Bab 1
Tenggelam
Aku...apakah air berbalik melawanku? Muak karena perintah-perintahku yang rewel? Ataukah, aku yang kehilangan kendali diri membuatku menjelma menjadi manusia biasa?
Manusia biasa... Inferior.
Dan, aku? Superiorkah?
Lalu, siapa yang menjatuhkanku ke kedalaman laut?
Aku yang dilingkupi air tenggelam hanya karena sensasi menjadi orang biasa. Rasanya aku ingin mengamuk, menghisap seluruhnya dengan pusaran air.
Tapi, aku terlanjur ditenggelamkan air. Pikiranku kacau dan entah kenapa aku masih berkisah.
Aku memejamkan mata. Kurangnya udara memaksa mulutku terbuka dan air tak ragu untuk menggantikan udara. Kurasa inilah akhirnya, diriku akan bersatu dengan elemenku sendiri, air.
Cengkeraman kuat mereguk tubuhku. Merengkuhku secara penuh. Mengangkatku dengan kecepatan ikan. Dan meraupkan udara ke wajahku.
Meski begitu, aku tak yakin masih sanggup bernapas. Karena bagaimanapun, aku telah tenggelam terlalu dalam. Hingga semuanya gelap.
Eri menutup halaman pertama novel yang diserahkan Kharis. Bukan karena apa, tapi karena Erni yang menerobos masuk ke kamarnya. Begitu cepat hingga Eri sendiri kaget dibuatnya.
"Eri! Kau belum bersiap-siap? Dan apa yang kita dapat di sini. Kau malah sedang bersantai sambil membaca buku tentang...air?" koar Erni.
"Memangnya ada apa?" tanya Eri sembari mengamati pakaian Erni dari atas ke bawah. Cokelat Pramuka.
"Pramuka, Eri! Kau tidak lupa kita akan kemah, kan?"
***
Cahaya api bergemeretak melahap tiap batang kayu yang disodorkan padanya. Eri mendongak mengamati langit yang gelap terangkai dengan bintang.
Keadaan masih cukup ramai meski sudah banyak anak yang terlelap. Cuut-cuitan burung hantu menyergap bersisian dengan udara dingin.
Sejauh ini, tampaknya Eri terlalu dekat dengan api. Berbeda dengan anak-anak lain yang memilih menjauh bercengkerama dengan udara dingin atau berselimut gelapnya tenda.
Seseorang mengambil jarak dalam kumpulan anak perkemahan dan merapat ke hutan. Getaran langkah yang gemar menjauh itu membuat Eri menggeleng.
Kharis. Orang yang masih sulit berdamai dengan keadaan. Dampak dari sikapnya itu adalah kebencian gratis untuk tiap orang.