Catatan Eri : berjalan menuju cahaya

Za Zlyn
Chapter #17

17. Kegelapan

Kegelapan

Mundur

Prolog

Desa yang terisi tiupan angin sejuk. Penuh warna-warni alami alam. Serta langit biru cerah ataupun percikan kilau bintang.

Anak-anak pergi kesana kemari. Burung-burung berkicau dengan riang.

"Aku selalu bertanya-tanya. Kenapa kakak-kakak bisa mengeluarkan api atau air," ucap anak laki-laki pada ibu mereka yang tengah mengikat rambut anak perempuannya. "Lalu, kami bisa apa?"

Ibu mereka tersenyum. "Kalian bisa mengeluarkan kebaikan. Itu lebih berharga daripada menguasai seluruh elemen yang ada."

"Elemen?" si anak perempuan menggelengkan kepalanya. Ia keluar dari cengkeraman ibunya sembari memegang kepalanya agar tidak diikat rambutnya.

"Api, air, tanah, dan udara. Itu namanya elemen," jelas ibu mereka.

"Begitu saja tidak tahu," ledek anak laki-laki. "Tapi tetap saja, Ibu. Tidak seru."

Suara pintu diketuk pelan. Seseorang masuk dan ibu mereka langsung berdiri.

"Pangeran," ucap sang ibu.

Si anak laki-laki berdiri. Mendekati pangeran yang balas tersenyum padanya. Pangeran menunduk mensejajari anak laki-laki itu.

"Pangeran yang sangat kuat. Bisa pangeran membagi kekuatannya?"

Pangeran menggaruk tengkuknya. Ia lalu menyandarkan tangannya pada pundak si anak lelaki. "Bagaimana, ya. Kau yakin menginginkannya?"

Si anak lelaki mengangguk.

"Kau siap berjalan di lorong gelap. Cakaran tajam tanpa wujud. Bayang-bayang mengerikan. Dan suara yang membuatmu sesak bernapas?"

Si anak lelaki tampak pucat pasi. "Hantu?"

"Ya. Begitulah."

"Tidak ada ayah ibu?"

Pangeran menggeleng. "Tidak."

Sementara saudara lelakinya berlari menuju sang ibu. Si anak perempuan bangkit. Memperhatikan Pangeran secara melingkar dalam jarak dekat hingga ia menabrak sesuatu.

"Hati-hati, putri kecil," ucap laki-laki separuh abad yang baru datang. Ia menahan anak perempuan yang menabraknya agar tidak jatuh.

"Guru Rion," ucap pangeran spontan.

"Sudah kuduga kau disini. Aku tahu ini hal sensitif. Meski begitu. Ada hal yang harus segera kita urus."

Pangeran terdiam. Tampak berpikir. Ia kemudian menghembuskan napas berat. "Aku mengerti."

Selang beberapa detik. Pangeran dan Guru Rion telah melenggang keluar.

———

Bab 5

Rapat dan Kepergian

"Raja dan Ratu menginginkan kepergian pangeran dari tempat ini segera," tegas Guru Rion.

"Tapi Ayahanda Raja dan Ibunda Ratu. Saya tidak bisa terus-terusan melarikan diri. Saya sudah tujuh belas tahun. Upacara sudah dilakukan. Mereka tidak bisa mengambil saya," tentang Pangeran.

Lihat selengkapnya