Retakan tanah meluber semakin luas. Eri sendiri merasa kewalahan menghadapi olahraga dadakan yang mempertaruhkan nyawa ini. Untungnya dengan cahaya korek api di tangannya, anak ini dapat sedikit mengontrol area tanah kecil tersiram cahaya yang ia pijak.
"Jangan lewat sana! Lewat sini!" teriak Kharis menunjukkan arah teraman. Sejauh ini, Asa dan Bryan mengikuti instruksi Kharis dengan baik. Tampaknya mereka sudah mulai percaya dengan Kharis. Yah, kalau ingatan Eri tidak salah, dulu Kharis memang mudah berteman dengan siapa saja walau bukan anak yang menonjol.
Tanah kembali meretak secara masif. Begitu lebar hingga Kharis kehilangan keseimbangannya. Anak itu hampir terjungkal jatuh ke jurang kegelapan.
Sebuah tongkat memanjang penuh kepercayaan. Secepat kilat mencari tumpuan dan terjadilah lompat galah yang dibangga-banggakan. Dengan sigap, Bryan sukses menangkap Kharis yang terjatuh dan sampai di seberang dengan selamat.
Eri dan Asa terus berlari mencari celah menyeberang yang aman. Akhirnya, ketiga bersaudara telah kembali berkumpul dalam lajur lari yang sama. Bryan tetap membawa Kharis dalam genggamannya. Lama berlari tanpa sebuah instruksi, ketiga saudara itu pun menyadari adanya sesuatu yang janggal.
"Kharis!" panggil Eri mendekat ke arah Bryan sambil berlari.
Bryan berpikir sebentar sambil merasakan genggaman tangan Kharis.
"Dia dingin," lapor Bryan.
"Eri, arahkan cahaya padanya!" perintah Asa sigap yang setia berlari di belakang mereka.
Dalam pelarian itu, Eri segera mengarahkan korek api di depan wajah Kharis. Ekspresi dingin sekilas dari wajah Kharis langsung berubah menjadi tersentak ngilu. Anak itu tampak benar-benar kaget.
"Ada apa?" tanya Eri.
"Bukan apa-apa—AWAS LAJUR KIRI!" teriak Kharis spontan.
Sesosok bayangan keluar dari pekatnya kegelapan jurang. Melompat ke arah mereka, siap menerkam siapa saja dengan cakarnya yang tajam. Untungnya Asa lebih siap. Mengingat hidupnya yang penuh pengalaman itu, hal ini adalah sesuatu yang wajar.
Embun-embun dengan cepat bergerak menyatu menggumpal menjadi tetesan air yang masif. Segera, gumpalan air itu terlempar pecah mengenai bayangan tadi. Membentuk kristalan air beku dalam sekejap mata. Bayangan itu akhirnya kembali terjatuh kaku ke dalam jurang. Tidak ada suara yang terdengar membuktikan kedalaman jurang tersebut.
"Apa itu?" tanya Eri bingung. "Bagaimana Kak Asa melakukannya tadi?"
"Hebat, kan!? Kekuatan Kak Asa memang sudah tingkat tinggi!" oceh Bryan mendadak antusias. "Tidak mengherankan jika ia jadi pangeran."
"Tampaknya koneksimu dengan tanah tidak banyak terganggu," analisa Kharis. "Di danau juga seperti itu."