Catatan Eri : berjalan menuju cahaya

Za Zlyn
Chapter #5

5. Raib

"Apa yang kau rasakan? Maksudku, dengan benda-benda cair itu?"

"Mereka tunduk padaku, begitu loyal, dan segan. Bagai budak yang tidak punya daya apa-apa pada tuannya."

Eri merengutkan wajahnya. "Deskripsimu mengerikan sekali."

Turis itu mengangkat bahunya. "Bukankah mereka hanya benda mati."

Eri bergeming.

"Nah, untuk sekarang kurasa kita impas. Kau tahu rahasiaku dan aku tahu rahasiamu."

"Rahasia?"

Si turis mengangguk yakin. "Begitulah. Segitu saja sudah cukup. Yang terpenting, kau tak tertarik untuk menyulut kedengkian."

***

Eri menarik selimutnya. Memandang ke langit-langit kamarnya. Untuk kali ini, pikirannya terganjal sesuatu yang bersanding dengan rasa asing yang semakin menumpuk.

Eri memutar tidurnya 180° dan menemukan malam membayang-bayang pada jendela. Sesaat, Eri merasa tersindir dengan bulan yang juga sudah terlelap. Jadi, Eri memanfaatkan momen ini untuk segera terlelap tidur. Menjadi bagian fakta tentang orang-orang yang lebih lelap tertidur pada saat bulan baru dibanding bulan purnama.


Langit kali itu masuk dalam kategori cerah. Anak-anak—laki-laki maupun perempuan—berlari tak karuan kemana-mana. Beberapa dari mereka bahkan merentangkan tangan untuk berhelai-helai kupu-kupu.

Para anak laki-laki dan perempuan yang sedikit besar, memilih untuk hanya duduk-duduk santai. Menjadi semacam kendali pengawasan bagi adik-adik mereka.

"Eri, kenapa kau hanya duduk-duduk disini? Kau seperti kakak-kakak saja," ucap seorang anak laki-laki tepat di depan wajah Eri.

Eri mendongakkan kepalanya. Menatap anak laki-laki bermata biru itu. "Aku tidak mau jatuh lagi seperti kemarin."

"Hu... dasar penakut."

Wajah Eri memerah. Ia memalingkan wajahnya. "Biarin."

"Yah, jangan begitu dong Eri. Jika Eri begini terus. Siapa yang mau main denganku?" ucap anak laki-laki itu. Menundukkan diri serta wajahnya di depan Eri agar dapat melihat wajah Eri lebih jelas.

"Kan, kakak-kakak ada."

"Kakak-kakak sudah tua. Lagipula, hanya Eri temanku satu-satunya," bujuk anak itu memelas.

Eri seketika kembali mendongakkan kepalanya menatap anak laki-laki itu. Anak itu kemudian tersenyum sembari mengulurkan tangan. Eri menerima uluran tangan itu.

Lihat selengkapnya