Catatan Eri : berjalan menuju cahaya

Za Zlyn
Chapter #28

28. Putaran

"Tanpa akhir," gumaman yang muncul dari Kharis membuat Eri berhenti. Sebab, sudah cukup lama mereka melangkah dan tidak ada lagi perbincangan yang mengudara.

"Apa yang tanpa akhir?" tanya Eri penasaran.

"Seharusnya lorongnya hanya membuat kita berjalan beberapa menit. Tapi ini jauh lebih dari itu. Mungkin sudah beberapa jam."

"Kita tersesat, kah?"

"Tidak," tukas Kharis cepat. "Sepanjang jalan kita hanya berjalan lurus. Aku sudah pernah menjelajah tempat ini beberapa kali. Tempat ini tidak mempunyai belokan," Kharis terdiam sekilas. "Benar juga, kita beberapa kali menemui tanjakan. Seharusnya tidak ada tanjakan seterjal itu di sini."

"Benarkah?" Eri mengedarkan pandangan lebih jelas ke dinding tanah di sekitarnya. Ia bahkan mencoba menyentuhnya dan merasakan apa yang sebenarnya terjadi. Hasilnya masih sama seperti sebelumnya. Respon tanah hanya sebatas cahaya yang ia sinari dengan korek api. Itupun tidak begitu jelas.

"Tanah itu gelap," simpul Kharis tiba-tiba. "Benar, tanah itu gelap."

Eri meneguk ludahnya. Ia memejamkan matanya memahami maksud kata Kharis. Terlebih, anak itu sampai bergumam dua kali. Sebuah penegasan.

"Kita diputar-putar. Kau tidak dibiarkan lolos dengan mudah, Eri. Ini menjelaskan kenapa aku masih bisa bertahan sejauh ini walau membeberkan banyak hal. Mudahnya, kau sudah berada digenggaman mereka sejak awal," tambah Kharis.

Ekspresi Eri mengerut. Ia terus memandangi sekelilingnya seolah sangat kelaparan. "Jadi, apa yang harus kita lakukan?"

"Bakar seluruh ruangan ini,"  usul Kharis tegas.

Eri memiringkan kepalanya. Sebenarnya opsi dari Kharis sangat brilian walau terkesan cari celaka.

Eri ingin berbalik melihat ekspresi Kharis lebih jelas. Sudah tahu dia tidak kebal cahaya tapi tanpa ragu mengusulkan hal seperti itu. Di sisi lain, andai Eri benar melakukan ide itu. Bagaimana cara mereka membakar tempat ini? Tidak ada barang memadai untuk dibakar saat ini. Yah, memang ada korek api yang tentunya butuh ribuan batang lagi untuk membakar seluruh tempat ini. Mungkin juga bukan ribuan, melainkan jutaan.

Selain itu, Kharis tidak terpikir akan konsekuensi menjadi sapi panggang, kah?

"Ide buruk. Kita jalan saja dulu," putus Eri sembari mengambil langkah. Eri memutuskan untuk menciptakan jalannya sendiri. Jalurnya sendiri. Meski kini kendalinya pada tanah sangat terbatas. Lebih dari itu, jika ia tidak hati-hati kemungkinan benturan pada kegelapan akan membuat masalah padanya.

***

"Aku merasa lorong-lorong ini tidak ada sebelumnya di sini," ucap Kharis lagi menjelaskan keadaan sekitar.

"Begitu?" pikir Eri sembari mengetukkan tangannya pada dinding tanah. Ia lalu berjongkok mengetuk permukaan tanah. "Tapi memang seluruh tempat terasa sama."

Terdengar suara dinding yang digaruk kecil dari belakang Eri. Tampaknya Kharis juga mencoba menganalisa tempat ini dalam versi bayangan kegelapan.

Suara garukan diam selama beberapa saat. Eri bahkan sempat merinding dan mengira Kharis tiba-tiba melangkah pergi.

"Ehm... Kharis, apa kau akan tiba-tiba hilang?" tanya Eri berusaha mengisi suasana. Hanya saja, Eri tidak sempat mempertimbangkan banyak hal dan berbicara yang terlintas di benaknya saja.

Eri menampar mulutnya menyadari topik yang bisa menyasar ke hal sensitif ini.

Lihat selengkapnya