"Untuk menang kamu tidak harus pintar, hanya perlu sedikit bertaktik," ucap Ibu Serigala di meja makan berukir yang dilapisi emas.
"Apa maksud Ibu?" Sigi kecil belum sepenuhnya memahami.
"Menang bukan berarti ketika kamu berhasil menggulingkan lawan dengan tanganmu. Tapi kamu tetap bisa melihat kejatuhannya dari kejauhan."
Setelah itu, ruang makan kembali tenggelam dalam sunyi. Sesekali, suara sendok dan garpu beradu memecah keheningan. Bagaimanapun juga, Sigi bukanlah anak durhaka. Ia tidak suka membantah walau tidak suka diatur. Ia tahu watak ibunya, meski kadang ia kurang suka. Namun, sebagai anak yang tahu diri, sedikit kata iya pasti akan melegakan hati ibunya.
Ibu beranak itu tinggal di rumah mewah tuan Gala--bangunan batu terbesar di Bukit Belantara, tempat para pejabat hutan datang menundukkan kepala. Mereka sedang menikmati hidangan mewah seperti hari-hari sebelumnya. Aroma daging rusa panggang menguar menggugah selera. Di luar, pendar senja merambat di dinding batu, lalu menyelinap melalui jendela-jendela tinggi. Ketika matahari benar-benar tenggelam, Sigi menghabiskan suapan terakhirnya.
"Ayah belum pulang?" tanya Sigi.
Sri menggeleng. "Raja memanggilnya."
"sudah malam."
"Urusan negeri tidak pernah mengenal matahari."