Pulang sekolah, keadaan begitu terik dan sangat panas. Sementara Erni sibuk mengoceh tentang pemanasan global dan mengirikan dinginnya kutub Utara. Eri yang bersisian dengannya malah sibuk melamun.
"Tampaknya gelora matahari tidak mengganggumu sama sekali," sindir Erni.
Eri memandang Erni sekilas. Ia tidak menimpali pembicaraan kembarannya itu. Selebihnya ia tidak peduli.
"Derita kembaran bersifat es kutub," ratap Erni.
"AKU TIDAK MAU DISINI LAGI! TEMPAT INI LEBIH BURUK DARI NERAKA! KALIAN SEMUA MEMUAKKAN!"
Eri dan Erni tersentak dan serta merta reflek memandang ke arah asal suara. Rumah tipe minimalis. Tingkat dua dan pastinya lebih kaya dari rumah si kembar.
Erni segera menarik lengan Eri. Tapi Eri tidak bergeming.
"Eri ini bukan masalah kita. Lebih baik tidak terlibat," ucap Erni menasehati.
"Tampaknya aku pernah mendengar suara ini. Suaranya tidak asing," ucap Eri.
Terdengar suara teriakan lain. Suara khas lemparan dan barang pecah.
"Eri. Jangan lama-lama di sini. Ini menakutkan," ucap Erni.
Eri dengan dingin menatap wajah Erni. Menyapu keseluruhan wajah Erni.
Wajah Erni tampak menggambarkan ketakutan. Sementara itu, Eri tidak terlalu bisa menyimpulkan dengan baik keseluruhan kejadian saat ini. Tampaknya, Eri masih kepikiran akan si turis.
Pada akhirnya. Erni memutuskan untuk mengalah saja dan pergi meninggalkan tempat itu sesuai keputusan Erni.
***
Pemandangan danau tidak berubah sama sekali. Tidak ada jejak dan tidak ada tanda-tanda kalau Eri pernah bakar-bakar disana. Bahkan Eri tidak merasakan apa-apa tentang keberadaan tuan turis. Entah kenapa, bumi tampaknya sekarang memilih bungkam kepadanya mengenai turis itu. Mungkinkah turis itu hanya sekedar halusinasi pikiran Eri?
"Wah... ikannya banyak sekali." Tertarik memancing ucap Erni setengah berteriak.
Eri melangkahkan kakinya. Memandangi ikan-ikan yang menggeliat di dalam danau. Apapun yang berhubungan dengan air dengan senang hati membuatnya terpikir akan turis itu.
Sudah berhari-hari setelah turis itu tidak menunjukkan dirinya. Bahkan jejak kaki pun tampaknya ia bawa pergi bersamanya. Ia tidak meninggalkan peninggalan apapun. Meskipun sekadar nama untuk diingat.
Eri memandangi Erni yang tampaknya masih antusias dengan isi danau. Jujur, Eri jarang menghamburkan waktunya dengan Erni. Hanya setelah turis itu pergi, Eri mencoba untuk lebih sering bersama Erni. Menjadi seorang pengamat. Namun selama waktu ini pun, Eri tidak yakin kalau Erni sama dengannya.
"Jika kau bisa mengendalikan air, kau bisa mengangkat ikan itu dengan mudah," ucap Eri datar.
"Benar juga. Tapi bagaimana kira-kira rasanya dapat mengendalikan air, ya?" pikir Erni.