Suara gedoran pintu menampar-nampar gendang telinga Eri dengan penuh semangat. Meluber luas di luar kamar Eri.
Sudah beberapa menit hal itu terjadi dan Eri tidak peduli. Eri telah bangun dari tadi dan ia terlalu malas. Mimpi semalam membuat banyak hal terasa hambar.
Untuk lebih menyempurnakan kemalasannya itu, Eri mempererat selimutnya. Tidak lupa, ia juga menutupi kepalanya dengan bantal.
***
Matahari terik dan awan tidak mau singgah di angkasa. Selebihnya, keadaan yang seharusnya sempurna untuk bermain itu malah terasa sepi. Semua anak lebih tertarik berteduh karena cuaca yang begitu panas. Eri sendiri memilih menjadi minoritas dengan duduk di tengah lapangan sekolah. Membiarkan dirinya disengat panas matahari.
"Pasti karena buku itu," gumam Eri. Menarik kesimpulan akan mimpi buruknya semalam.
Jika dipikir-pikir, isi buku kegelapan nyaris persis dengan mimpinya. Kisah puncak kehancuran bangsa itu hinggap pada mimpinya semalam. Dan harus diakui sebab mimpi itu, Eri jadi agak paranoid dengan kegelapan.
"Eri!" Erni datang sembari membawa payung. Dimata Eri, kembarannya itu sedang jadi putri solo atau apa. "Ayo masuk! Di luar sini panas sekali. Nyaris waktu untuk sinar UV merajalela. Ayo masuk, Eri!"
"Jangan berharap," balas Eri dingin. Setengahnya, Eri merasa miris akan kelakuannya ini. Ia pasti terlihat sangat aneh. Tapi Ia tidak peduli. Ia tidak mau beranjak dari panasnya matahari.
Eri setengah berdebat dengan Erni setelahnya. Pada ujungnya, Erni kalah dan memilih pergi untuk kembali ke kelasnya. "Tapi nanti saat guru masuk, kau harus masuk, ya."
Eri tetap tidak bergeming akan nasihat Erni itu. Ketika Erni telah berbalik, Eri malah diam-diam berdoa agar guru tidak masuk. Ia mau di bawah mentari saja yang memberinya kehangatan gratis. Sekaligus bersikap dramatis tentang mengenyahkan elemen kegelapan dan merasa hebat karena telah memberi perlawanan. Eri sadar sikapnya seperti anak kecil saja. Toh, ia memang gemar merawat ketidakrasionalannya.
Tiap-tiap penjelasan tentang elemen kelima(kegelapan itu sendiri) pada buku spin-off itu sukses membuat Eri bergidik. Selama ada dalam kegelapan, orang yang ada di dalamnya bisa diapa-apakan. Meski bisa dibilang juga elemen kegelapan kemungkinan juga adalah elemen psikis. Mempengaruhi pikiran tiap orang ke dalam ranah yang gelap dan suram. Termasuk Eri saat ini. Belum diapa-apakan juga Eri sudah paranoid duluan. Meski berada pada cahaya yang terang benderang, Eri entah kenapa merasa begitu suram dan menyedihkan.
Langit yang biru masih cerah begitu juga harapan Eri. Harapan agar tidak ada elemen kegelapan yang mencabut paksa kehidupannya hingga ia mati.
***
Bel pulang berdentang menyebar ke seluruh sekolah. Dan siapa duga, guru benar-benar tidak memasuki kelas Eri.
Eri masih setia duduk di tempatnya selama sisa waktu itu. Membiarkan anak-anak yang pulang sekolah melewatinya. Dua kali Erni berbicara pada Eri dan Eri tidak menggubrisnya. Orang-orang melaluinya, sambil membawa payung. Dipikir-pikir, panas hari ini memang keterlaluan.
"Kau tampak konyol."
Eri memutar tubuhnya. Ada Kharis di sana. Menggenggam payung yang melindungi dirinya dari terik matahari.
"Kupikir kau tidak akan menyapaku," ucap Eri. Maklum, mereka bukan teman akrab meski beberapa kali berbincang dan bertukar buku.
"Hah?" Kharis bingung. "Kau tahu aku ada di belakangmu?"
Eri meringis. Harus cari alasan. Ia bisa ketahuan jika dirinya adalah pemilik radar aneh. "Yah... suara kakimu itu khas."
"Oh... balas dendam rupanya," timpal Kharis sambil lalu. Ia lalu melirik sepatunya sekilas dan kembali memandang Eri. "Ngomong-ngomong. Apa yang kau lakukan di sini?"
Eri enggan menjawab. Ia tidak tertarik untuk mengatakan apa-apa. Apa lagi menjelaskan tingkahnya yang disebabkan karena membaca buku tentang elemen kegelapan itu.
Kharis mendongak. "Hampir puncak siang dan kau terlalu banyak menangkap UV. Aku tak tahu apa yang kau pikirkan. Tidak mungkin kau berminat untuk menerima kanker kulit, kan. Tapi, jangan sampai kau tenggelam seperti Wat."