"Wat Wi memang benar-benar ada ya?"
Eri menoleh. Ia menaikkan alisnya pada Kharis yang memasang ekspresi takjub penuh arti pada kertas foto dihadapannya.
"Atau paling tidak, Kisah Wat," lanjut Kharis lagi.
Sejenak, Eri tidak menyadari apa yang terjadi sampai ia mengamati apa yang dipegang oleh Kharis. Foto itu! Foto dengan gambar burung apalah itu!
Foto laki-laki pada diary itu tampaknya terjatuh dan menimpa tangan Kharis. Maksudnya dipungut Kharis dari tanah.
"Tunggu sebentar. Aku tidak mengerti. Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu setelah memungut foto dari diary tua itu?" sela Eri. "Apa yang istimewa dari foto itu? Bisa kau jelaskan padaku?"
"Diary tua?" Kharis bertanya-tanya mematap langsung ke arah Eri.
"Iya," Eri menunjuk buku bersampul hitam yang sedari tadi ia bawa. Niat awalnya sih, sebagai isi-isian tangan sembari bersemedi harian di tebing-tebing tinggi nan curam.
"Coba kulihat," ucap Kharis antusias sampai-sampai ia menyodorkan tangannya.
Eri membalas menyodorkan buku itu yang langsung disambar oleh Kharis. Wah, Kharis benar-benar tidak sabaran kali ini.
"Bagian dua. Kegelapan. Maju."
Kharis membaca buku itu dengan tegang. Ia tampak nyaris kehabisan napas. Seolah buku itu adalah mantra bagus yang dibaca dengan seabrek pantangan.
"Benar! Ini Wat Wi! Apa kau bertemu dengannya?! Dan ini, ini pasti Aros. Iris matanya hijau kecokelatan, sih. Sangat sesuai dengan deskripsinya..."
"Tunggu sebentar," sela Eri menahan celotehan Kharis yang bersemangat itu. "Itu hanya buku usang yang bertahun-tahun lamanya ada pada rak buku tak terjamah kamarku. Mungkin saja, itu cuma sekedar peninggalan penghuni rumahku dulu. Kharis, hal ini tidak seserius itu. Kau terlalu menyambung-nyambungkan banyak hal," jelas Eri.
"Benarkah? Tapi sangat tidak mungkin ada—ralat, sulit sekali terjadi—dua khayalan sama," argumen Kharis.