Catatan Eri : berjalan menuju cahaya

Za Zlyn
Chapter #18

18. Mimpi

Dingin. Benar-benar dingin. Lebih dari itu, angin bahkan terasa bergemeletuk oleh dingin itu sendiri. Menggoyang-goyangkan api yang mulai meredup karena hawa yang membuat sulit bernapas. Hingga akhirnya, api menghembuskan napas terakhirnya. Mempersilahkan gulita untuk singgah dan mengambil alih keadaan.

Tercekat dengan suasana yang jatuh turun ke titik nol. Eri berusaha menelisik keluar untuk mengintip apa yang terjadi. Penerangan benar-benar telah gugur. Menitipkan ketakutan pada sesaknya relung dada.

"Ibu," entah kenapa Eri tiba-tiba mengeluarkan kata-kata itu. Dengan intonasi bak anak kecil yang gemeteran. Ia tidak tahu harus berpijak pada apa atau siapa.

Hawa semakin turun dengan tajam. Menghujam ke level mengerikan. Beriringan dengan semburat cahaya yang merebak dari baik susunan kayu-kayu ruangan lain.

Angin di luar menderu semakin keras. Begitu kasar. Sesekali kecipak air juga terdengar mewarnai. Bahkan seperti berjalan mendekat.

Eri memundurkan tubuhnya beberapa langkah. Namun karena keadaan yang gelap dan rasa lemas yang memeluk indranya, Eri pun terjungkal ke lantai kayu di bawahnya.

Masih berusaha mengambil napas dan membenahi posisinya. Rumah yang ia tempati bergetar hebat. Mempersulit keadaan Eri yang tengah sendirian.

Beberapa saat kemudian, Eri berhasil bangkit meski tertatih-tatih meniti tembok kayu dan perabot lainnya. Mencoba mengerti dengan baik apa yang ada di luar. Meski dengan keras bayangan di kepalanya telah menegaskan keributan.

Cahaya berkedip-kedip yang sebelumnya menerjang di luar berakhir. Walau tampaknya ada keributan selain kilasan api pada tengah malam itu.

Suara tawa tumpah meresap ke tiap inci bangunan. Meremangkan bulu kuduk para penghuni di dalamnya.

Suara kecipakan air berhenti tepat di depan pintu bangunan tempat Eri berada.

Eri menahan napasnya, dengan cepat meraba tembok untuk menjauh ke pojokan ruangan. Berharap siapa saja yang ada di luar sana menjadi buta akan sudut itu saat ia nanti masuk.

Pintu menggebrak terbuka dengan keras. Eri lansung berjengit. Ia bahkan belum sempat mendapat tempat aman.

Udara dari luar merebak masuk. Merembes ke dalam pikiran Eri. Menumpahkan ketakutan mulai dari ubun-ubunnya. Seketika Eri meluruh, jatuh terduduk tanpa dapat bergerak banyak. Hanya melihat saja apa yang ada di depannya dengan ngeri.

Lihat selengkapnya