Ujian hari ini sulit sekali. Rasanya Eri ingin memukul kepalanya sendiri ke tembok yang keras. Ia terlanjur terlena akan asiknya membaca seri Angin dan Air. Akibatnya, Eri dengan telak lupa kalau ujian finalnya belum berakhir. Kalau begini terus, bisa-bisa ia gagal menjejak bangku SMA.
Dengan langkah lunglai, Eri mendatangi Kharis yang telah selesai ujian sedari tadi. Erni hari ini kembali dipanggil oleh kepala sekolah. Yah, Eri tidak heran karena Erni lebih pintar darinya. Hal lain, Erni lebih berpandangan ke depan akan melanjutkan sekolah ke mana. Kontras sekali dengan Eri yang lebih memilih untuk ikut-ikut saja walau ialah yang seharusnya berposisi kakak.
"Ini bukunya, Kharis. Kukembalikan sekarang saja," ucap Eri lemas sembari menyodorkan seluruh buku yang dipinjamkan Kharis.
Kharis mengambil ketiga buku itu lalu membolak-balik lembar isi buku kegelapan. Berbeda dengan kebiasaan gaya mendamba buku selama ini, kali ini ekspresi Kharis lebih ke arah dingin. Itu cukup membuat Eri heran. Yah, mungkin juga Kharis sudah terlalu marah karena mendapat tekanan denda perpustakaan.
"Bagaimana menurutmu bukunya?" tanya Kharis masih menatap isi buku cermat.
"Ehm... Menarik! Terutama pada seri Kegelapan . Di buku itu dijabarkan kisah sang pangeran yang berhadapan dengan kegelapan secara langsung dan... tidak langsung. Penjabaran tentang sisi kegelapan membuatku merinding sampai terbawa ke alam mimpi. Ingat waktu aku bertingkah tidak jelas di bawah terik matahari?"
Kharis mengernyit mendengar penuturan Eri. "Hm... Maksudnya sebenarnya waktu itu kau paranoid?"
"Ya, tebakanmu benar Kharis," balas Eri lalu tertawa canggung. "Oh, ya!Kembali pada seri yang aku baca. Mungkin maksud dari kata mundur itu adalah tentang masa lalu pangeran sendiri. Aku juga merasa pada serial maju nantinya Pangeran akan mencari putri seperti buku diary itu. Ingat waktu kau bilang diary itu adalah kisah si Wat sendiri? Dipikir-pikir memang menarik dibahas," jelas Eri walaupun ia sebenarnya tidak begitu antusias. Eri hanya merasa itu adalah hal terbaik yang mungkin akan membuat Kharis—si kutu buku akut— bersemangat. Atau mungkin Eri hanya gugup mendapati ekspresi dingin bak inspektur Kharis ketika ia meneliti buku?
"Seri lainnya?" Kharis bertanya kembali. Eri meneguk ludah. Ia benar-benar diinterogasi.
"Pada buku Angin diceritakan kisah tentang Wi yang seorang pengembara. Permasalahannya tentang bagaimana manusia biasa pun juga bisa sama berbahayanya. Yah, bahkan lebih berbahaya dari para pengendali yang seperti Wi sendiri. Di buku itu, Wi pun juga terkadang terlena dengan kekuatannya sendiri seperti Wat. Terkadang... Hmm, terkadang pemilik elemen dan manusia biasa serasa tak ada bedanya. Lalu, apa yang sebenarnya membuat manusia itu berharga? Begitu, kan?"
"Sifat dan hati yang dimiliki orang itu sendiri," jawab Kharis cepat.