Catatan Eri : berjalan menuju cahaya

Za Zlyn
Chapter #35

35. Cahaya


"Ehm... Kalau boleh jujur, " Fero memandang sebentar ke belakang. "Kalian tahu, sampai kapan aku harus seperti ini. Tempat ini tanpa ujung."

Bryan, Asa, dan Eri saling melempar pandangan. Yah, walaupun beberapa hal sudah membaik. Mereka tetaplah masih berada di tanah kegelapan.

"Benar juga," ucap Bryan heboh sambil menyentuh kepalanya. "Ck! Seribu ekspedisi dan tak ada petunjuk akan jalan keluar. Jika seperti ini terus, bahan bakar akan habis. Parahnya, masa mau mendarat di puing-puing yang masih mengamuk itu."

"Bagaimana ya, saat di atas pun tidak ada jalan. Ada medan magnet gaib di sini. Secara terus menerus memutar kita di tempat ini," pikir Asa menyadari apa yang nanti akan menghadang mereka.

Eri memandang sekitar. Setengah berpikir sambil berusaha menolong Kharis. Kharis? Benar juga, anak ini pernah mengatakan sesuatu. Meski mungkin itu adalah satu dari sejuta praduganya, menurut Eri itu sangat patut untuk dicoba.

"Elemen cahaya," ucap Eri seketika. "Kalian sudah mencoba hal itu?"

Kharis dan Bryan langsung menggeleng. Fero sendiri terlihat tidak mengerti akan perbincangan elemen cahaya ini.

"Meyatukan seluruh kekuatan. Aku tak begitu tahu bagaimana caranya." ucap Bryan kemudian mengangkat kedua tangannya.

"Yah, tapi apalah dayaku untuk berkomentar. Aku hanya orang biasa di antara para manusia abnormal ini."

Eri memandang Asa serius. "Kita coba sekarang?!"

"Tapi, tidak ada tanah disini," ucap Asa masih memikirkan banyak hal.

"Tempat ini mengerikan. Tidak ada jaminan keadaan aman. Coba saja, selagi aku masih menggenggam api ini," paksa Eri. "Air dan angin milikmu serta api dan tanah milikku."

Asa berpikir sebentar. Ia kemudian maju mendekati Eri, menjulurkan tangannya. Eri segera membalas uluran tangan itu dengan sebelah tangannya. Sementara tangan yang satu lagi ia arahkan pada kegelapan yang merongrong Kharis.

"Fokus, Eri. Fokus pada elemenmu. Akan mudah membayangkan dengan menutup kedua matamu?" instruksi Asa. Kemudian Eri dan Asa memejamkan kedua mata mereka bersamaan.

Angin terasa berhembus meliuk-liuk, melingkar dengan bebas di udara. Tidak mengherankan karena angin itu ibarat penguasa langit.

Tetesan embun yang dingin dan menyegarkan mengembang di hampir seluruh penjuru. Percikan-percikan air bergemericik, melompat di berbagai sela material yang ada. Uap air ikut menari dengan riang di udara.

Tanah memberikan sambutan berbagai rupa. Perbukitan, gunung, medan yang tinggi, terjal, bahkan datar. Menghampar sebagai tumpuan dari berbagai kehidupan. Tempat bersemayam bagi tumbuhan, hewan, dan juga manusia.

Kehangatan cahaya mentari merambat cepat dan halus. Begitu santun memberi kehangatan. Menjadi tonggak bagi berbagai pergeseran waktu.

Asa dan Eri membuka kedua mata mereka dengan perlahan. Kemudian saling bertatapan tanpa berkata-kata. Sebuah gambaran yang begitu jelas. Tempat ini menjadi terasa begitu gamblang tanpa adanya embel-embel kegelapan.

"Lalu, apa?" tanya Eri.

"Secepatnya. Kita arahkan pesawat ini," ucap Asa memberi instruksi. Kemudian kedua bersaudara itu memejamkan mata mereka kembali.

***

Lihat selengkapnya