Keadaan di sekitar lantai tempatnya basah. Setidaknya itu yang disadari indra perasa Eri.
Perlahan Eri membuka matanya dan yang ia temui adalah warna hitam. Itu saja. Tidak ada warna yang lain.
Eri bangkit dari duduknya. Tinggi air yang menggenang di lantai mungkin baru sekitar di bawah telapak mata kaki.
Eri menunduk. Membiarkan jemarinya merasakan genangan air yang terasa sedingin es itu. Menggigiti daging dan tulang milik Eri.
Eri bangkit, mengibaskan tangannya untuk mengenyahkan dingin dari air. Kemudian, Eri melanjutkan dengan meraba tempat sekitarnya.
Lama mengobservasi, Eri mendapati kalau dirinya berada pada sebuah ruangan sempit. Tapi Eri tidak tahu apakah benar tepatnya seperti itu. Dari indra perabanya, Eri bisa merasakan dinding-dinding tanah kering yang sekeras batu. Mungkinkah Eri tanpa sadar mengubur dirinya dalam tanah?
Eri rasa tidak seperti itu. Anehnya, ia sekali tidak bisa merasakan koneksi dengan tanah! Apakah kekuatannya telah hilang? Atau ia terkurung di suatu tempat lain yang berada di atas bumi?
Eri kembali menunduk. Membiarkan tangannya meniti dasar tempat itu. Kurang lebih lantai dasar terasa sama dengan dinding yang mengurungnya. Keras dan kering. Namun Eri tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang dirasakan tangannya itu. Air yang terlalu dingin bisa saja mengacaukan kemampuan indra perabanya.
Percobaan kedua, Eri mencoba memukul dinding ruangan dengan kekuatan ala manusia biasa. Hasilnya hanya tangan Eri yang kesakitan.
Eri tidak mencoba untuk memukul lantai. Alasannya karena mungkin saja gaya pukulnya akan berkurang atau bahkan dilawan balik oleh air. Terlebih tampaknya air di tempat itu bertambah sedikit demam sedikit.
Eri mengernyit tidak suka. Selain di isolasi dengan cara yang tidak ia mengerti, Eri tampaknya juga akan ditenggelamkan hidup-hidup.
"Apakah ini upacara milik kalian?" tanya Eri datar. Perasaan takutnya telah terjatuh terlebih dahulu ketika ia berada diujung tanduk.
Eri sebenarnya berniat mencoba koneksi dengan elemen tanah jika tidak ada yang menjawab. Dan sebentar kemudian ada yang menimpali ucapannya.
"Yah, rupanya kau sekarang menjadi lebih pintar, Eri Erika," ucap suatu suara yang tidak Eri kenali. Meski begitu, Eri cukup yakin kalau suara sedap itu cukup dekat.
"Siapa kau?"
"Ah, kau membuatku sangat sedih, Eri. Kau bahkan melupakan suara kembaranmu sendiri."
Eri tersenyum masam. "Kau masih percaya diri menyandang gelar palsu itu, ya."
Suara itu tertawa. "Aku semakin kasihan padamu, Eri. Kau pintar di saat hidupmu sudah tidak ada harapan. Oh, ya! Sebenarnya aku di sini untuk menghiburmu. Ehm... Ada beberapa orang yang ingin menyapamu."
Eri tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam mendengarkan suara langkah kaki yang begitu ramai. Kemudian suara tersebut tersisa satu langkah dan berhenti.
Eri sangat yakin kalau suara langkah itu tepat di depannya. Hanya saja, matanya tidak bisa melihat apa-apa dan tangannya mengatakan di depannya hanya ada tembok.
"Hai, Eri," sebuah suara menyapanya lembut.