Angin tiba-tiba berhembus kencang mengangkat helai-helai rambut para pelari itu. Terdengar dengungan yang cukup menganggu gendang telinga. Ditambah dengan sorotan cahaya yang menyakiti mata.
"Apa itu?" ucap Kharis bertanya-tanya.
"THAT IS FLAMINGO!" teriak Bryan penuh semangat.
"Jadi flamingo itu adalah burung mekanik. Oke, aku paham sekarang," gumam Kharis.
"JUNTAIKAN TANGGANYA!" teriak Asa.
Tangga tali segera terjuntai dari pesawat setengah helikopter itu. Bahkan, tangga yang dijulurkan Flamingo tampak enggan untuk menyentuh tanah.
"BRYAN! GALAHMU!" instruksi Asa.
"Oke, yang paling panjang. Semuanya berpegang padaku," ucap Bryan. "Ehm, tapi, Kak. Kau juga bantu aku, ya."
"Kita lihat saja nanti," ucap Asa.
Eri membuang nyala korek di tangannya. Ia dan Asa segera menggenggam Bryan dengan sekuat tenaga. Tapi Kharis tampak tidak berminat. Dia kembali menjaga jarak seperti sebelumnya.
"Kharis?" tegur Eri.
Kharis menatap Eri dan Asa ragu. "Haruskah?"
Asa berdecak cukup keras. Dengan cekatan, ia langsung menyambar tubuh Kharis. "Ini bukan saatnya untuk bingung."
"BERSIAP!" aba-aba Bryan. Tanah di depan mereka roboh. Tapi itu bukan masalah untuk Bryan.
Bryan dengan cepat menemukan tumpuan. Kumpulan orang ini siap menyeberang untuk menemui tangga Flamingo. "Tunggu dulu," ujar Bryan. "Ada yang salah."
Asa mengernyit. Seketika keseimbangan Bryan hancur. Kejadian berlangsung cepat, tidak ada yang tahu banyak apa yang terjadi terutama Eri. Serasa ada waktu yang dipangkas dan mereka sudah selamat dipinggir reruntuhan tanah.
"Nyaris," ucap Asa terengah. Bryan dan Eri tak kalah lelah. Kharis sendiri memandang datar pada tepian jurang.
"Mereka memanjat," desis Kharis. Anak-anak yang lain segera mengalihkan pandangan mereka ke jurang. Getaran tanah dan apa yang mereka lihat, mengindikasikan kalau ucapan Kharis benar. Tanah bukan lagi zona yang aman.
"Bukan itu saja," Kharis menunduk ke arah tanah di bawahnya. Eri meneguk ludahnya dengan susah payah. Entah kenapa tanah semakin pekat dan gelap saja.
"Lari, Eri!" ucap Kharis menyeret Eri menuju Flamingo sebagai tempat yang tercap aman. Eri sendiri kesusahan untuk berlari. Kakinya berulang kali tercekal. Kegelapan benar-benar memutuskan untuk tidak mau kehilangan Eri.
"Tidak bisa! Terlalu erat!" teriak Eri pada akhirnya ketika kakinya sempurna terikat.
"Api, Eri! Api!" Kharis mengingatkan.
Eri kembali memperlihatkan kecekatannya menggunakan korek api. Tapi, itu hanya api kecil bagi kegelapan yang besar. Dengan panik Eri mengambil korek lebih banyak. Beberapa korek yang tidak seberapa itu berhamburan ke tanah.