Bab 5
Kolam
"Menurutmu, aku sudah lebih oke?"
"Tidak," ucap Aros terus terang sambil asyik berenang di depanku. Aku cukup yakin ia tengah menyombongkan keterampilan ikan itu padaku.
"Kau bercanda? Aku sudah mengairi kolam ini dengan daya pancuran dan mata air itu. Lalu, setelah semua yang aku lakukan. Aku masih saja masuk kategori tidak oke itu," protesku tidak terima.
"Kalimat protes yang standar. Hmmm...kau belum sadar juga rupanya. Penawaran, Wat. Apa kau ingin tahu muara dari nilai negatifmu itu?" tanya Aros. Berenang dengan semangat mendekatiku yang hanya tertarik duduk dipinggir kolam. Sempat terbersit di benakku untuk mendorong Aros menjauh dengan arus air kolam. Tapi aku tidak melakukannya. Ada hal lain yang lebih menarik.
"Apa?" aku bertanya ketika Aros telah berada di depanku.
Aros tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangannya dengan ekspresi datar lalu langsung menarik kakiku untuk tercebur ke dalam kolam. Tahu begini, seharusnya aku tidak membiarkan dia berenang sampai dihadapanku.
***
Albatros tertawa tanpa henti. Dia bahkan tidak memberikan jeda persis seperti penggambaran burung itu yang terbang tanpa mengepakan sayap. Puas sekali dia melihatku hampir mati gelagapan di dalam air.
"Kau sudah bisa mengambil kesimpulan, tuan Wat?" pancing Aros.
"Maksudmu nilai negatif itu karena aku tidak bisa berenang?" timpalku ketus.
"Apa ini? Kau marah dan tidak terima?"
"Memangnya kau bisa terima jika ditenggelamkan seperti, itu? "
Aros menyengir. "Aku jadi meragukan kemampuan elemen air itu. Apakah aku sudah tertipu?"