Suara keras benturan pada air menginterupsi ucapan Eri. Orang-orang di pinggir danau segera memandang ke permukaan luas air yang gelap. Mendengarkan dengan saksama nyanyian air yang memantul-mantul. Ikan, kah?
Bayangan Kharis tampak diam mematung.
Entahlah apa yang dipikirkan anak itu. Ia berada di balik kegelapan hingga sulit menebak isi pikirannya.
Kharis kemudian berjalan dengan cepat mendekati reuni keluarga Eri. Dengan mantap memasuki zona cahaya bersama tarian angin yang semakin tajam. Tatapan dingin seorang pengamat ia hunuskan kepada Eri. Eri reflek mundur dua langkah, tampak bingung dibuatnya.
"Kharis, bukankah ini zona cahaya?" Eri bertanya. "Dan apa yang kau lakukan? Bukankah cahaya itu akan menyakitimu?"
"Sekarang, kau sudah merasakan keberadaanku dengan jelas? Apakah ada perbedaan saat aku di tempat ini dengan di tempat itu?" tanya Kharis beruntun.
Pandangan Eri menajam. Ia paham dengan klu Kharis kali ini. Pembatasan yang dirasakan ketika ia berputar-putar dalam gua itu. Apakah Kak Asa juga menyadarinya? Yah, Eri memang merasakan arena tanah yang luas. Tapi itu samar. Dan kesamaran sama dengan keraguan yang dipenuhi celah.
"Kau berada dalam zona cahaya cukup lama. Aku ingin tahu apa maksudnya," interogasi Eri pada Kharis. Setidaknya, ia harus menghabisi keraguan itu mulai dari fenomena Kharis ini.
Riak di danau kembali bertengger. Bahkan begitu riuh dibanding sebelumnya. Semuanya langsung memandang ke danau, tak terkecuali Kharis.
"Agar kegelapan tak mengendalikan diriku terlalu jauh dan terlalu cepat," jawab Kharis dengan sorot mata penuh tekad.
Ia kemudian menutup matanya. Sebongkah batu berukuran sedang menggelinding keluar dari tangannya. "Kusarankan lari. Mereka akan melemparkan sesuatu untuk melumpuhkan badan atau api kalian."
"Kau tidak ikut?" tanya Eri cemas.
Kharis membuka matanya perlahan. Menatap Eri dengan tajam. Menyerang pendapat Eri seperti biasanya hingga tanpa banyak basa-basi kesepakatan itu dikendalikan oleh Kharis.
Dalam waktu singkat, ketiga bersaudara itu langsung mengambil kayu untuk dijadikan obor. Mereka kemudian berlari menuju hutan sesuai instruksi Bryan. Asa sendiri memutuskan meninggalkan nyala tumpukan api sebagai penerangan untuk Kharis. Setidaknya dengan cahaya itu Kharis tidak akan dengan cepat membelot ke ranah kegelapan.
"Lewat sini!" teriak Bryan. "Flamingo sudah menunggu kita!"
"Flamingo?" Eri tidak mengerti akan ucapan Bryan. "Apa itu? Burung warna pink itu?"
"Teman angin yang super hebat intinya. Pokoknya Princess kalah, deh," jawab Bryan yang tidak menjelaskan apa-apa bagi Eri.