Udara di dalam ruang rapat komite SMA Negeri 1 Margotulus terasa seberat timah yang baru saja dicairkan. Ruangan itu terletak di sudut paling tenang dari gedung utama, sebuah tempat yang jarang digunakan kecuali untuk memutuskan nasib-nasib besar: kenaikan sumbangan pendidikan, kontrak pengadaan barang, atau pemecatan guru. Di tengah ruangan, sebuah meja jati besar yang permukaannya dipelitur hingga mengkilap berdiri angkuh, memantulkan bayangan wajah-wajah yang duduk mengitarinya. Di atas meja itu, beberapa gelas kopi hitam yang sudah mendingin meninggalkan noda lingkaran gelap, seolah-olah waktu sendiri telah berhenti berputar sejak pertemuan ini dimulai.
Aris duduk di salah satu kursi kayu yang sandarannya terasa terlalu tegak, seolah kursi itu dirancang untuk memastikan siapa pun yang duduk di sana merasa tidak nyaman. Di sampingnya, Gita duduk dengan punggung yang tak kalah kaku, tangannya terlipat di atas pangkuan, menggenggam sebuah map cokelat yang berisi amunisi terakhir mereka. Di pojok ruangan, sedikit terpisah dari meja utama, Bima duduk di kursi plastik. Ia tampak begitu kecil dalam balutan seragam putih barunya, tangannya yang kasar meremas lututnya sendiri hingga buku-bukunya memutih.
Di hadapan mereka, duduklah jajaran "hakim" Margotulus: Pak Kepala Sekolah yang tampak gelisah, tiga orang perwakilan komite sekolah yang terdiri dari tokoh masyarakat setempat yang mengenakan batik rapi, Bu Lastri yang tertunduk lesu, dan tentu saja, Pak Sugeng. Pak Sugeng hari ini tampak seperti seekor singa yang baru saja menemukan mangsa yang terpojok; ia bersandar dengan angkuh, matanya yang kecil menatap Aris dengan kebencian yang sudah mendarah daging.
"Pertemuan ini dibuka," ujar Pak Kepala Sekolah, suaranya parau, seolah-olah ia sedang memaksakan setiap kata keluar dari tenggorokannya. "Kita berkumpul di sini untuk mengklarifikasi berbagai laporan mengenai ketidakwajaran prosedur dalam pembinaan siswa Bima Aditia, serta dugaan gratifikasi dan manipulasi data yang melibatkan saudara Aris sebagai guru honorer ekonomi."
Pak Sugeng segera mengambil alih kendali pembicaraan sebelum Aris sempat bernapas. Ia membanting tumpukan kertas ke atas meja jati itu dengan bunyi brak yang menggema.
"Bapak-bapak komite yang terhormat," Pak Sugeng memulai, suaranya dibuat-buat berat dan penuh wibawa palsu. "Sekolah kita ini dibangun di atas fondasi kedisiplinan dan keadilan bagi semua. Namun, belakangan ini, ada oknum guru baru yang mencoba merusak tatanan itu. Saudara Aris secara sepihak memberikan perlakuan istimewa kepada Bima. Memberikan barang-barang mewah seperti seragam dan sepatu baru, membayarkan iuran dengan uang yang sumbernya tidak jelas, dan yang paling parah, memanipulasi data audit kementerian seolah-olah Bima adalah siswa teladan, padahal kita semua tahu dia hanya seorang kuli pasar yang sering bolos."
Salah satu anggota komite, seorang pria tua dengan kacamata tebal, menoleh ke arah Aris. "Apakah benar Anda memberikan barang-barang itu secara pribadi, Saudara Aris? Mengapa tidak melalui prosedur beasiswa sekolah yang sah?"
Aris menarik napas panjang. Ia merasakan dorongan adrenalin yang dingin mengalir di pembuluh darahnya. Ia tidak lagi merasa takut. Rasa takut itu sudah habis terjual bersama jam tangan peraknya di kabupaten.
"Benar, Pak. Saya memberikan barang-barang itu secara pribadi," jawab Aris, suaranya tenang dan stabil, kontras dengan ledakan emosi Pak Sugeng. "Saya tidak menggunakan prosedur beasiswa sekolah karena saya tahu persis bahwa prosedur itu macet. Bima butuh bantuan hari itu juga, bukan enam bulan lagi setelah rapat koordinasi kabupaten selesai. Jika saya menunggu sistem, Bima mungkin sudah putus sekolah minggu lalu."
"Tapi uangnya dari mana?" sela anggota komite lainnya dengan nada curiga. "Pak Sugeng melaporkan bahwa Anda menjual perhiasan antik di kabupaten tepat sebelum audit. Muncul kecurigaan bahwa Anda mendapatkan dana dari pihak luar untuk melakukan 'pencitraan' digital di sekolah ini agar posisi honorer Anda aman."
Pak Sugeng tersenyum miring, seolah ia baru saja mencetak gol kemenangan.
Aris melirik ke arah Gita. Gita memberikan anggukan kecil, lalu ia membuka map cokelat yang sedari tadi ia pegang. Gita mengeluarkan selembar kertas—kuitansi asli dari Toko Emas 'Murni Jaya'—dan meletakkannya di tengah meja jati itu.
"Ini adalah bukti penjualannya," ujar Gita, suaranya tajam dan jernih, membelah kebisingan prasangka di ruangan itu. "Kuitansi ini mencantumkan nama Aris sebagai penjual. Barang yang dijual adalah jam tangan perak peninggalan keluarga. Total uang yang diterima adalah satu juta dua ratus ribu rupiah. Uang itulah yang digunakan Aris untuk membeli seragam Bima, membayar iuran wajib Kepala Sekolah yang ditagihkan secara mendadak, dan membeli obat untuk ayah Bima yang lumpuh."
Ruangan itu mendadak sunyi. Beberapa anggota komite saling berpandangan. Tuduhan "dana luar" atau "gratifikasi" mendadak terasa sangat murahan di hadapan bukti pengorbanan pribadi yang begitu nyata.
"Satu juta dua ratus ribu?" gumam Bu Lastri pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tahu persis berapa gaji Aris yang tertunda, dan ia tahu berapa harga yang harus dibayar untuk sebuah pengabdian.
Namun Pak Sugeng tidak menyerah. Ia merasa posisinya terancam oleh rasa simpati yang mulai tumbuh di ruangan itu. "Tetap saja! Itu melanggar kode etik! Guru tidak boleh memiliki hubungan finansial pribadi dengan siswa! Itu menciptakan kecemburuan! Dan bagaimana soal manipulasi audit? Anda menyebut Bima melakukan 'Kinesthetic Learning' di depan pengawas, padahal Anda hanya menutupi fakta bahwa dia kuli panggul!"
Aris berdiri. Ia tidak tahan lagi hanya duduk dan bertahan. Ia berjalan mendekati Bima, lalu meminta Bima untuk berdiri.
"Bapak-bapak komite yang terhormat, Bapak Kepala Sekolah, dan Pak Sugeng yang terhormat," Aris memulai, kini ia berdiri di tengah ruangan, seolah-olah meja jati itu adalah podium kebenaran. "Anda bicara soal kode etik? Mari kita bicara soal kode etik manusia. Di depan Anda berdiri Bima. Siswa dengan nilai matematika tertinggi di angkatannya. Dia bukan hanya kuli panggul; dia adalah tulang punggung keluarga karena ayahnya lumpuh akibat sistem kerja yang juga tidak mengenal perlindungan."
Aris menoleh ke arah Pak Sugeng. "Anda menyebutnya manipulasi? Saya menyebutnya perlindungan. Jika saya jujur di depan pengawas yang hanya peduli pada angka digital, Bima akan dicoret dari sistem. Dia akan kehilangan akses pendidikan. Apakah itu yang Anda inginkan? Melihat anak berbakat ini kembali ke pasar selamanya hanya karena dia miskin?"
Aris mengeluarkan satu lagi amunisi dari map Gita: sebuah foto yang diambil Aris saat ia mengobati punggung Bima di gudang. Ia meletakkan foto itu di depan anggota komite. Foto itu menunjukkan luka lecet dan memar kebiruan yang mengerikan di punggung seorang remaja.
"Inilah realita 'Kinesthetic Learning' yang saya ceritakan pada pengawas," suara Aris sedikit bergetar oleh amarah yang tertahan. "Punggung ini memikul karung beras seberat lima puluh kilogram setiap malam agar dia bisa duduk di kelas Anda pagi harinya. Jika Anda ingin menghukum saya karena memberikan seragam agar dia tidak dihina di lapangan upacara, silakan. Jika Anda ingin memecat saya karena saya menjual jam tangan warisan kakek saya demi obat ayahnya, silakan. Tapi jangan pernah sebut tindakan ini sebagai manipulasi. Ini adalah upaya terakhir untuk menjaga martabat pendidikan di Margotulus."