"Maaf, maaf," Turis itu terus memohon-mohon memintakan maaf. Meski tampaknya kurang tulus karena ia juga membuncahkan tawa.
"Kau membuatku basah kuyup! Kau tidak punya malu! Dan kau sok akrab! Lalu, alasan apa yang membuatku pantas memaafkanmu?" bentak Eri tidak terima. Dan tawa yang digaungkan si turis malah semakin keras saja. Kali ini bahkan nihil dengan kata maaf. Padahal, si turis itu baru saja menceburkan Eri ke danau. Untung Eri bisa berenang meski ia awalnya hampir tenggelam saking kagetnya.
Api yang Eri nyalakan bahkan tampak ikut menertawakannya juga. Bergemelutuk terus menerus tanpa henti seperti orang yang terbahak-bahak. Sampai-sampai Eri berpikir, mungkinkah api akan enggan membiarkannya kering dengan cepat hanya untuk sekadar menertawakannya?
"Oh ya, Eri. Sebagai permintaan maaf. Mungkin kau tertarik ku keringkan," tawar si turis menghentikan tawanya.
"Jangan bercanda lagi! Kau pasti akan melemparkanku ke api yang membara itu, bukan!? Tujuanmu membuat api di siang bolong pasti adalah untuk itu," ucap Eri curiga. Mendengar teori konspirasi itu, si turis malah kembali tertawa. Kali ini malah lebih lepas.
Eri mengangkat sebelah alisnya bingung. Eri tidak menganggap apa yang ia ucapkan adalah sebuah lelucon.
"Lawakan yang bagus. Tapi jujur ,Eri, untuk apa aku melemparmu ke api? Memangnya aku terlihat seperti penganut suatu sekte yang butuh pengorbanan, kah? Dan, ngomong-ngomong soal mengeringkan baju itu. Aku serius, Eri. Lihatlah! Bajuku sudah kering," ucap si turis sembari mengangkat kedua tangannya. Mempersilahkan Eri untuk melihat bajunya yang kering.
Eri menyipit dengan wajah yang begitu serius. "Kau pasti memakai baju peras air kilat dengan kelicikanmu itu, bukan? Atau mungkin kau mengganti bajumu dengan cepat!? Aku tidak akan tertipu olehmu! Mana ranselmu? Kau pasti punya banyak baju ganti yang sama."
Di saat Eri masih bersikeras memporak-porandakan ransel milik sang turis. Sebuah tangan mencengkeram kepala Eri.
Eri seketika menoleh, mendongak ke atas, dan mendapati tangan itu masih terentang tepat di atas kepalanya. Menebar hembusan embun pagi yang menetes jatuh ke wajahnya.
"Ngomong-ngomong, Eri. Aku melihatnya, lho." ucap turis itu dengan sorot mata jahil namun penuh dengan rahasia.
"Melihat apa?" Eri bertanya-tanya.
"Kau berjalan di hamparan tanah yang terus-menerus bermunculan," jelas si turis.
Eri mengernyit. Ia mundur beberapa langkah untuk dapat menatap si turis dengan jelas. "Kau tahu fenomena apa itu?"
Turis itu mengangguk. "Mungkin."