Hari Minggu yang begitu berangin. Berangin yang berlebihan hingga tidak ada yang berani keluar rumah. Bisa dibilang tiap orang takut kalau mereka akan ikut terbawa angin. Hanya saja, kenapa tidak ada yang terpikir kalau rumah mereka bisa juga terbawa angin ribut ini?
Eri memandang dingin pada pusaran angin yang pongah. Yang tak beradab dan tak berperikemanusiaan.
Entah kenapa dari balik jendela, Eri menggunakaan deskripsi yang kasar seperti itu.
Yah, kalau dipikirkan lagi pun. Tampaknya deskripsi beradab dan kemanusiaan bagi angin berbeda dengan manusia.
Merasa bosan karena novel yang sudah seperempat ia baca ada pada Kharis. Plus karantina besar-besaran karena cuaca yang sedang tidak ramah. Eri akhirnya memutuskan mencari bacaan lain. Yaitu rak buku yang langgeng di kamarnya. Eri pun tidak pernah membaca buku di sana selama hampir seumur hidupnya.
Rak penuh buku itu bukan milik Eri. Itu mungkin saja peninggalan pemilik rumah ini dulu. Pemilik rumah yang entah kenapa meninggalkan buku-bukunya begitu saja. Yah, mungkin karena jalanan dari desa ini ke kota lain begitu sulit. Mungkin juga itu memang amal dari hati. Entahlah, Eri tidak tahu. Eri belum lahir ketika ayah dan ibunya membeli rumah ini.
Sebuah ketukan dari jendela terdengar nyaring di telinga Eri.
Eri pun menoleh untuk memandangi satu-satunya jendela di kamar itu. Sepertinya ada sesuatu yang mengetuk dari sana.
Pada akhirnya, Eri memutuskan naik ke tempat tidur untuk mencari tahu apa yang terjadi. Ia lalu menempelkan tangannya pada kaca jendela untuk memastikan getaran. Tidak lupa, ia juga menyiagakan telinganya.
Ketukan itu kembali terdengar lagi saat Eri berada pada posisi telinga menempel pada jendela. Membuat Eri resmi sadar bahwa pelakunya adalah sang angin itu sendiri. Bukan orang atau penghuni scene film-film horor.
Yah, jika itu hantu sekalipun Eri juga tidak akan diam saja. Ia sendiri cukup yakin jika ada hantu yang tiba-tiba muncul di depannya, Eri akan langsung mengambil benda apapun di dekatnya untuk sekadar melancarkan pukulan.
Untuk ketiga kalinya, ketukan kembali mengudara dari posisi yang sama.
Kali ini Eri sukses mengernyitkan dahinya. Ia terdiam beberapa saat mendengarkan ketukan halus yang terus bertalu itu. Ketukan yang jika diperhatikan dengan baik serasa berirama. Tampaknya, angin itu ingin membicarakan sesuatu padanya. Bisa jadi itu adalah hal yang penting.
"Mungkinkah itu...kode....morse?" tebak Eri. Sayang sekali, Eri tidak hafal sandi itu sedikitpun.
Pada akhirnya, hanya karena perasaan tak berdasar dan keingintahuan ala anak kecil. Eri mengambil jalan nekat untuk membuka jendela kamarnya. Dan seperti itulah ringkasnya hingga angin berbondong-bondong menerobos masuk memenuhi kamar itu.