Catatan Eri : berjalan menuju cahaya

Za Zlyn
Chapter #25

25. Rumah


"Aku ingin tanya—" Eri memandang lurus pada juntaian bayangan di ambang pintu. "—beberapa hal."

Untuk pertama kalinya dalam sepanjang umurnya, Eri mengajukan pertanyaan pada ketiga orang itu. Keadaan semakin hening dan dingin. Kegelapan terasa semakin pekat menghalangi pandangan Eri. Meski begitu, Eri sudah lupa untuk bersikap gentar. Eri telah memasuki fase dimana ia bisa berpikir jernih sekaligus melakukan hal bodoh bersamaan. 

"Siapa—" Eri bangkit dari duduknya dengan cepat. Tubuhnya kaku sekaligus gemetar. "—kalian?" 

"Eri? Apa yang kau tanyakan?" tanya Erni bernada bingung. Ia tampak siap melangkah mendekati Eri. 

"Diam! Diam di sana!" peringat Eri keras membuat punggung tiga bayangan itu menegak. 

"Baiklah jika kalian tidak mau menjawab," lanjut Eri sembari menggelengkan kepalanya. Membuat suaranya semakin bergetar. "Pertanyaan selanjutnya. Ini sebenarnya tempat apa?" 

"Eri, kau kenapa? Ini rumahmu, kan?" Erni kembali melangkah. Eri mengangkat satu tangannya, isyarat untuk diam dan Erni kembali diam di tempat. 

"Oke, soal selanjutnya," ucap Eri mengacuhkan pertanyaan balik yang dilontarkan ke padanya. 

"Apa yang kalian—" 

Angin di luar bergemuruh, gejolak yang sangat dahsyat untuk menyambut turunnya hujan lebat. Meski hujan tampak mengamuk besar-besaran, tidak ada kilasan petir yang merayapi angkasa. 

"—mau dari diriku?"

***

Keadaan senyap selama beberapa saat. Detik berikutnya, terdengar cekikikan geli dari Erni. 

"Eri Eri. Sudah sepuluh tahun, ya," ucap Erni masih lembut seperti biasa dengan posisi menghadap pada Eri. Eri sendiri tiba-tiba merasa ngeri. Bahkan setelah tertawa dengan cara seperti itu, Erni masih bisa menguntai nada lembut.

Erni berjalan mendekati dinding kamar Eri. Eri tidak lagi mencegah gerak Erni, tapi tatapan mata Eri tidak berpaling dari Erni sedikitpun. Sesampainya di depan dinding, Erni merabanya seakan hal itu punya sejuta kenangan indah. "Kau yakin ingin pergi, Eri?" 

"Tempatku bukan di sini," ucap Eri sebisa mungkin bersikap tenang. 

"Kau bahkan lebih lama di sini dibandingkan hidup di tempat itu, Eri," ucap Erni.

"Kau pikir ucapanmu itu dapat membuatku tetap di sini? Sedari awal, tempatku bukan berada di sini. Itulah faktanya," tegas Eri. 

Lihat selengkapnya