Pagi itu, Margotulus tidak lagi terasa seperti pelabuhan yang tenang setelah badai pengawas berlalu. Sebaliknya, udara di SMA Negeri 1 Margotulus justru terasa statis, pengap oleh kecurigaan yang merayap di sela-sela dinding yang baru saja dicat. Aris melangkah melewati gerbang sekolah dengan perasaan yang aneh—sebuah intuisi purba yang mengatakan bahwa kemenangan kecilnya kemarin hanyalah ketenangan sesaat sebelum sebuah pengkhianatan dari dalam mulai bekerja. Ia masih mengenakan kemeja putihnya yang paling rapi, namun ia menyadari bahwa pandangan mata orang-orang yang ia lewati telah berubah.
Di ruang guru utama, suasana tidak lagi dipenuhi oleh hiruk-pikuk keluhan tentang aplikasi digital. Sebaliknya, ada keheningan yang bersifat kolektif, sebuah kesunyian yang tajam saat Aris melangkah masuk untuk meletakkan buku absen. Para guru senior, yang biasanya sibuk mengunyah gorengan atau berdebat soal kenaikan pangkat, mendadak berhenti bicara. Bu Lastri, bendahara sekolah yang biasanya ramah karena Aris baru saja melunasi iuran, kini menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk dengan tumpukan kuitansi yang sebenarnya sudah rapi.
Aris merasakan gesekan atmosfer yang tidak nyaman. Ia melirik ke arah meja Pak Sugeng. Guru olahraga itu sedang duduk bersandar, kedua tangannya terlipat di depan dada yang bidang, dan matanya yang kecil menatap Aris dengan intensitas yang tidak menyembunyikan rasa permusuhan. Di meja Pak Sugeng, tergeletak sebuah benda yang membuat jantung Aris seolah berhenti berdetak sesaat: sebuah kantong plastik transparan berisi struk toko emas dari kabupaten.
Aris segera membuang muka, mencoba menjaga langkahnya tetap stabil menuju "Inner Sanctum". Di dalam ruang guru honorer, ia menemukan Gita sedang berdiri di dekat jendela, menatap ke arah lapangan dengan punggung yang kaku. Gita tidak menyapa, namun tangannya yang memegang gelas kopi terlihat sedikit gemetar.
"Aris," panggil Gita tanpa menoleh. Suaranya serendah bisikan, namun penuh dengan urgensi. "Kita dalam masalah besar. Sugeng pergi ke kabupaten sore kemarin. Dia tidak hanya pulang membawa rokok. Dia membawa desas-desus bahwa seorang guru honorer miskin di sekolah ini baru saja menjual perhiasan berharga untuk menyogok sistem audit."
Aris terpaku di ambang pintu. "Menyogok? Aku menjual jam tanganku untuk membayar iuran sekolah dan obat ayah Bima, Gita! Bagaimana bisa itu diputarbalikkan menjadi sogokan?"
Gita akhirnya berbalik. Wajahnya pucat, lingkaran hitam di bawah matanya tampak lebih jelas di bawah cahaya pagi yang pucat. "Di Margotulus, kebenaran adalah apa pun yang paling enak didengar saat digosipkan di kantin. Sugeng merasa otoritasnya dilewati saat audit kemarin. Dia merasa kita mempermalukannya di depan Dr. Setiadi. Sekarang, dia membangun narasi bahwa kamu 'membeli' kesuksesan audit itu agar Bima tidak dikeluarkan, dan sebagai imbalannya, kamu mendapatkan 'keistimewaan' dari Kepala Sekolah."
"Itu tidak masuk akal, Gita! Kepala Sekolah sendiri yang menekan kita!" Aris menghantamkan tasnya ke meja kayu dengan kesal.
"Logika tidak berlaku bagi orang yang merasa iri, Aris," sahut Gita pahit. "Guru-guru senior mulai bertanya-tanya: dari mana kuli panggul seperti Bima bisa punya seragam baru yang mahal? Kenapa Pak Aris begitu rajin ke rumah Bima di malam hari? Mereka mulai mencurigai ada 'hubungan yang tidak wajar' atau pencucian uang dana BOS yang kamu kelola secara sembunyi-sembunyi. Retakan ini sudah dimulai, dan Sugeng sedang memasukkan linggisnya ke sana untuk menghancurkan kita."
Aris terduduk di kursinya yang bergoyang. Ia menatap langit-langit yang bocor, menyadari bahwa musuh sejatinya bukanlah Dr. Setiadi yang dingin atau server kementerian yang buta, melainkan kedengkian dari orang-orang yang duduk hanya beberapa meter dari ruangannya. Di sekolah yang serba kekurangan ini, kebaikan hati seseorang sering kali dianggap sebagai ancaman bagi mereka yang sudah nyaman dalam kemalasan dan ketidakpedulian.
Konflik ini memuncak saat jam istirahat pertama. Aris baru saja selesai mengajar di kelas X, dan saat ia melewati koridor belakang menuju kantin untuk membeli air mineral, sebuah tangan besar mencengkeram bahunya dengan kasar. Ia dipaksa berbalik dan berhadapan langsung dengan wajah merah padam Pak Sugeng. Di belakang Pak Sugeng, berdiri dua guru senior lainnya yang tampak sebagai pengamat yang pasif namun menghakimi.
"Mas Aris, ikut saya ke gudang. Ada yang perlu kita bicarakan sebagai sesama 'pendidik'," ujar Pak Sugeng dengan nada yang sarat akan sarkasme.
Aris tidak punya pilihan selain mengikuti. Mereka sampai di gudang olahraga—tempat yang sama di mana Aris pertama kali menemukan luka di punggung Bima. Ironinya terasa seperti tamparan. Di ruangan yang pengap itu, di antara bau karet bola yang kempis dan debu matras, Pak Sugeng melemparkan struk toko emas itu ke dada Aris.
"Jelaskan ini, Mas Aris. Toko Emas 'Murni Jaya' di kabupaten. Transaksi jam tangan antik. Uang jutaan rupiah. Di hari yang sama saat Mas Aris tiba-tiba punya uang untuk melunasi iuran dan Bima punya seragam baru yang kinclong," gertak Pak Sugeng.
Aris menarik napas panjang, mencoba memanggil sisa-sisa ketenangannya. "Itu jam tangan peninggalan kakek saya, Pak Sugeng. Saya menjualnya karena saya butuh uang. Bukankah itu hak pribadi saya?"
"Hak pribadi?" Pak Sugeng tertawa, suara tawanya kering dan menjijikkan. "Di sekolah ini, kalau guru honorer yang gajinya macet tiba-tiba punya uang tunai sebanyak itu, itu bukan hak pribadi, itu mencurigakan! Mas Aris menyogok pengawas itu, kan? Mas Aris ingin terlihat sebagai pahlawan digital supaya jabatan Mas Aris aman? Atau jangan-jangan, Mas Aris ini sedang 'memelihara' Bima untuk kepentingan lain?"
Mendengar tuduhan keji tentang hubungannya dengan Bima, Aris merasakan darahnya mendidih. "Jaga mulut Anda, Pak Sugeng! Bima itu siswa saya. Dia hampir putus sekolah karena kemiskinan yang Anda dan guru-guru lain abaikan selama bertahun-tahun! Saya membantunya dengan uang saya sendiri, bukan uang sekolah, bukan uang sogokan!"
"Halah! Jangan sok suci!" Pak Sugeng melangkah maju, memangkas jarak hingga Aris bisa mencium bau rokok dari napasnya. "Mas Aris baru datang sebulan, sudah mau merusak tatanan di sini. Di Margotulus, siswa yang tidak mampu itu ya harus tahu diri. Kalau tidak bisa sekolah, ya keluar. Jangan dipaksa-paksa sampai guru-gurunya harus mengemis atau menjual harta. Mas Aris itu guru Ekonomi, kan? Harusnya tahu kalau investasi pada anak pasar itu rugi total! Dia itu sampah, Mas. Dan Mas Aris hanya sedang memoles sampah supaya terlihat seperti emas di depan orang dinas."
"Dia bukan sampah! Dia manusia!" teriak Aris. "Dan jika sekolah ini menganggap seorang siswa berbakat sebagai sampah hanya karena dia miskin, maka sekolah inilah yang sampah!"
Plak!
Pak Sugeng menghantamkan tangannya ke meja kayu di samping Aris, membuat debu beterbangan ke udara. "Berani sekali kamu bicara begitu pada senior! Kamu itu cuma honorer bau kencur! Sekali saya bicara pada Kepala Sekolah bahwa kamu melakukan gratifikasi kepada pengawas, besok kamu sudah jadi gelandangan di jalanan kabupaten!"
Konfrontasi itu berakhir dengan ancaman yang menggantung di udara. Aris meninggalkan gudang dengan tubuh yang gemetar karena amarah dan penghinaan. Ia kembali ke "Inner Sanctum" dan menemukan Gita sedang duduk dengan kepala tertelungkup di atas meja. Ruangan itu terasa lebih dingin dari biasanya.
"Dia sudah mengancammu?" tanya Gita tanpa mengangkat kepalanya.
"Dia tahu soal jam tangan itu, Gita. Dia menuduhku menyogok pengawas. Dia bahkan menghina Bima dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang pendidik," jawab Aris, suaranya parau.