Catatan di Perlintasan Tua

Hilaliyah Malik
Chapter #1

Rumah di Kaki Gunung

Kerongkonganku rasanya kering, penuh, dan sesak. Jalan yang naik turun sebelum sampai ke tempat ini sepertinya menimbulkan beberapa gelembung udara dari dasar perut, naik, menyundul laklakanku, dan mengganggu kenyamanku. Untuk sesaat, kukira akan muntah sebelum akhirnya berakhir menjadi sendawa. Namun, aku tak mungkin bersendawa terus kan? Apalagi jalanan di lereng bukit ini terus menikung dan berputar. Leherku tercekik sendawa.

Aku tak punya pilihan lain selain memejamkan mata. Tidak pura-pura tidur. Hanya menenangkan otakku bahwa organ itu tak perlu bingung apakah aku sedang bergerak atau tidak. Kebingungannya menyusahkanku. Aku pun hampir gila menyalahkan pengharum mobil ini atau makananku yang tak cukup sebelum aku memutuskan pergi.

“Raka, berhenti. Aku tidak kuat,” kataku.

Aku tak melihat bagaimana respon suamiku saat mengatakan itu. Mataku masih terpejam. Namun, aku merasakah laju mobil kami melambat sampai akhirnya berhenti dan hanya menggerung lirih saat parkir. Bunyi klik pengunci pintu terbuka dan segera aku tahu bahwa penderitaan atas mabuk perjalanan ini sudah berhenti, setidaknya sementara. Tangan Raka dengan cekatan membuka pengait sabuk pengamanku sehingga aku dengan leluasa menghabur ke luar.

Berlutut tepat di depan pintu mobil, aku berjaga-jaga kalau-kalau tida-tiba aku memuntahkan isi perutku. Pandangan mataku sudah hitam dan berkilauan bayang-bayang pingsan. Sialan! Untungnya tidak ada yang kukeluarkan dari mulutku. Hanya ada udara yang keluar saat aku megap-megap seperti ikan yang dikeluarkan dari dalam air. Tenggorokanku pahit.

“Jangan memaksa, Rupa,” kata Raka yang tanpa kusadari sudah berdiri menopang tubuhku dari samping. Aku tahu maksudnya. Aku tak perlu bersusah payah menyeimbangkan tubuhku, cukup menyandar padanya saja. “Bernapas,” sambungnya sambil mengurut pelan leherku di depan maupun belakang. Tentu saja aku jadi muntah.

Sisa makanan dalam perutku yang tidak seberapa menghambur keluar. Air mataku keluar otomatis bukan karena menangis. Aku ingin menangis juga sih, campuran antara kesal karena harus mengalami mabuk perjalanan, lelah, dan malu karena Rakangga melihat. Entah kenapa rasanya aku juga kesal padanya. Kesal karena tadi dia salah pijat leherku hingga aku muntah atau entah kesal karena dia harus melihat aku dalam kekacauan seperti ini. Mungkin aku kesal juga karena aku berpikir dia akan meledekku di kemudian waktu. Pokoknya aku kesal.

“Bagaimana sih?” gerutuku. Sebuah pertanyaan singkat yang mencari gara-gara. Aku punya banyak keluhan tadi yang akan terlalu panjang jika kujabarkan semua. Jadi, ya aku hanya bilang begitu.

“Rupa, diamlah. Kau mulai kesal sendiri,” sahut Raka.

Tangan Raka kemudian menuntunku kembali ke mobil. Tidak untuk masuk. Hanya agar aku duduk dan bersandar, menghadap ke arah pintu yang terbuka lebar-lebar. Sambil menungguku mengatur napas yang tidak beraturan, Raka tengak-tengok ke ujung-ujung jalan untuk entahlah, memeriksa sesuatu? Memperkirakan sejauh mana kita akan sampai? Atau sedang berpikir saja dan menyembunyikan proses berpikirnya dariku. Kepalanya yang klimis kemudian menghadapku lagi, memperhatikanku, lalu agak sedikit jongkok agar wajahnya dapat tertangkap oleh pandanganku. Diambilnya tanganku, kemudian ia memijat bagian otot antara ruas telunjuk dan ruas ibu jariku.

“Kau sudah bilang tidak akan mengeluh sejak memilih tanah di daerah seperti ini kan? Kau sadar betul kita akan sering ke sini nantinya,” kata Raka. Ya, aku memang pernah bilang begitu dulu saat dia skeptis tentang keputusanku membeli tanah dan membangun rumah di kaki Gunung Merbabu. “Atau kalau begini, kita tidak usah sering-sering ke sini saja,” sambungnya. Aku langsung panik. “Atau kau di kota saja biar sesekali aku yang berkunjung sendiri ke sini hanya untuk sekadar sapu-sapu.”

“Raka itu bukan solusi,” kataku memelas.

Dia langsung membalas cepat. “Kau tahu itu adalah solusi. Kau juga tahu betul masalahnya,” katanya. Aku cukup terbiasa memaknaii kata-kata Raka karena dia tidak akan terlalu keras untuk bilang bahwa aku menghambat. “Kacuali kau mau membantuku mengatasi itu?”

Mataku memgarinya, kesal, lalu melembut lagi. “Aku hanya kesal dan malu,” kataku lirih. “Aku takut kau jijik atau kesal pada pilihanku, atau marah.”

Lihat selengkapnya