Catatan Eri : berjalan menuju cahaya

Za Zlyn
Chapter #1

1. Asing

Asing.

Benar, segalanya terasa asing. Begitu asing malahan.

Ada yang mengatakan hal itu padanya. Bukan orang atau hal-hal berbau konteks suara.

Sesuatu yang begitu saja memasuki diri Eri. Mungkin itu roh, mungkin itu hanya praduga asal, mungkin itu sekedar paranoid tak berdasar, atau mungkin juga itu bisa jadi analisa ngeri ala detektif handal. Yang pasti intinya, Eri tidak begitu mengerti. Hal itu ada begitu saja pada dirinya. Yah, pokoknya tidak logis.

"Mungkin mereka mencoba membunuhmu, Eri."

Eri menaikkan sedikit pergelangan tangannya untuk membantu menahan sinar matahari memasuki matanya. Hasilnya, walaupun sedikit, Eri sukses melihat keberadaan si pembicara sepenuhnya. Duduk santai beralas meja belajarnya. Orang itu menatap Eri lekat-lekat. Sedangkan Eri sendiri berbaring di atas ranjang, tidak menaruh minat sama sekali pada si pembicara yang sebaya dengannya itu.

"Hah! Apa maksudmu, Erni? Jangan konyol. Dan, bisa kau turun dari mejaku!?" ucap Eri malas lalu kembali menutup matanya.

"Tapi, Eri. Mereka menceburkanmu ke kolam! Sayangnya, mereka tidak tahu kalau kau bisa berenang," ucap Erni.

"Meski begitu, aku lebih suka dikubur hidup-hidup," ucap Eri ketus sembari membalik tubuhnya menghadap tembok.

"Eri? Apa yang kau bicarakan? Aku tak paham pola pikirmu sama sekali," ucap Erni.

"Aku juga tidak tahu pola pikirmu," balas Eri.

Eri merasakan tangan Erni mencengkeram pundaknya. Membalikkan tubuhnya secara paksa. Yah, Eri hanya pasrah-pasrah saja akan hal itu.

Erni menatap mata Eri dengan lekat. Eri sendiri hanya diam. Tidak berkomentar sedikit pun.

"Mereka tidak boleh dibiarkan!" ucap Erni serius dan—mungkin juga—ada kekhawatiran disana. Ia lalu bangkit dan segera berjalan cepat menuju lantai bawah. "Aku akan bicarakan ini pada Mama."

Eri langsung bangkit duduk ketika Erni menuruni tangga. "ERNI! TAK USAH BERLEBIHAN!" erangnya. Tapi Erni masih saja terus menuruni tangga, tidak menghiraukan teriakan Eri.

Eri kembali berbaring di ranjangnya.

Meski protes pun, Eri sama sekali tidak tertarik untuk beranjak. Ia terlalu tidak bersemangat untuk bermain kejar-kejaran dengan Erni, atau apapun, atau siapapun yang ada di hidupnya saat ini.

Lihat selengkapnya