Bentangan langit yang biru berpadu dengan tumpukan penampakan alam raya yang begitu subur. Di atas sudut elevasi 90° itu. Matahari mengembang cerah. Tampak putih bagai permata.
Eri menyipitkan matanya setelah mengintip terang-terangan pada matahari. Di sampingnya, ada anak laki-laki yang tengah tertawa dengan riangnya. Sementara di belakangnya, terdengar langkah kaki tenang disusul gerak lengan yang merengkuh diri Eri.
"Ha... ha... ha. Eri, sih terus aneh-aneh," ucap anak kecil laki-laki itu. Ia masih belum selesai tertawa.
Orang yang merengkuh Eri meletakkannya Eri di pangkuannya. Meraih helai demi helai rambut Eri dengan lembut. Eri berontak keras. Ia mengibaskan kepalanya agar orang yang memangkunya tidak punya kesempatan.
"Ibu, Eri itu tidak suka dikuncir," ucap anak laki-laki itu lagi.
Eri menoleh, memandang perempuan dihadapannya dengan ekspresi cemberut. "Kenapa rambut Bryan juga tidak di kuncir, Ibu?"
Ibu tersenyum dan Bryan langsung menyahut dengan suara yang keras. "Karena aku anak laki-laki, Eri. Kalau tidak mau dikuncir kaya kuda, Eri harus jadi laki-laki dulu."
Eri mengernyit dan menyandarkan tubuhnya di tubuh ibunya. "Ibu, apa yang dilakukan kakak tertua di luar desa?"
"Eri tampaknya penasaran sekali?" Sang ibu bertanya balik dengan lembut.
"Habisnya...," Bryan ikut bersandar pada ibunya. "... aku belum pernah melihat Si Pangeran Asa itu."
"Pangeran? Jadi, siapa yang sebenarnya kalian ingin tahu? Pangeran atau Kakak kalian?" tanya Ibu menggoda.
Eri tampak bingung namun Bryan mendengus tidak suka. "Sama saja, Ibu."
Ibu mereka tertawa. Kemudian terdengar lusinan kaki yang membuat ketiga orang ini menoleh. Bryan langsung sumringah melihat siapa saja orang yang datang.
"Kak Raka!" teriak Bryan. Ia langsung lari dari emperan rumah panggung dan melompat menuju Raka dan yang lain.
"Hati-hati, Bryan," ucap Raka sembari merentangkan tangannya. Kumpulan air hadir meraup tubuh kecil Bryan di dalam pusaran gelembung air.
Gelembung itu dengan mulus membawa tubuh Bryan ke hadapan Raka. Tangan Raka segera merengkuh si pemilik tubuh kecil itu sembari tertawa. "Kau pasti belum mandi ya, Bryan?!"
"Sekarang sudah. Kan ada air gratis tadi!" sahut Bryan penuh semangat.
Eri melangkahkan kaki kecilnya untuk ikut turun. "Mari kubantu Eri," sahut seorang remaja perempuan dalam rombongan Raka. Hembusan angin menerjang tubuh Eri. Membawa Eri berputar di udara dan akhirnya mendarat di tanah.
"Bagaimana, Eri?" tanya remaja perempuan itu.
"Pusing, Kak Wina," lapor Eri apa adanya. Semua orang di tempat itu sontak tertawa kecil.
"Kita mau kemana?" Bryan bertanya antusias.