Eri tiba-tiba berhenti. Ia memandang dinding yang baru saja ia sentuh dengan lekat. Ia lalu mencoba menyentuh dinding itu lagi yang terasa lebih lembek dari dinding sebelumnya.
Tambahan, keadaan ruangan sekitar terasa lembab dan lebih dingin. Apakah Kharis juga menyadari ini?
"Tampaknya kita ada di sekitar danau," ucap Kharis membenarkan kecurigaan Eri.
Eri memejamkan matanya. Berkonsentrasi dengan dinding lorong. Koneksinya terasa... kosong. Bukan terhalangi.
Eri tersentak. Ia punya suatu ide.
"Ayo pergi, Eri!" instruksi Kharis. Tapi Eri tidak bergeming.
"Eri!" panggil Kharis memastikannya.
"Aku ada ide," aku Eri tidak mengindahkan instruksi Kharis.
Korek api ditancapkan oleh Eri pada dinding yang lembab. Tangan Eri sendiri sibuk mengorek tanah. Berlagak gaya orang tanpa kendali tanah.
"Eri!" kali ini Kharis menghardiknya. Suara kakinya dengan cekatan mendekati Eri. Tampaknya Kharis menerobos kesanggupannya akan cahaya korek. Kemungkinan Kharis pikir Eri gila.
Yah, jika mereka ada dibagian bawah danau atau pinggiran yang cukup dalam. Hal itu tentunya beresiko akan hantaman dari tekanan air.
Air segera mengucur dari tanah yang Eri gali beberapa menit kemudian. Lubang yang dibuat Eri semakin deras. Bagai air bah yang menimpa ruangan itu. Kharis sendiri beberapa kali mencoba menghalangi Eri. Untungnya, kekuatan Kharis jatuh drastis sebagai bangsa kegelapan yang terkena cahaya.
"APA YANG KAU LAKUKAN! APA KAU MASIH BELUM PAHAM?!" bentak Kharis.
"AKU BERUSAHA! KITA PUNYA PELUANG KELUAR!" balas Eri tak kalah berteriak dengan penuh penegasan.
"KAU BAHKAN BELUM DI UPACARA KEDEWASAAN!" tambah Kharis lagi. Mengenai perihal pengetahuan Kharis akan upacara itu. Eri tidak heran karena Kharis adalah pengamatnya, pembaca buku Wat Wi, dan seorang yang suka berpraduga.
"BUKAN AKU YANG AKAN MEMBEBASKAN KITA! AKU SEDANG MEMINTA BANTUAN!"
Kharis bersiap kembali berteriak. Namun suaranya tenggelam. Oleh air yang langsung menyerang masuk.
Eri sempat merasa takut akan terobosan air bah yang memungkinkan tidak sesuai pikirannya itu. Tapi kemudian, Eri menyadari tubuhnya yang baik-baik saja dan terangkat lembut oleh air. Di detik-detik terakhir, Eri dengan cepat meraih lengan baju Kharis yang tidak jauh darinya. Seketika, air dengan keras menjungkir balikkan mereka berdua.
***
Eri dan Kharis berbatuk-batuk di pinggir danau, berusaha mengatur napas mereka kembali.
Eri pulih lebih cepat dari Kharis. Meski begitu, Kharis menunjukkan gelagat kalau ia tidak perlu dibantu.
Eri memandang ke langit yang untungnya sudah malam dan dipenuhi awan. Begitu terasa mengkhawatirkan bagi Eri namun sedikit menguntungkan Kharis. Itu saja sudah bagus.
Meski perasaan Eri sudah cukup bagus, ia sendiri tidak begitu bertenaga untuk bangun. Berdasarkan ucapan Kharis dan waktu saat ini, kurang lebih mereka sudah berjalan selama 12 jam. Atau terjadi pembelokan waktu seperti ilusi ruang yang sempat ia rasakan.
"Kau baik-baik saja, Eri?Maaf, tadi terlalu kasar. Aku harus berlomba dengan mereka."
Eri mengambil napas dalam. Lingkup tanahnya sudah mulai terasa luas meski agak samar. Dengan masih dalam posisi merangkak, Eri memandang pembicara itu tajam.
"Kau bisa mengeringkanku dan Kharis?" tanya Eri langsung.