Catatan Dari Bangku Belakang

kutipan.izs
Chapter #15

BAB 15: UJIAN MENDADAK: PENGAWAS DARI IBU KOTA

Pagi itu, SMA Negeri 1 Margotulus tidak terbangun dalam ketenangan yang biasanya. Sejak fajar menyingsing, udara di sekitar gedung sekolah sudah dipenuhi oleh aroma cat murah yang menyengat dan bau pembersih lantai yang tajam. Pak Kepala Sekolah, dengan wajah yang lebih merah dari biasanya dan keringat yang mengucur deras membasahi seragam dinas cokelatnya, tampak mondar-mandir di lapangan upacara seperti jenderal yang sedang menunggu inspeksi pasukan di tengah medan perang yang hampir kalah. Semua orang diinstruksikan untuk bergerak cepat; tembok-tembok yang mengelupas ditutup paksa dengan spanduk-spanduk motivasi digital yang baru dicetak, dan rumput liar di pinggir lapangan dipangkas habis hingga menyisakan tanah gersang yang berdebu.

Penyebab kegilaan ini adalah sebuah nota dinas elektronik yang masuk ke sistem pusat sekolah semalam suntuk: Audit Lapangan Transformasi Digital 2026. Pengawas dari dinas pendidikan pusat, yang sering disebut-sebut sebagai "Algojo Data", dijadwalkan tiba pukul sembilan pagi.

Aris berdiri di selasar, memandangi kekacauan itu dengan perasaan mual yang samar. Di tangannya, ia memegang tumpukan berkas yang ia usahakan tetap rapi, meski jemarinya sedikit gemetar. Ia melirik ke arah "Inner Sanctum". Di sana, Gita sedang sibuk menyembunyikan teko listrik berkerak dan sisa bungkus mi instan ke dalam lemari besi tua yang kuncinya sudah rusak.

"Sembunyikan semuanya, Aris," desis Gita saat Aris masuk ke ruangan. "Jangan biarkan mereka melihat realitas kita. Mereka datang bukan untuk melihat manusia, mereka datang untuk melihat angka. Jika mereka menemukan jejak 'kemiskinan' di ruangan ini, nilai akreditasi kita akan hancur, dan itu berarti alasan sempurna bagi mereka untuk memotong anggaran lebih dalam lagi."

Aris membantu Gita mendorong tumpukan buku tua ke sudut yang paling gelap. "Ini gila, Gita. Kita sedang melakukan sandiwara besar. Pak Kepala Sekolah bahkan menyuruh penjaga sekolah mengecat bangku taman yang kakinya sudah patah. Apakah mereka benar-benar tidak akan sadar kalau ini semua palsu?"

Gita berhenti sejenak, menatap Aris dengan pandangan yang sangat dingin namun penuh pengertian. "Mereka ingin dibohongi, Aris. Birokrasi pusat itu seperti penonton teater yang sudah membayar mahal; mereka tahu itu akting, tapi mereka akan marah jika dekorasinya terlihat murahan. Tugas kita hari ini adalah memastikan Bima tidak terlihat seperti kuli panggul, dan kita tidak terlihat seperti guru yang kelaparan."

Tepat pukul sembilan, sebuah mobil SUV hitam mengkilap dengan pelat nomor kementerian memasuki gerbang sekolah. Kendaraan itu tampak seperti benda asing dari masa depan yang terdampar di planet yang salah. Debu Margotulus segera menyelimuti bodi mobil yang licin itu, seolah-olah tanah desa ini sedang mencoba menandai wilayahnya terhadap kemewahan yang angkuh.

Tiga orang turun dari mobil tersebut. Pemimpinnya adalah seorang pria paruh baya dengan kacamata berbingkai emas dan sebuah tablet canggih yang terpasang di lengan bawahnya—sebuah perangkat wearable yang menunjukkan status sinkronisasi data secara real-time. Di belakangnya, dua asisten muda dengan kemeja putih tanpa cela mengikuti sambil membawa pemindai laser untuk memeriksa infrastruktur digital kelas.

Pak Kepala Sekolah menyambut mereka dengan bungkukan yang terlalu rendah, hampir menyentuh aspal. Suara tawanya yang dibuat-buat terdengar sangat menyedihkan di telinga Aris.

"Selamat datang, Bapak Pengawas Utama. Suatu kehormatan bagi Margotulus," ujar Pak Kepala Sekolah dengan suara yang bergetar.

Sang Pengawas, yang namanya tertera di emblem sebagai Dr. Setiadi, tidak banyak tersenyum. Ia mematikan layar tabletnya sejenak dan menatap sekeliling dengan pandangan analitis. "Langsung saja, Pak Kepala Sekolah. Saya ingin melihat implementasi Portofolio Digital di kelas XI-IPS 2. Berdasarkan data di server pusat, kelas itu menunjukkan anomali waktu belajar yang sangat menarik. Beberapa siswa mengunggah tugas pada pukul tiga dini hari secara konsisten. Saya ingin memvalidasi apakah ini bentuk dedikasi atau malfungsi sistem."

Jantung Aris seolah berhenti berdetak. Kelas XI-IPS 2 adalah kelasnya. Dan siswa yang mengunggah tugas pukul tiga pagi itu pasti Bima—satu-satunya waktu di mana Bima mendapatkan sinyal di pinggiran pasar setelah selesai bekerja.

Aris dan Gita saling bertukar pandang cemas. "Jangan biarkan mereka menginterogasi Bima terlalu dalam," bisik Gita saat mereka berjalan mengikuti rombongan menuju kelas.

Saat mereka memasuki kelas XI-IPS 2, suasana di dalam ruangan itu sangat tegang. Para siswa duduk dengan punggung tegak, tangan di atas meja, dan wajah yang tampak ketakutan. Di barisan belakang, Bima duduk dengan seragam putih barunya. Ia tampak bersih, namun lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan sepenuhnya oleh cahaya lampu neon kelas yang baru saja diganti.

Dr. Setiadi berjalan di antara barisan meja, membiarkan asistennya memindai kode QR yang tertempel di setiap pojok ruangan. Ia berhenti tepat di depan meja Bima. Aris merasa tenggorokannya kering.

"Siswa Bima Aditia," ujar Dr. Setiadi sambil membaca profil di tabletnya. "Data Anda menunjukkan bahwa Anda menyelesaikan modul Ekonomi Makro pada hari Selasa pukul 03.15 WIB. Lalu modul Matematika pada hari Kamis pukul 02.45 WIB. Bisa jelaskan mengapa Anda memilih jam-jam tersebut untuk berinteraksi dengan server pendidikan? Apakah Anda mengalami gangguan tidur atau sekolah ini menerapkan metode asynchronous yang sangat ekstrem?"

Bima menatap Dr. Setiadi dengan mata yang melebar. Ia melirik ke arah Aris, mencari pegangan. Aris tahu, jika Bima jujur dan mengatakan bahwa ia baru pulang dari pasar mengangkut karung beras, audit ini akan berubah menjadi investigasi eksploitasi anak, dan beasiswa atau status bantuan sekolah untuk Bima bisa dicabut karena dianggap "tidak fokus pada pendidikan".

"Bapak Pengawas, jika saya boleh menjelaskan," Aris melangkah maju, memposisikan dirinya di samping Bima.

Dr. Setiadi mengangkat satu jari, menghentikan kalimat Aris. "Saya ingin mendengar langsung dari siswa, Pak Aris. Data digital bersifat objektif, tapi saya butuh konteks manusiawi untuk laporan naratif saya."

Bima menelan ludah. Tangannya yang kasar meremas pinggiran celananya. "Itu... itu karena sinyal, Pak," jawab Bima dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"Sinyal? Bukankah Margotulus sudah ter-cover jaringan 4G penuh menurut peta infrastruktur kementerian?" Dr. Setiadi menaikkan alisnya, tampak sangsi.

Lihat selengkapnya