Catatan Eri : berjalan menuju cahaya

Za Zlyn
Chapter #34

34. Api


Hawa di ruangan pesawat terbang itu dengan cepat menurun. Tanpa saling bertanya. Bryan dan Eri sudah tahu jawaban dari masalah itu. Kharis dan kegelapan yang masih terpancar dari dirinya.

"Apa dia masih hidup?" tanya Eri mendekat, bersiap mengecek dengan jemarinya.

"Eri, jangan Sentuh!" peringat Asa. Ia tampaknya sedang kesulitan. Setelah diperhatikan secara saksama. Rupanya rajutan kegelapan mencekal erat Asa. Menyekapnya dengan erat.

Belum selesai seluruh masalah itu, lampu ruangan mulai berkedip-kedip.

"Ehm... jangan bilang ini efek samping dari kegelapan. Seperti di film-film horor itu," ucap Bryan memandang ke arah pencahayaan pesawat.

"Tidak juga," jawab Fero. "Jika kau lupa, kita sudah terjebak di tempat ini lama sekali. Kau pikir bahan bakar benda ini abadi? Kumatikan saja untuk lebih hemat."

Bryan siap menyuarakan protes. Juga mengingat keadaan Asa dan Kharis yang kesulitan. Tapi mau bagaimana lagi, kemungkinan mereka akan segera jatuh tergantung waktu dari bahan bakar yang tersisa.

"Sekarang, coba bebaskan Asa. Dia adalah bahan bakar cadangan terakhir kita," instruksi Fero mengingat kekuatan angin Asa yang begitu besar.

"Korek apinya," gumam Eri. Ia sendiri sudah terburu-buru dari tadi mengambil benda itu. Parahnya, saking gemetarannya Eri, korek api yang sedikit itu kembali berhamburan. Bryan segera membantu kembarannya. Mengambil beberapa korek api dan memberikannya pada Eri. Dengan kecepatan yang terlatih, Eri segera menodongkan korek apinya pada kakaknya, Asa.

Retasan api yang cukup besar membelah udara dan keadaan tenang yang singgah di tempat itu. Kegelapan yang menggelayuti Asa pun mulai mundur. Membebaskan Asa dari belenggu dan kembali pada diri Kharis.

"Asa, kau tak apa?" tanya Fero dari balik kemudi. "Masih bisa hidup dengan baik, kan?"

"Ehm... bukankah kakak sudah di upacara? Jadi dia baik-baik saja tentunya," tanya Bryan bingung.

"Upacara hanya untuk menguatkan ke dua elemen pada jiwa. Apalagi elemen ganda seperti itu seringnya tidak stabil. Memang lebih sulit direbut kegelapan. Tetapi sekali kegelapan sukses, maka kedua elemen akan langsung terambil dan Kakakmu hanya akan tinggal nama."

"Tinggal nama?" Eri cukup terkejut dengan fakta yang lebih terperinci ini. Eri mengalihkan pandangan pada Asa yang malah tersenyum jahil padanya. Padahal dirinya sendiri baru saja nekat bersentuhan dengan kegelapan untuk menenangkan adik-adiknya.

Fero sendiri mengangguk serius dari kursi kemudi. "Tampaknya, Pangeran Asa. Mereka masih sangat terobsesi padamu. Ada sejenis penyesalan tersembunyi, kah?" tanya Fero berusaha mencairkan suasana.

"Yah, mungkin mereka menyesal karena tidak cepat-cepat mengambil elemen airku sebelum upacara kedewasaan," timpal Asa tidak kalah santai.

"Elemenku tanah bukan air. Kenapa mereka malah membawaku pergi?" tanya Eri, kali ini korek api ia arahkan pada Kharis.

"Mungkin mereka mengira elemenmu air, Eri. Saat kecil kami mengira kau bagian ternetralkan," ucap Bryan.

Seketika memori Eri kembali berkelebat. Merangkai suatu pengertian. Ketika ia membawa Kharis yang pernah tenggelam di danau pada malam itu. Beserta pertanyaan Kharis setelahnya. Mungkinkah awalnya Kharis mengira ia pengendali air.

"Tapi, itu tidak menjelaskan kenapa hanya aku yang dibawa pergi. Bisa saja mereka membawa anak-anak yang lain, yang belum di upacara juga," ucap Eri.

Jujur, semuanya juga kurang tahu. Eri memutuskan mencari penjelasan itu sendiri. Dengan cara membongkar seluruh memorinya. Kejadian saat badai itu. Eri rasa, ia memang incaran sejak awal. Kenapa bukan kak Asa? Apa karena Kak Asa telah di upacara? Padahal ia adalah pemilik elemen air.

Lihat selengkapnya