Jam 08.15 WIB. Aku terbangun dengan jantung yang berdegup kencang, seolah baru saja lari maraton dikejar Debt Collector. Mataku melirik jam dinding. "MAMPUS!" teriakku, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
Namaku Devi Leona. Usiaku 27 Tahun. Aku seorang budak korporat yang mengais rezeki dibelantara gedung jakarta. Leona artinya Singa Betina. Tapi pagi ini, aku lebih mirip kucing kampung yang kecebur got. Kantor masuk jam 08.30. Jarak kosan ke kantor 10 kilometer. Secara logika matematika, fisika, dan geografi, aku sudah pasti telat. Tamat riwayat bonus kehadiranku.
Semalam, Si Botak (Bosku yang kepalanya lebih licin dari lantai marmer lobi) memaksaku merevisi laporan keuangan sampai jam 3 pagi. Akibatnya, alarm HP yang sudah kusetel 10 kali (dari jam 6.00 sampai 6.30) sukses kulewatkan. Aku curiga aku mematikannya dalam keadaan tidak sadar, mungkin arwahku yang matiin saking capeknya.
Aku mandi bebek (asal basah), sikat gigi secepat kilat (sampai gusi berdarah dikit), memakai kemeja kerja yang untungnya sudah disetrika, menyambar tas, dan lari keluar kamar. Tanpa make-up. Wajahku pucat seperti pasien tifus. Rambutku kucir kuda asal-asalan. Aku memesan Ojol (Ojek Online). Dapat! Driver: Mas Wahyu. Motor: Honda Beat (Merah). Rating: 4.9.
Mas Wahyu datang 3 menit kemudian. "Mbak Devi ya?" sapanya ramah dengan senyum santun. "Iya Mas! Mas, tolong ngebut ya! Saya udah telat parah! Kalau perlu terbang, terbang Mas! Saya bayar lebih!"
Mas Wahyu tersenyum bijak. "Waduh Mbak, alon-alon asal kelakon (pelan-pelan asal selamat). Kita utamakan keselamatan ya, Mbak. Keluarga menunggu di rumah."
Hatiku mencelos. Aku dapat tipe driver "Safety Riding Ambassador". Aku naik ke boncengan dengan pasrah. "Tolong usahain cepet ya Mas..." rengekku putus asa.
Mas Wahyu menjalankan motornya. Kecepatannya: 38 km/jam. Stabil. Sangat stabil. Saking stabilnya, siput di pinggir jalan rasanya bisa menyalip kami. Aku menggigit bibir, kakiku gemetar menahan emosi. Setiap detik yang berlalu adalah potongan gaji yang melayang.
Kami melaju di jalan raya yang padat merayap. Mas Wahyu tetap konsisten di lajur kiri, sopan, menyalakan lampu sein 100 meter sebelum belok. Malaikat pasti bangga padanya. Tapi setanku sedang bergejolak.
Tiba-tiba, dari sisi kanan, terdengar suara knalpot brong yang memekakkan telinga. BREM... BREM... BREMMMM! Sebuah motor RX-King butut yang dimodifikasi seenak jidat menyalip kami dengan jarak tipis. Pengendaranya: Dua orang lelaki muda. Ciri-ciri: Tidak pakai helm, rambut dicat warna jagung (kuning norak), pakai celana jeans sobek-sobek, dan... Yang dibonceng sedang Merokok.
Tangan si pembonceng menjuntai santai ke samping, memegang batang rokok yang menyala. Bara apinya merah menyala tertiup angin. Mereka menyalip tepat di depan motor Mas Wahyu.
Tiba-tiba... FLICK. Si pembonceng menjentikkan abu rokoknya ke belakang. Angin membawa butiran abu panas dan bara api kecil itu terbang lurus ke arah wajah Mas Wahyu. Mas Wahyu yang helmnya half-face dan kacanya dibuka (biar adem katanya), tidak sempat menghindar.
"ADUH!" Mas Wahyu berteriak kesakitan. Motor Beat oleng. Stang bergoyang liar ke kiri dan ke kanan. Kami hampir menabrak trotoar. "MAS! AWAS!" teriakku.
Mas Wahyu dengan sisa penglihatannya berhasil mengerem mendadak di pinggir jalan. CIIIIIT! Kami berhenti tepat 5 sentimeter dari lubang galian telkom. Nyaris.
Mas Wahyu langsung membuka helmnya, memegangi mata kanannya. Matanya merah, berair deras. "Perih Mbak... Perih banget... Kemasukan bara..." rintihnya.
Aku melihat ke depan. Dua pemuda "Jamet Knalpot Brong" itu tidak berhenti. Mereka malah menoleh ke belakang, melihat kami yang nyaris celaka, lalu TERTAWA. "Hahaha! Lemah lu!" teriak si pembonceng sambil mengacungkan jari tengah. Lalu mereka tancap gas. NGUENGGGG! Kabur.
Saat itulah, sesuatu di dalam diriku patah. Rasa kantukku hilang. Rasa takut telatku hilang. Yang tersisa hanyalah KEMURKAAN. Darah mendidih naik ke ubun-ubun. Bayangan Si Botak yang menyuruhku lembur, bayangan gaji yang dipotong, dan bayangan Mas Wahyu yang kesakitan karena ulah manusia sampah itu, semuanya bersatu menjadi bahan bakar nuklir di dadaku.
Aku turun dari motor. "Mas Wahyu, minggir," perintahku. Suaraku rendah, tapi menguarkan aura membunuh.
"Mbak... mata saya sakit..." Mas Wahyu masih merintih.
"Saya tau Mas. Makanya minggir. Pindah ke belakang. Sekarang."
"Hah? Maksudnya gimana Mbak?"
"SAYA YANG BAWA MOTORNYA. SAYA MAU KEJAR BANGSAT-BANGSAT ITU."
Mas Wahyu melongo, matanya yang satu merah, yang satu kaget. "Ta-tapi Mbak... Bahaya... Saya gak bisa..."
Aku merogoh dompet. Mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu (uang terakhirku sebelum gajian, bodo amat). "Ini 200 ribu. Ongkos saya bayar lunas sekarang. Nanti di aplikasi saya kasih bintang 5, tip maksimal, dan ulasan pujian sepanjang novel. Sekarang DUDUK DI BELAKANG ATAU SAYA BAJAK MOTOR INI SECARA ILEGAL!"
Aura "Budak Korporat Stress" yang keluar dari tubuh mungilku begitu pekat sampai Mas Wahyu merinding. Dia tidak berani membantah. Dengan gemetar, dia pindah duduk di boncengan.
Aku naik ke kursi pengemudi. Kakiku jinjit sedikit (nasib orang pendek), tapi begitu motor jalan, itu tidak masalah. Aku membetulkan posisi spion. Aku mengikat rambutku lebih kencang. Aku menurunkan kaca helm Mas Wahyu (yang sekarang kupakai).
"Pegangan yang kenceng, Mas. Kalau perlu peluk behel motornya. Jangan lupa dzikir," kataku dingin.
"Mbak... pelan-pelan ya..."
Aku menyeringai. "Pelan itu mitos."
Aku memutar selongsong gas sampai mentok. NGUOOOONG!!! Honda Beat merah itu menjerit. Mesin 110cc-nya dipaksa bekerja melampaui batas wajar. Kami melesat bagaikan roket yang telat orbit.
Jalanan Jakarta adalah medan perang. Dan aku adalah Jenderalnya. Dua motor Jamet itu sudah jauh di depan, sekitar 500 meter. Mereka menyelip di antara mobil-mobil. "TARGET TERKUNCI," gumamku.
Aku memacu motor. Speedometer menyentuh angka 80... 90... 100 km/jam. Mas Wahyu di belakang berteriak, "ASTAGHFIRULLAH! SUBHANALLAH! ALLAHU AKBAR! MBAK REM MBAK! ADA TRUK!"
Di depan ada Truk Kontainer yang berjalan lambat. Celah di sebelah kirinya sempit. Normalnya, orang akan ngerem. Tapi aku bukan orang normal hari ini. Aku adalah Dominic Toretto versi kearifan lokal.
Aku tidak ngerem. Aku memiringkan badan. SWUSH! Kami menyelinap di celah sempit antara ban truk dan trotoar. Spion motor berjarak cuma 1 sentimeter dari bodi truk. "LAA ILAHA ILLALLAH!" teriak Mas Wahyu, suaranya bergetar hebat.