Catatan Eri : berjalan menuju cahaya

Za Zlyn
Chapter #23

23. Dusta

Aros telah mati. Ia telah pergi dan aku akan pergi dari rumah ini. Nyonya Alianna dan yang lainnya memang orang baik. Tapi hanya satu yang disayangkan. Rumahku bukanlah di sini. Ini bukan tempat untukku.

"Aku senang bisa menjadi saudaramu, Wat. Meski semua itu kebohongan," Aros bergumam lirih. Ia masih sempat berujar di bawah tekanan stadium akhirnya. Serta di bawah naungan kenyataan bahwa operasi itu gagal. Waktu milik Aros tidaklah sebanyak yang diinginkan siapapun, baik Aros, keluarganya, atau diriku sendiri.

Kebohongan. Suatu kata yang tertenun sempurna di dalam rumah yang aku tempati satu tahun ini. Semua orang di sana berbohong. Bukan kebohongan yang berbasis kejahatan, melainkan kebohongan untuk mempertahankan dan menjaga perasaan. Hanya saja, kebenarannya sudah sampai padaku sejak awal. Sejak aku menjejak kaki di rumah itu ketika Aros menulis kode morse pada kertas.

"Kau bukan keluarga kami."

Itulah hal yang dibisikkan Aros di depan pintu saat itu. Serta ia tegaskan dengan camilan buah potong.

"Tapi, aku juga bukan siapa-siapa kecuali sebatas keponakan," imbuh Aros waktu itu. "Bibi Lia sudah merawatku sejak kecil. Ketika Ayahku harus menjagamu. Itu tugas Ayah untuk menjagamu. Kau bukan putranya padahal dibandingkan diriku. Kau tidak punya hubungan apapun dengan kami."

Sejenak dalam kebingungan itu, aku menemukan kemunginan untuk dibenci. Apalagi ia tahu akan hubunganku dengan air. Pesan Wi kembali terngiang jelas di rongga kepalaku.

"Tapi aku penasaran denganmu. Melihatmu beberapa kali saja membuatku berpikir kalau ada kesalahan. Aku terus saja mengingkari kenyataan kalau kau bukan saudaraku. Aku tidak bisa terima itu. Kita haruslah menjadi saudara."

Aros, Aros, sampai tinggal namapun... Kau adalah orang yang baik. Aku mengakui itu. Kau membuktikannya dengan caramu yang terlihat sederhana. Bukan pertarungan berdarah atau pengorbanan sampai mati. Tapi pemikiran ke depanmu itu. Kau menafikkan penyakitmu hanya untuk membimbingku. Memberi aku tongkat dan lentera untuk berjalan ke depannya.

"Begini, Wat. Kau mungkin amnesia akan banyak hal. Tapi, ada cara untuk mempertahankan ingatan itu. Diary sebenarnya cukup membantu. Intinya, walaupun kau tak ingat. Kau punya dasar untuk mempercayainya, kan," ucap Aros di sela-sela ia menyeburkanku ke sawah.

"Lalu, bagaimana jika diary itu juga hilang. Hangus terbakar misalnya."

"Benar juga. Bagaimana cara terbaik untuk mempertahankannya, ya... Hm... Paling tidak, bisa membacanya meski tidak sadar itu milik kita."

"Kau juga ingin amnesia?Tidak. Semudah itu..."

"Paling tidak, Wat. Ada usaha. Lagipula, ada banyak masalah lain yang sulit."

Aku meniup napas dalam-dalam. Terlalu banyak memori tentang Aros. Teman? Sahabat? Saudara? Mentor? Penasihat? Pembimbing? Tak terdefinisikan? Intinya tak terhitung. Selain itu, ia juga melindungiku dengan caranya sendiri.

Aros. Manusia biasa. Superior di hadapan diriku yang tiba-tiba merasa inferior. Ia membuat pemilik elemen menjadi inferior? Lucu sekali, bukan? Tapi itulah kenyataannya.

Lihat selengkapnya