"Apakah dia masih hidup?" tanya Bryan memandang ke arah Asa dan Eri.
"Pingsan," jawab Eri.
"Lebih tepatnya sekarat," tambah Asa. Ia kemudian memandang ke arah Eri. "Aku bertanya-tanya, kau bersimpati padanya ?"
Eri memandang Kharis. Dengan kekuatan tanahnya ia berhasil membawa Kharis ke sekitar mereka dengan selamat. Setidaknya, itu untuk sementara.
"Menurut, Kakak. Apakah ada cara menyelamatkan seseorang dari kegelapan ?" Eri bertanya sambil memandang Asa lekat.
Asa menghembuskan nafas berat "Mereka yang telah terjebak atau sengaja masuk ke dalam kegelapan, tidak akan bisa diselamatkan lagi."
Kali ini, Eri yang menghembuskan napas berat. "Jadi, aku tidak bisa melakukan apa-apa, ya? Padahal, Kharis sudah banyak membantuku. Apa aku tidak bisa membalas budi?"
Bryan memperhatikan Kharis. Ia mendekati anak yang terkapar itu. Memandanginya dengan saksama. "Jika ia memang orang-orang kegelapan itu. Berarti, ia pingsan karena terlalu overdosis cahaya, ya. Ide konstruksimu itu cukup bagus agar ia tenggelam dalam bayangan kegelapan. Paling tidak, kau bisa balas budi sedikit."
Eri merasa berterima kasih akan dukungan dari Bryan meski suasana hatinya tetap buruk. Alhasil, Eri tidak menunjukkan senyuman.
Bryan berjalan mendekati Asa dan Eri. Ia membawa sobekan kertas. "Tampaknya ini tulisanmu, tuh, Prince."
Bryan membuka kertas itu memperlihatkannya pada Asa dan Eri.
Siapa yang tenggelam dalam kegelapan
Maka, sudah tidak ada yang bisa dilakukan.
"Bagaimana bisa ?" Asa bertanya-tanya mencoba membuka kembali buku yang ia bawa.
"Itu yang ada di diarymu, ya. Kenapa ia menyobeknya?" Eri juga bertanya-tanya.
"Memangnya ia orang seperti apa? Bicara padaku. Begini-begini, aku itu jenius, lho. Bintang sekolah yang tak tergoyahkan," ucap Bryan sembari menyisir rambutnya dengan tangan.
Eri memandangi Kharis siap menjelaskan. Namun sebelum penggalan kata keluar dari mulutnya, Kharis perlahan membuka matanya.
Kharis memandang bingung pada tiga sosok manusia yang tengah berdiri di depannya.
"Kenapa kalian masih di sini?" tanya Kharis.
Asa dan Bryan yang sebelumnya memandang Eri mengalihkan wajah pada Kharis. Sekarang seluruh pasang mata terpusat menuju Kharis.
"Ehm.. bagaimana, ya.. Meski tahu ada di mana Si Flamingo pun, itu tetap sulit. Tempat ini membuat berputar-putar," ucap Bryan.
"Koneksi akan alam pun tidak jelas. Terkadang penuh, setengah-engah atau nol sama sekali" tambah Asa.
"Api. Gunakan api ?" saran Kharis.