Catatan Eri : berjalan menuju cahaya

Za Zlyn
Chapter #20

20. Kehangatan

Eri mengerutkan kening ketika Kharis menyodorkan korek api padanya. Jenis tradisional. Dengan wadah kotak dan cover kupu-kupu berwarna biru.

"Apa?!" Eri bertanya langsung.

"Bakar seluruh sekolah ini," jawab Kharis santai.

Eri sigap memelototi Kharis "Maksudmu?!"

"Tidak ada. Hanya berpikir tidak ada salahnya untuk libur," ucap Kharis seraya melempar korek api yang langsung ditangkap oleh Eri secara spontan itu. "Jika kau bertanya untuk hal apa lagi. Mungkin saja berguna untukmu—barang itu tidak akan berguna sedikitpun untukku, jika kau ingin tahu. Contoh kegunaannya adalah—agar kau lebih paham; misalnya saja jika kau bertemu begal dan senjata milikmu hanya korek api. Atau, jika kau kedinginan dan ingin membakar sesuatu. Bisa juga kalau kau merasa keadaan sekitarmu kurang terang. Yah, pokoknya bagus sekali untuk berusaha bertahan hidup pada banyak kasus."

"Tapi, aku masih tetap tidak mengerti. Bukankah hal ini juga bisa berlaku untukmu?" ucap Eri.

"Sebenarnya, kenapa kau memberikan barang ini padaku? Begal mana mungkin surut dengan korek api kecil seperti ini."

"Sudah kubilangkan tadi. Sudah berhari-hari dan barang itu tidak ada gunanya di rumahku. Atau rumah orang lain. Lagipula, aku tidak sengaja melihat barang kuno itu di tengah jalan belum lama ini," jawab Kharis sengit.

"Kau memungutnya?" Eri semakin terkejut. Sebelumnya masalah buku perpustakaan tanpa izin. Sekarang masalah memungut barang sembarangan di jalan. Eri sempurna tidak bisa menjamah logika Kharis saat ini. Ia terlalu... santai?

Kharis mengangguk ringan tanpa merasa bersalah ataupun menanggung ganjalan. Seolah barang di jalanan semuanya adalah batu yang tidak punya kepemilikan. "Unik, sih. Hal seperti ini—korek api maksudku. Sudah punah bagi orang-orang sini. Kapan terakhir kali aku melihatnya, ya..."

Eri terdiam. Sekali lagi, gaya bicara Kharis mampu membuat Eri merasa sependapat walau sementara. Hal lain, apa yang diucapkan Kharis tidak salah. Meski desa ini bukan tempat maju. Barang seperti itu memang sudah tidak mode di tempat ini. Jadi, kemungkinannya—.

"Orang asing itu," gumam Eri mengingat saat-saat ia dengan sang turis membuat api unggun di samping danau. Ditambah Kharis bilang kalau sudah berhari-hari. Tidak salah lagi, kemungkinan besar korek api ini adalah milik turis asing itu.

Eri mendongak siap membicarakan korek api lebih lanjut. Hanya saja, Kharis sendiri sudah berjalan pergi. Bercanda ini itu dengan teman-temannya.

Melihat hal tersebut, Eri memutuskan untuk menyimpan korek api itu di saku rok panjangnya. Ia memutuskan akan menyimpan korek ini. Untuk kemungkinan penggunaan atau pengembalian, Eri tidak tahu. Biarkan waktu yang menjawabnya.

***

Eri tengah terpekur di meja belajarnya. Menjelajahi tiap buku yang akan menjadi pemeran utama besok. Pemeran utama hari ujian nasional ke-satu.

Angin malam di luar tampak gaduh. Tapi Eri tidak peduli. Apalagi karena hal itu sudah sering terjadi. Ia malahan membuka jendela lebar-lebar. Membiarkan dirinya secara terang-terangan bersaing dengan dinginnya angin malam.

Lihat selengkapnya