semua: orang-orang yang hanya punya hari ini."
Aris terdiam. Pengamatan Gita selalu setajam pisau bedah. "Memang benar. Tapi anehnya, aku tidak merasa kehilangan. Aku justru merasa... bebas."
Gita mendengus, namun bukan dengusan sinis. Itu adalah dengusan pengertian. "Kebebasan di Margotulus adalah kemewahan yang pahit, Aris. Kita bebas karena kita tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Tapi pertanyaannya, setelah kamu bebas, kamu mau apa? Tetap di sini sampai kulitmu mengering seperti daun jati itu?"
Pertanyaan itu memicu sesuatu di dalam benak Aris. Sesuatu yang sudah lama ingin ia tanyakan namun selalu ia simpan karena takut menyinggung dinding privasi Gita yang tebal. "Gita, boleh aku bertanya satu hal yang pribadi? Sebenarnya, kenapa kamu masih bertahan di sini? Dengan kemampuan bahasa Inggrismu, dengan ketajaman pikiranmu... kamu bisa ada di mana saja. Di Jakarta, di sekolah internasional, atau bahkan di luar negeri. Tapi kamu memilih membusuk di ruang pengap itu bersama aku dan Sugeng. Kenapa?"
Gita tidak segera menjawab. Ia kembali menatap barisan pohon jati. Suasana menjadi sangat sunyi, hingga suara gesekan daun kering di lantai selasar terdengar seperti bisikan rahasia. Gita merogoh tasnya, mengeluarkan selembar kertas yang sudah dilipat rapi hingga membentuk persegi kecil. Ia menyerahkannya pada Aris.
"Baca itu," perintahnya singkat.
Aris membuka lipatan kertas itu. Itu adalah sebuah surat resmi, dikirim dari sebuah lembaga pendidikan elit di Surabaya. Surat penawaran kerja sebagai kepala departemen bahasa dengan gaji yang jumlah nolnya membuat mata Aris berdenyut. Tanggal di surat itu menunjukkan bahwa tawaran itu dikirim dua bulan yang lalu.
"Kamu menolaknya?" Aris bertanya, hampir tidak percaya.
"Aku mengabaikannya," sahut Gita datar. "Itu bukan yang pertama. Setiap tahun, mereka selalu mencoba menarikku kembali. Mereka pikir aku adalah komoditas yang hanya perlu ditawar dengan harga yang lebih tinggi setiap musim."
Aris melipat kembali surat itu, mengembalikannya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Kenapa, Gita? Bukankah itu yang diinginkan semua orang di tempat ini? Jalan keluar?"
Gita menghela napas panjang. Ia membuka buku catatan hitamnya lagi, membolak-balik halaman hingga sampai ke sebuah foto yang diselipkan di bagian tengah. Ia menunjukkan foto itu pada Aris. Foto seorang gadis kecil yang tersenyum lebar mengenakan seragam SD yang kebesaran, berdiri di depan sebuah gerbang sekolah yang sangat mewah.
"Itu adikku," bisik Gita. "Namanya Maya. Dia cerdas, jauh lebih cerdas dariku. Kami berasal dari keluarga guru yang idealis. Ayahku mengajar di sekolah elit itu dulu. Kami pikir, pendidikan adalah tangga menuju martabat. Tapi di sekolah elit itu, tangga itu hanya untuk mereka yang sepatunya tidak berlumpur."
Gita berhenti sejenak, tenggorokannya tampak bergerak naik turun menahan emosi yang mulai meluap. "Ayahku menemukan kecurangan dalam sistem penerimaan siswa baru—permainan uang di balik kursi-kursi jabatan. Dia mencoba menjadi pahlawan, persis seperti yang kamu lakukan pagi ini. Dia melaporkannya ke yayasan. Hasilnya? Dia difitnah melakukan pelecehan, karakternya dihancurkan, dan dia dipecat secara tidak hormat. Sebulan kemudian, dia meninggal karena serangan jantung di tengah tekanan publik yang kejam."