Catatan Eri : berjalan menuju cahaya

Za Zlyn
Chapter #27

27. Penjelasan

"Jadi, tempat ini sudah dikhususkan menjadi tempat penghabisan kekuatanku ?" tanya Eri to the point. Eri masih sibuk memandang tempatnya berdiri selama ini.

"Begitulah. Ada banyak kegelapan di sekitarmu yang bersentuhan denganmu pada tempat ini sebelumnya. Lalu ketika kau berusaha melawan dengan keahlianmu, disitulah celah bagi kegelapan itu. Kegelapan akan dengan rakus mengambil elemenmu dan menariknya secara paksa," jelas Kharis.

"Tapi, kenapa kalian tidak melakukan ini saja sedari dulu?" Eri penasaran.

"Karena kau akan mati konyol. Memangnya kau menyadari keahlianmu itu sudah ada setahun?"

Eri ternganga. "Bagaimana kau bi—. Ah, aku ingat! Kau adalah pengamatku."

"Kami semua mengamatimu, Eri. Seluruh orang di desa ini," jelas Kharis lirih.

Eri mencerna apa yang terjadi. Gaya bicara Kharis seperti orang yang mengaku dosa saja. Yah, Eri belum begitu memutuskan apakah Kharis adalah sekutu atau tidak. Dan lagipula, tanah kali ini tidak protes.

"Eh," Eri mematung sementara. Ia baru sadar kalau ia tidak merasakan radar Kharis dengan jelas.

Bahkan, Eri lebih merasa kalau ia seperti—apa, ya—anak normal barangkali. Jangkauan tanahnya begitu berjarak dan terbatas. Apakah sebenarnya ritual itu sudah mulai bekerja?

"Kau tidak mau beranjak dari sini?" tanya Kharis yang membuatmu Eri semakin waspada. Untungnya karena Eri ada di depan Kharis, Kharis jadi tidak tahu ekspresi waspada Eri. Tidak beruntungnya, pemangsa yang berdiri di belakangmu adalah kebodohan tingkat lanjut.

"Ehmm... Oke, ayo kita cari jalan keluar," ucap Eri berusaha sebiasa mungkin. Mereka akhirnya berjalan dengan Eri yang memutuskan untuk bertaruh berjalan di depan. Keuntungan ekspresi wajah harus ia manfaatkan baik-baik.

Setelah beberapa lama, Eri dan Kharis menemukan tanjakan yang cukup terjal. Bagus, karena Eri sudah muak dengan suara kecipak dan sulitnya berjalan di air.

"Apakah ada orang lain yang dibawa kesini?" tanya Eri sembari menaiki tangga. "Maksudku, yang dari... bangsaku."

"Setahuku, hanya kau yang memenuhi persyaratan untuk upacaranya."

"Persyaratan?"

"Begitulah, meski tampaknya ada sesuatu yang melesat dalam persyaratan itu. Sesuatu yang di luar dugaan."

Eri menggaruk kepalanya bingung. "Apa itu artinya kekuatanku cacat? Atau tidak bisa diambil?"

"Mungkin sejenis bom waktu. Elemenmu itu mengerikan, Eri. Sisi yang terlalu bodoh untuk ditanggung," jelas Kharis membuat Eri semakin bingung. Jika Kharis adalah orang yang bisa dipercaya, kata-katanya sendiri bisa menyesatkan Eri. Tapi jika posisinya musuh, Eri sendiri tidak bisa mengorek banyak hal dari Kharis.

"Sejujurnya Kharis. Pengamatanmu kemungkinan berlebihan. Kau berkata seakan dengan aku membalik tangan aku bisa bebas dari sini," ucap Eri lelah. Yah, jika kendali tanahnya baik-baik saja mungkin Eri memang bisa sebebas itu.

Kharis diam tidak menjawab. Hal itu memicu kecurigaan pada Eri kalau Kharis menghilang. Jadi Eri langsung berbalik menemukan wajah tidak percaya Kharis seakan Eri orang yang bebal. Eri tidak tersinggung kalau alasannya itu, ia mengakui kalau dirinya bebal.

Saat mendapat cahaya dari korek yang dibawa Eri, ekspresi wajah menghina itu berubah mengernyit. Ia dengan pelan berjalan mundur hingga masuk pada area tanpa cahaya api. Eri tidak sempat meminta maaf karena ia sadar alasan indra tanahnya berkurang. Yaitu sisi gelap tempat ini yang tidak terkena cahaya.

"Apakah... kegelapan benar-benar mengelilingiku?" tanya Eri gamblang.

Kharis tidak menjawab sama seperti sebelumnya. Tapi entah kenapa yang ini terasa seperti saat-saat Kharis mengiyakan ucapan Eri. Eri rasa itu adalah jawaban iya yang pedih sama seperti pertanyaan memakai payung itu.

"Kenapa kau membantuku?" tanya Eri kembali. "Kali ini... Aku butuh jawaban. Tidak apa kalau kau berbohong."

Kharis menarik napas berat. "Jalan, Eri. Jangan menyia-nyiakan waktumu. Kau juga seharusnya waspada dengan aku sekalipun."

Eri kembali berbalik dan melanjutkan langkah di tanjakan itu. Ia tidak banyak berbicara lagi bahkan ketika ujung tanjakan terlihat. Dan kali ini, Eri memastikan keberadaan Kharis dari suara langkah kaki di belakangnya.

Lihat selengkapnya