Selasa pagi yang terkutuk. Hari ini adalah hari besar. Big Day. Aku punya jadwal meeting dengan klien VVIP dari perusahaan properti raksasa. Bosku, sebut saja Pak Bos (pria yang hobi ketawa di atas penderitaan bawahan), sudah mewanti-wanti sejak seminggu lalu.
"Dev, jangan pake baju aneh-aneh. Jangan pake kaos gambar tengkorak. Pake baju formal. Kemeja putih, rok bahan hitam. Biar kelihatan profesional," titah Pak Bos.
Aku, Devi, sebagai budak korporat yang patuh (dan butuh gaji), menuruti perintah itu. Aku membuka lemari. Mengambil kemeja putih lengan pendek yang baru disetrika licin. Lalu mengambil rok hitam span selutut. Aku memakainya. Bercermin.
Dan di sanalah masalah pertama muncul. Tuhan menganugerahiku tubuh yang... compact. Tinggi 154 cm (itu kalau lagi jinjit), badan kurus kering, dan wajah baby face yang lebih mirip bocah yang baru belajar pembagian matematika daripada wanita karier yang memikirkan KPR.
Saat aku memakai kemeja putih dan rok hitam itu, ditambah tas ransel laptop di punggung, aku tidak terlihat seperti Eksekutif Muda. Aku terlihat seperti Siswi SMP Teladan yang siap mengikuti Lomba Cerdas Cermat.
"Ah, perasaan gue aja kali," gumamku menenangkan diri. "Nanti kalo pake heels dan ID Card kantor, aura dewasanya keluar."
Aku memasang nametag kantor dengan tali lanyard biru di leher. Sempurna. Sekarang aku terlihat seperti Siswi SMP yang lagi study tour.
Jam menunjukkan pukul 09.00. Meeting jam 10.00. Jalanan Jakarta macet total. Merah pekat di Google Maps. Ojek online langgananku membatalkan pesanan tiga kali. Aku terpaksa naik angkot untuk menyambung ke stasiun, lalu jalan kaki lewat "Jalan Tikus".
Jalan tikus ini adalah gang sempit di belakang area sekolah-sekolah, terkenal sebagai jalur cepat memotong kemacetan, tapi juga terkenal sebagai habitat alami para pelajar yang bolos.
"Bismillah, nyampe tepat waktu," doaku.
Aku tidak tahu, doa itu akan dijawab dengan cara yang sangat, sangat salah.
Aku berjalan cepat di gang sempit itu. Panas matahari mulai menyengat, membuat bedak tipisku luntur. Di kanan-kiri tembok penuh coretan mural abstrak karya seniman jalanan yang galau.
Tiba-tiba, dari ujung gang, terdengar suara teriakan. "WOI! LARI! ADA SATPOL PP! RAZIA! LARI WOI!"
Sekelompok anak SMA dengan seragam dikeluarkan berhamburan berlari ke arahku. Mereka melompati selokan, memanjat pagar, persis adegan film Crow Zero kearifan lokal.
Aku menepi ke tembok, memeluk tas laptopku erat-erat. "Buset, ada tawuran apa gimana nih?"
Aku berniat lanjut jalan santai. Toh, aku bukan pelajar. Aku warga negara pembayar pajak yang taat. Aku punya NPWP. Aku punya kartu BPJS. Aku aman.
Namun, logika Satpol PP ternyata berbeda. Dari balik tikungan, muncul sebuah truk bak terbuka berwarna hijau dengan garis kuning. Truk itu berhenti mendadak. Turunlah lima orang petugas Satpol PP bertubuh kekar, berkumis tebal, dan berwajah garang.
Mereka menyebar, menangkap anak-anak sekolah yang kocar-kacir. Aku masih berjalan santai, mencoba bersikap cool.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar mencengkeram lengan atasku. "Eits! Mau ke mana kamu, Dek?!" suara bariton itu menggelegar.
Aku menoleh. Seorang petugas Satpol PP dengan perut sedikit maju dan kumis melintang menatapku tajam.
"Hah? Saya Pak?" tanyaku bingung. "Saya mau kerja, Pak."
Si Bapak Petugas, mari kita sebut Pak Kumis, tertawa meremehkan. "Kerja? Alasan klise! Jam segini tuh jam belajar! Kamu masih SMP kan? Liat tuh seragammu! Putih biru (padahal rokku hitam, tapi mungkin di mata dia warnanya bias)!"
"Ini rok hitam Pak! Bukan biru dongker! Saya karyawan swasta!" protesku. "Saya 26 tahun Pak! Sumpah!"
"Halah! Jangan bohong! Muka kamu tuh masih bau minyak telon! Mana kartu pelajar?!" Pak Kumis membentak, tangannya masih mencengkeram lenganku.
Darahku mendidih. Ini penghinaan sekaligus pujian yang tidak pada tempatnya. "Saya gak punya kartu pelajar! Saya punya KTP! Nih!"
Dengan gerakan dramatis, aku merogoh dompet, mengeluarkan KTP-ku. Aku menyodorkannya tepat di depan hidung Pak Kumis. "Nih Pak! Liat tahun lahirnya! 1999! Saya udah tua Pak! Saya udah mikirin cicilan dan arisan!"
Pak Kumis mengambil KTP itu. Dia membolak-baliknya. Dia menerawangnya ke arah matahari. Lalu dia mengetuk-ngetuk KTP itu. "Wah... canggih bener anak jaman now," gumam Pak Kumis. "Palsuin KTP-nya niat banget. Blangkonya persis asli. Beli di mana kamu? Pramuka? Senen?"
"ITU ASLI PAK!!! YA ALLAH!!!" teriakku frustasi. "Cek NIK-nya kalo gak percaya! Panggil Dukcapil!"
"Udah, gak usah banyak drama!" Pak Kumis tidak peduli. Dia menyeret, benar-benar menyeret, aku menuju truk hijau itu. "Jelasin nanti di kantor! Sekarang naik! Temen-temen bolosmu udah nunggu!"
"SAYA BUKAN BOLOS! SAYA ADA MEETING! PAK! LEPASKAN SAYA! SAYA PUNYA BEKINGAN HRD!"
Teriakanku sia-sia. Tubuh mungilku dengan mudah diangkat dan diletakkan (lebih tepatnya dilempar pelan) ke atas bak truk.