Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #2

Keberhasilan Yang Tidak Diharapkan

Senin pagi. Waktu di mana semangat hidup manusia berada di titik nadir, setara dengan sisa saldo di akhir bulan. Aku duduk di kubikelku, menatap layar komputer dengan tatapan kosong, berharap ada meteor jatuh menghantam server kantor agar semua data pekerjaan hilang.

Tiba-tiba, interkom berbunyi. Suara cempreng Pak Bos (selanjutnya kita sebut Si Botak) terdengar. "Devi, ke ruangan saya. NOW!"

Aku menyeret kakiku yang terasa seberat beton menuju ruangannya. Di dalam, Si Botak sedang duduk di kursi kebesarannya, memutar-mutar pulpen mahal yang aku yakin dia tidak tahu cara mengisinya kalau tintanya habis.

"Devi," katanya dengan nada dramatis. "Kita punya peluang emas."

Jantungku berdegup kencang. Bukan karena antusias, tapi karena ngeri. Di kamus Si Botak, "Peluang Emas" artinya "Kerjaan Tambahan Tanpa Lembur".

"Kita akan mengajukan kerjasama dengan PT Zenit Digital. Mereka startup Unicorn yang lagi naik daun. Kalau kita dapat proyek ini, valuasi perusahaan kita akan naik drastis!" seru Si Botak, kepalanya memantulkan cahaya lampu neon dengan silau.

"Terus, peran saya apa Pak?" tanyaku lemas.

"Kamu yang negosiasi! Kamu yang presentasi! Saya percaya kemampuan komunikasimu. Buat mereka terkesan. Buat mereka tanda tangan kontrak hari ini juga!"

Aku membelalak. PT Zenit Digital? Itu perusahaan yang terkenal dengan deadline super ketat, revisi tanpa batas, dan load kerja yang bisa bikin tipes stadium 4. Kalau kantor kita kerjasama sama mereka, artinya... Artinya aku, Devi, sebagai penanggung jawab proyek, akan bekerja 25 jam sehari. Artinya weekend ku akan punah. Artinya aku akan menua sebelum waktunya.

"Tapi Pak..."

"Tidak ada tapi-tapian! Berangkat jam 10 nanti. Kalau gagal, evaluasi tahunan kamu saya kasih nilai D!" ancam Si Botak.

Aku keluar ruangan dengan lutut gemetar. Aku dihadapkan pada dilema simalakama. Kalau berhasil: Kerjaan nambah gila-gilaan, hidupku hancur. Kalau gagal: Karirku hancur, bonus tahunan melayang.

Tapi, otak licikku yang sudah ditempa oleh penderitaan bertahun-tahun menemukan celah. Si Botak bilang "Kalau gagal". Dia tidak bilang "Kalau kamu sengaja menggagalkan". Tujuanku sekarang jelas: Membuat PT Zenit Digital ILFEEL dan MENOLAK kerjasama ini. Aku harus melakukan sabotase. Aku harus tampil seburuk mungkin, sebodoh mungkin, dan se-tidak profesional mungkin, sampai mereka jijik dan mengusirku.

"Misi: Gagal Total, Dimulai," gumamku sambil tersenyum miring.

Aku punya waktu satu jam untuk merusak reputasiku sendiri. Langkah pertama: Penampilan. Biasanya aku tampil rapi, wangi, dan elegan (biarpun hati menangis). Kali ini, aku harus terlihat kacau. Aku mengacak-acak rambutku agar terlihat seperti orang yang baru bangun tidur dan belum sisiran tiga hari. Aku melonggarkan kancing blazerku, mengeluarkan ujung kemeja sebelah kanan (biar asimetris norak), dan memakai sandal jepit yang kusimpan di kolong meja (cadangan kalau hujan). Ya, sandal jepit Swallow warna hijau yang sudah tipis sebelah.

Langkah kedua: Materi Presentasi. Aku membuka file PowerPoint yang sudah disiapkan tim marketing. Isinya bagus, grafiknya keren. "Terlalu bagus," komentarku. "Mereka pasti nerima kalau begini."

Aku mulai mengedit. Font Helvetica yang elegan aku ganti dengan Comic Sans dan Papyrus. Warna latar belakang aku ubah menjadi Kuning Neon yang menyakitkan mata. Warna teksnya? Merah Darah. Kontras yang bisa bikin epilepsi. Grafik kenaikan keuntungan aku putar balik jadi menurun, lalu aku kasih stiker GIF "Kucing Menangis" di pojok slide. Judul Presentasi: "KERJASAMA MASA DEPAN" aku ganti jadi "YAH... KITA COBA AJA DEH SIAPA TAU CUAN (TAPI KAYAKNYA ENGGAK)".

Langkah ketiga: Aroma Terapi. Aku tidak memakai parfum Jo Malone andalanku. Aku mengoleskan Minyak Kayu Putih di seluruh badan, dicampur sedikit balsem otot Geliga. Baunya? Seperti Panti Jompo yang baru saja mengadakan senam massal.

"Sempurna," kataku di depan cermin toilet. "Siapa yang mau kerjasama sama gembel korporat bau balsem ini? Pasti ditolak mentah-mentah."

Aku tiba di kantor PT Zenit Digital. Kantornya beda jauh sama kantorku yang kaku. Ini kantor startup kekinian. Dindingnya penuh mural abstrak. Kursinya bukan kursi kerja, tapi Bean Bag warna-warni. Tidak ada resepsionis, adanya robot yang menyapa "Selamat Datang, Manusia". Karyawannya pakai kaos oblong, celana pendek, dan ada yang bawa anjing ke kantor.

Aku, dengan setelan blazer berantakan dan sandal jepit Swallow, melangkah masuk dengan percaya diri yang palsu. Bau balsemku langsung merebak, mengalahkan aroma kopi Arabica mahal yang ada di lobi.

Seorang pria muda menghampiriku. Usianya mungkin seumuranku, tapi gayanya edgy banget. Rambutnya dicat silver, pakai kacamata tanpa lensa, dan syal (padahal Jakarta panasnya 35 derajat). Namanya River (Ya, River. Bukan Bambang atau Agus). Jabatannya: Chief Visionary Officer.

"Halo, Devi ya dari PT Suka Makmur?" sapa River ramah, meski hidungnya sedikit kembang kempis mencium aroma balsemku.

"Yoi, Bro," jawabku sok asik, tidak sopan. Aku sengaja tidak menjabat tangannya, malah melakukan gerakan fist bump ke udara yang canggung.

"Silakan masuk ke Think Tank Room kami," ajak River.

Kami masuk ke ruangan rapat yang dindingnya kaca semua. Di sana sudah menunggu dua eksekutif lain: Sky (cewek dengan rambut undercut) dan Ocean (cowok yang duduk bersila di atas meja). Nama mereka kenapa elemen alam semua? Apa syarat masuk sini harus jadi pengendali Avatar?

"Silakan, Devi. Kami dengar perusahaan kalian punya legacy yang kuat. Coba paparkan apa yang bisa kita kolaborasikan," kata Ocean.

Inilah saatnya. Panggung kehancuranku.

 

Aku menyambungkan laptopku ke layar besar. Begitu slide pertama muncul, ruangan itu hening. Warna kuning neon dan font Comic Sans merah darah terpampang nyata sebesar 80 inci.

Slide 1: "PT SUKA MAKMUR: KANTOR TUA YANG ISINYA ORANG STRESS"

Aku melihat reaksi mereka. Sky menyipitkan mata (mungkin silau atau jijik). Ocean memiringkan kepala. River mengelus dagunya.

"Oke, Guys," bukaku tanpa basa-basi. Aku duduk di kursi dengan kaki diangkat satu (posisi warteg), memamerkan sandal jepit Swallow-ku. "Jadi gini. Bos gue, Si Botak, nyuruh gue kesini buat minta duit...eh maksudnya kerjasama. Jujur aja ya, kantor gue tuh toxic banget."

Lihat selengkapnya