Seseorang. Ada seseorang tepat di belakangnya. Itu yang dikabarkan bumi padanya.
Eri berbalik. Berusaha mengenali siapa yang ada di belakangnya. Hanya saja, air hujan yang tengah mengguyurnya dari atas mempersulit pandangannya dan mengacaukan radarnya. Soal radar ini, tampaknya Eri mendapat PR baru untuk mempertajamnya.
"Maju!" orang itu berujar pelan. Rupanya ia Kharis!
Eri melangkahkan kakinya sesuai perintah Kharis. Ia berhasil bebas dari guyuran hujan untuk mendapat sodoran ember. Dalam hal kelakuan Kharis ini, Eri resmi bertanya-tanya.
"Air melimpah ruah karena hujan deras. Hingga meluap dan mengguyurmu. Guyuran pertama memang dahsyat tapi yang lebih penting dari itu. Kita perlu menadahi air hujan agar tidak terlalu meluber ke mana-mana. Yah, ini cuma formalitas saja,sih. Airnya juga sudah kemana-mana. Untungnya hujan sudah cukup jinak sekarang," jelas Kharis.
"Kenapa aku yang harus menadahinya? Kau bisa sendiri, bukan?"
Kharis memandang Eri dan genting yang bocor bergantian. Ia lalu mendorong ember kepada Eri.
"Mudah, karena kau sudah terlanjur basah kuyup."
Setelah pekerjaan singkat itu, Eri duduk di tangga bawah selama beberapa saat. Mempertanyakan tiap-tiap pertanyaan di benaknya. Teman-temannya tidak difotokopi dan tampaknya terkumpul dalam satu titik. Ada apa sebenarnya?
Adakah hal besar hingga orang-orang tiba-tiba berkumpul?
Apakah Kharis tahu sesuatu?
Hal ini sering terjadi, kah?
Atau ia yang memang selalu tak peduli?
Tangga berdentang kembali. Memperlihatkan sosok Kharis yang menuruni tangga. Sedari tadi anak itu ada di lantai 2 setelah penyerahan ember. Dan seluruh sensasi dari bumi tidak berlaku untuk lantai itu.
Eri ingin bertanya pada Kharis. Namun angin bertiup kencang melenggang ke arahnya. Meretas hawa hangat dari tubuhnya.
Segera, Eri berlari menaiki tangga. Ia masih punya seragam di loker para murid. Setidaknya, ia harus memanfaatkan seragam terbengkalai itu, bukan?
Orang tuanya termasuk penganut beli perlengkapan sekolah tiap ganti tahun ajaran. Tidak peduli kalau Eri sendiri tidak terlalu membutuhkannya.
Selesai mengganti bajunya. Eri berjalan kembali menuju kelasnya. Dan Eri sukses tertegun dengan keadaan kelasnya yang seketika tersapu oleh keramaian.
"Eri, kenapa kau tidak di kelas?" sapa Erni yang langsung merangkul Eri.
"Kau sendiri?"
"Jamkos. Jadi kami berjalan-jalan keluar sebentar," jelas Erni yang memang beda kelas dengan Eri. Eri menilik keluar dan menemui kalau hujan sudahlah reda. Hanya meninggalkan bercak-bercak air hujan di jendela.