Sensasi itu. Perasaan itu. Dan irama itu. Eri mengenalnya. Ia yakin itu bahwa dirinya benar-benar merasakan keberadaannya.
Turis asing itu kini tengah berjalan mendekati danau. Ia masih berada di tempat ini! Eri ingin menangis dibuatnya. Tapi, tidak menutup kemungkinan turis itu akan pergi lagi. Apalagi, ia mendekati danau! Jika ia pergi ke danau, Eri tidak akan bisa merasakan keberadaannya untuk kesekian kalinya.
Eri seketika memandang teman-temannya gemas. "Ayo!" gumam Eri.
Tongkat estafet dimulai dari Kharis yang kalah cepat dengan teman yang lain. Eri tidak heran akan itu. Kharis sendiri minim semangat. Walaupun beberapa hari lalu Kharis bilang akan datang. Eri tidak langsung percaya begitu saja. Mood anak itu bisa berubah dan suatu keberuntungan ia akhirnya tetap datang.
Walaupun tim Eri tertinggal dicengkeraman Kharis. Setidaknya setelah Domino mereguk tongkat itu, ia sukses mengungguli yang lain.
Salsa menerima tongkat estafet dan segera melenggang dengan mudah. Yah, apa saja yang ada digenggaman Salsa akan tetasa sangat mulus. Hal yang sangat lumrah.
Pada akhirnya, tongkat itu jatuh pada Eri yang segera melenggang pergi. Lebih cepat dari yang lain. Meninggalkan arena sekolah mereka.
Eri tidak peduli akan ekspresi atau pendapat orang-orang akan kepergian itu. Ia tidak mau kehilangan orang itu lagi.
***
Angin bertiup sedikit kasar menggosok kulit Eri dan membuat matanya sedikit perih. Ataukah kerasnya perlakuan angin pada Eri disebabkan karena larinya yang kelewat kencang? Eri tidak begitu tertarik untuk tahu itu sekarang. Ada hal yang baginya lebih penting.
Tidak membutuhkan waktu lama. Sambil membawa tongkat estafet ujian prakteknya. Eri tiba di atas jembatan penghubung danau.
Orang asing itu, tepat berada di tepi danau. Memandang Eri dengan arti yang tidak dimengerti oleh Eri. Perlahan, kesadaran koordinat sang turis asing menghilang. Eri tidak tahu kapan tepatnya turis itu menjadi sang bagi Eri bukannya si.
Sang turis kemudian melangkah ke danau memasukinya. Tampak enggan untuk menemui Eri walau sebentar.
"Hai tunggu! Ada yang harus kutanyakan!" teriak Eri. Ia memandang ke permukaan danau dan ingat bagaimana tanah selalu menapak di kakinya.
Tanpa ragu, Eri melompat. Ia akan baik-baik saja. Tanah atau air, Mana yang akan membantunya.
"ERI! JA...!"
Eri tidak tahu kenapa orang asing itu berteriak. Tapi itu terlambat. Sesuatu dalam air, menarik dirinya jauh ke dalam dasarnya. Dan Eri baru tahu. Kalau danau ini pekat. Sepekat kegelapan malam. Mungkin juga lebih dari itu.
***
"Eri, berhati-hatilah dengan kegelapan. Termasuk bayanganmu sendiri."