Pertama kali mendengar kata turis atau pelancong. Yang menyusup ke benak orang mungkin sebuah topi pantai lebar, pakaian pantai, dan kamera terkalung di leher. Hanya saja, tempat tinggal Eri bukanlah pantai atau margasatwa. Yah, memang ada beberapa gunung di tempat ini. Tapi itu gunung yang sangat tidak menarik—jujur, Eri tidak pernah pergi ke gunung sampai sekarang. Dan orang asing yang dilihat Eri, tidak memasuki standar orang pergi ke pantai atau pergi ke gunung. Maksudnya, pakaiannya lebih ke arah santai-santai di rumah sendiri.
Eri waktu itu sedang berdiri saja di sana, berjalan-jalan di depan jalanan rumah paling ujung desa. Kemudian ia melihatnya, seseorang yang tertera di benaknya bukan penduduk tempat itu. Berjalan santai menyusup memasuki desanya. Pakaian dan gerak-geriknya formal dan luwes. Jauh dari kesan turis. Tapi Eri yakin ia bukan penduduk desa ini apalagi pejabat.
Turis yang bernotabe laki-laki yang jauh lebih tua darinya itu—sekitar 7-10 tahunan. Melenggang berjalan dengan santai menatap dan memperhatikan sekitar dengan saksama. Terkesan tengah mencari-cari sesuatu. Mungkin karena ia terkesan seperti tipe turis yang terlalu semangat melihat hal baru. Meski begitu, Eri merasa bukan hal itu yang dimaksud.
Sementara itu, kaki Eri tidak bisa berhenti berjalan. Kedua mata Eri pun tidak bisa mengalihkan pandangan dari turis itu. Eri bagai menjelma menjadi turis yang mengunjugi destinasi orang asing yang patut diamati dengan cermat.
Beberapa langkah sudah terpangkas. Saling bersisian dengan jarak satu langkah dan arah perhatian turis itu akhirnya tertuju pada Eri.
Eri ketahuan kalau ia menjadi semacam paparazi sekilas tanpa kamera! Si turis itu juga tampak terkejut dengan kelakuan Eri.
Eri berniat kabur. Mereka tidak saling mengenal dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Skenario sederhana yang sering mengudara sebenarnya. Sampai sebuah talang air di atas kepala Eri merembes dan langsung mengguyurnya dengan kejutan.
Melihat kejadian itu, orang-orang langsung bertebaran untuk membantu Eri. Namun, tampaknya talang air di tempat itu semuanya bermasalah. Hitung-hitung, mandi berjamaah menghilangkan kegerahan sukses mengguyur semua orang.
Merasa bersyukur dengan bencana yang berhasil menyisihkannya itu. Eri segera berjalan keluar. Menembus daerah kering yang terasa sepenuhnya sepi tetapi super berpihak pada alarm irasionalnya.
"Permisi." Suatu suara menghembus bersama tapak kaki yang berbicara padanya. Turis asing itu? Kenapa ia tiba-tiba berada di markas Eri bertempat? Kering pula!
"Aku berasal dari luar daerah ini. Seorang pelancong yang ingin mengetahui topografi daerah ini. Beberapa waktu lalu seseorang yang sangat akrab denganku—Bryan— bercerita tentang tempat ini. Dia bilang jika aku butuh pemandu tur. Anak berusia lima belas tahun bernama Eri bisa jadi pemandu yang baik. Mungkin, Anda tahu tempat di mana Eri tinggal?" ucap orang itu santai dan ramah. Khas turis pada umumnya.
Eri tidak langsung menjawab. Hanya terpaku pada ke-2 bola mata biru si turis. Mata biru yang selalu mengingatkan Eri pada dirinya. Mata biru yang tidak dimiliki Erni.
Di lain sisi, rambut orang itu berwarna hitam tebal. Tampak mengilap tipis seperti milik Eri.
"Ehm..." Eri mulai merangkai kata pada akhirnya. "Aku Eri, lima belas tahun. Aku tidak tahu jika ada Eri-Eri yang lain di tempat ini. Hanya saja, seingatku, aku tidak pernah menjadi pemandu tur atau bertemu orang bernama Bryan seumur hidupku." aku Eri.