Catatan Eri : berjalan menuju cahaya

Za Zlyn
Chapter #2

2. Tanah

Masih ingat ketika Eri bilang lebih baik ia dikubur hidup-hidup daripada ia harus tenggelam? Sejujurnya, Eri bilang begitu karena ada alasannya. Yaitu karena Eri lebih menyukai tanah daripada air.

Hal yang Eri rasakan saat merebahkan dirinya ke tanah adalah keakraban. Tanah seakan-akan langsung bercerita pada Eri ini itu yang membuat Eri merasa tenang dan nyaman. Tanah bahkan seakan lebih tahu Eri dibandingkan diri Eri sendiri. Selain itu, tanah terasa selalu jujur pada Eri. Tidak pernah atau—barangkali—tidak bisa berbohong padanya. Mereka teman yang begitu akrab, sungguh.

Dari kecil, Eri memang tidak merasa dekat dengan siapa-siapa. Seperti ada yang mengemborkan peringatan keras padanya. Memang tidak rasional. Tapi itu nyatanya. Senyata peringatan-peringatan yang dengan lancang memanipulasinya. Membuat hal-hal kecil menyuruhnya untuk lari kemanapun. Yang penting mereka tidak melihatnya.

Dipikirkan lebih jauh, lagak Eri sudah seperti korban tragedi saja.

Malahan dalam beberapa tragedi itu, rasanya Eri ingin menyibak tanah untuk menyembunyikan dirinya sendiri. Dan yang Eri tahu, tanah pun tampaknya menunggu Eri melakukan itu juga. Satu hal irasional lagi yang mengelilingi diri Eri. Sungguh konyol, bukan? Berpikir seolah-olah tanah benar-benar hidup dan dapat diajak berkomunikasi bahkan membantunya bermain petak umpet.

Eri membalik tubuhnya. Berbaring di tanah terbuka, mendongakkan kepala memandang ke arah langit di atasnya.

"Kau tahu, orang-orang bilang tempat ini merepotkan. Zig-zag dengan puncak di atas dan di bawah. Tapi tampaknya, kau datar-datar saja di kakiku," ucap Eri meracau setengah gila.

Kehidupan di sekitar Eri tampak memburam. Enggan menampakkan warna-warnanya pada Eri. Waktu terus berdetak seiring jantungnya. Bisa dibilang, kesadaran Eri terlambat untuk uap air yang menyerupai awan-awan disekelilingnya. Bagai menunggu kabut merubungnya hingga tuntas untuk mengaktifkan isi otaknya dengan baik.

"Kenapa ada kabut?" Eri bertanya-tanya sembari bangun dari mode berbaringnya. Eri merasa bingung mengingat ia ada di padang tandus dibalik hutan. Selain itu, tempatnya berdiri juga masih bisa dibilang sebagai dataran rendah. Yah, kabut memang bisa muncul dimana saja. Hal ini akan tampak wajar apabila terjadi pada cuaca hujan. Bukan cuaca panas seperti hari ini.

Mengingat bahwa tanah selalu berbicara pada Eri. Setidaknya kecemasan Eri tidak terlalu mengkhawatirkan. Paling tidak, seharusnya begitu, bukan? Tapi tidak bisa dipungkiri kalau hal tersebut tampaknya menyimpan suatu ganjalan bagi Eri. Entah ganjalan itu akan berkembang menjadi perasaan apa nantinya. Pokoknya, Eri merasa tidak perlu untuk antusias dalam hal itu.

Lipatan-lipatan waktu menggulung selagi Eri merenungi makna kabut asing yang tiba-tiba muncul tersebut. Sampai sesuatu yang tajam menyusup kuat ke dalam benaknya. Sebuah tanda peringatan keras.

Dalam ritme yang dibeberkan bumi pada Eri. Seharusnya langkah-langkah ini familiar baginya. Untuk keadaan logisnya, ia seharusnya merasa tenang. Tapi semua itu terobrak-abrik dengan mantra lari yang didengungkan dengan tegas kepadanya.

Lihat selengkapnya