Air-air itu. Tidak akan menyerangku. Mereka tidak berdaya berhadapan denganku. Mereka tunduk padaku. Mereka adalah budakku.
Eri tertegun membaca bagian belakang novel yang ia baca. Frasanya sama dengan apa yang diucapkan si turis asing tanpa nama itu. Eri memandang Kharis penuh tanya.
"Novel apa ini?" Eri bertanya.
"Kau bisa membaca judulnya," jawab Kharis seadanya.
Eri langsung membalik buku itu dan langsung membaca judul yang tertera.
Bersanding dengan Unsur : Air. Wat Wi.
"Penulisnya namanya Wat Wi?" tanya Eri.
"Kurasa itu hanya samaran saja. Sejenis nama pena yang biasa dipakai para penulis," Kharis berpendapat. "Di seri pertama, penulisnya mengatakan akan mengungkap nama aslinya pada buku terakhir. Itupun jika tidak ada halangan."
"Buku ini berseri? Ada berapa buku? Ini buku tentang apa? Apakah semuanya membahas seperti ini?" tanya Eri lagi.
Kharis mengangguk. "Itu buku kedua. Tenang. Tidak begitu terhubung dengan buku pertama. Buku pertamanya, 'Angin'. Ada di rumahku. Soal pembahasan, intinya mungkin sama. Hanya saja, buku pertama membahas angin dan buku ke dua membahas air. Yah, intinya begitulah."
"Kenapa buku pertama berada di rumahmu?"
Kharis memandang sekitarnya malas lalu berbisik. "Kucuri dari perpustakaan buku itu, Eri. Saking bagusnya hingga buku itu tidak pantas di pegang orang-orang sini. Yah, aku juga tidak pantas, sih. Tapi jika masih berdiam di sini itu pasti tidak akan berakhir baik."
Eri kehabisan kata atas pernyataan Kharis tersebut. Benarkah Kharis dulu orang yang seperti ini?
"Kau bercanda? Kau pasti bercanda, kan? Apakah kau memang seperti ini sejak zaman dulu!?" cerca Eri pada akhirnya.
Kharis meringis " Itu bukan urusan penting bagimu saat ini, Eri. Lagipula, tidak akan ada yang menyadari atau bahkan mencari buku itu. Tidak akan ada yang peduli buku itu hilang atau tidak," tegas Kharis. Nada bicaranya entah kenapa membuat Eri sependapat dengan apapun itu isi kepala milik Kharis. Meskipun pendapat itu secara logika sangat menyimpang.