Catatan Eri : berjalan menuju cahaya

Za Zlyn
Chapter #21

21. Terbengkalai

"Kharis!" Eri berteriak melangkah lebih dekat ke danau. Tidak terlalu keras. Namun itu lebih dari cukup untuk menggema di sepenjuru danau.

Lama tidak menerima jawaban. Eri berbalik kemudian mengambil salah satu potongan kayu yang membara. Setelahnya, Eri telah berlari menuju Kharis di atas tanah yang terus timbul. Bagus, obor api Eri bekerja dengan baik.

Setelah sampai di perairan di bawah jembatan tempat Kharis berada, Eri segera menarik anak itu dengan tenaganya. Segera, Eri berbalik ke pesisir sambil menyeret Kharis dengan satu tangan. Tidak begitu susah karena sebagian tubuh Kharis masih di air.

"Kharis! Apa yang kau lakukan? Aku tahu kau mungkin depresi tentang orang tuamu dan sebagainya. Tapi, tidak ada toleransi untuk hal tadi. Untuk sikapmu juga," ucap Eri sambil mengacungkan obor di tangannya sesampainya mereka di daratan tepi danau.

Kharis menghembuskan napas berat sembari berpaling dari Eri."Jauhkan obor itu dari diriku!"

"Ah... Maaf," reflek Eri segera meletakkan obor kembali ke perapian.

"Kau... tadi berjalan di atas air?" tanya Kharis tiba-tiba.

Eri tercengang. Menyadari kecerobohan apa yang telah ia lakukan. Dasar bodoh! Sekarang ia butuh alasan bagus dan menyakinkan. Terlebih, Kharis tampaknya adalah anak yang kritis. "Ah... Kau mungkin salah lihat," ujar Eri meski dalam hati ia meringis. Membuat Kharis menunggu pastinya mencurigakan. Tapi kalau ia membuat alasan seperti ini itu namanya mengorbankan diri secara cuma-cuma.

Lain kali Eri akan memikirkan seribu alasan masuk akal dalam menghadapi pertanyaan dadakan. Ia tidak mau kesulitan berpikir hingga asal menjawab seperti ini lagi.

"Klasik," ucap Kharis membenarkan praduga Eri. Kharis lalu bangkit dan berbalik pergi. "Kuanggap diriku memang salah lihat tadi."

"Eh, Kharis. Bajumu basah. Kau tidak mau mengeringkan dirimu dulu?" tanya Eri serius.

"Maaf, aku tak tertarik. Api terlalu panas untukku. Dan lagi..." ucapan Kharis menggantung. Ia lebih memilih untuk meneruskan langkah kakinya.

Dari tempatnya berdiri. Eri masih memandang pada kobaran api.

Bertanya-tanya kenapa Kharis membengkalai ucapannya barusan.

Apakah masalah dengan keluarga lagi? Ayah dan ibunya? Tapi jika seperti itu. Eri angkat tangan. Ia sendiri pun seperti orang yang membengkalaikan keluarganya. Tidak pantas bernasihat sama sekali. Ia tidak punya hak akan itu. Paling tidak, yang bisa Eri lakukan cuma mengawasi melalui getaran bumi yang bercengkeraman dengannya.

***

"Erni!"

Erni menoleh pada Eri.

"Apakah, kita memang harus berjalan bersisian selamanya?" tanya Eri retoris.

Erni tersenyum. Ia menyambar tangan Eri. "Tentu saja, Eri. Kitakan anak kembar."

"Kau tertarik memakai payung?" tanya Erni lagi ketika mereka berjalan lebih dekat menuju sekolah. Matahari di langit hari ini pun sangat tertarik berkonser. Tidak peduli beberapa makhluk seperti manusia mengeluh berat.

"Tidak," jawab Eri dingin.

Lihat selengkapnya