Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #2

OB Yang Jatuh Hati

Semua berawal dari keputusasaan pasca-lulus SMK. Ijazahku sepertinya terbuat dari tinta yang tidak terlihat, karena setiap kali aku melamar kerja, perusahaan seolah tidak melihatnya. Hingga akhirnya, aku menemukan lowongan di tiang listrik: "DIBUTUHKAN: PASUKAN PEMBERSIH ELIT. TAHAN BANTING, TAHAN MALU, TAHAN LAPAR. GAJI UMR (PAS-PASAN)."

Itu adalah iklan dari PT Bening Sejahtera Abadi (BSA), sebuah vendor penyedia jasa Outsourcing yang menyuplai tenaga kerja kasar ke gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Slogannya cukup intimidatif: "Anda Nyampah, Kami Musnahkan."

Namaku Aryo Baskara, usiaku 27 tahun. Hanya lulusan SMK biasa, ga kuliah karena ga ada biaya. Sejak lulus SMK aku sudah berganti-ganti kerjaan, walaupun kerjaannya ga bisa kupajang di CV. Antar-jemput keponakan, jualan power bank di fjb, kuli bangunan, dan ngamen di terminal.

Akhirnya Aku mendaftar perusahaan itu. Tesnya sederhana tapi brutal.

Tes 1: Kecepatan menyapu. Aku harus menyapu debu di ruangan seluas lapangan futsal dalam 5 menit. Aku berhasil dengan teknik Tornado Sweep yang kuraalajari dari melihat tukang sapu jalanan.

Tes 2: Ketahanan mental. Seorang HRD berteriak di depan mukaku, "KOPI SAYA MANA?! KOK PAIT?! KAMU MAU NGERACUNIN SAYA?!" Aku hanya tersenyum tabah dan menjawab, "Maaf Pak, hidup Bapak yang pait, kopinya sudah manis." (Untung dia ketawa, kalau enggak aku udah di-blacklist).

Akhirnya, aku diterima. Aku menandatangani kontrak kerja setebal skripsi. Isinya intinya: Saya menyerahkan raga saya untuk kebersihan, dan jika punggung saya patah, itu resiko hobi.

Aku ditempatkan di Gedung Menara Emas, markas besar PT Maju Mundur. "Aryo," kata Supervisor OB, Pak Darto, pria berkumis tebal yang memegang gagang pel seperti memegang tongkat komando. "Kamu dapet jatah Lantai 12."

"Siap Pak. Lantai 12 ada berapa OB?"

Pak Darto tertawa. Tawa yang kering dan penuh penderitaan. "Satu."

"Satu tim Pak?"

"Satu orang. Kamu doang."

Aku menelan ludah. "Lantai 12 itu luasnya segimana Pak?"

"Luas. Ada 3 Divisi. Marketing, HRD, sama Accounting. Total manusianya sekitar 45 orang. Toilet ada 4. Pantries ada 1. Tong sampah ada 50."

Mataku berkunang-kunang. Rasio 1 : 45. Ini bukan kerja. Ini misi bunuh diri ala film 300, bedanya aku nggak bawa tombak, cuma bawa sikat WC.

"Ingat Aryo," pesan Pak Darto terakhir sebelum melepas aku ke medan perang. "Di PT Maju Mundur, OB itu ada di kasta terendah. Di bawah satpam, di bawah resepsionis, bahkan di bawah kucing liar yang suka nongkrong di parkiran. Kuncinya cuma satu: NRIMO (Terima Nasib)."

Dan begitulah, karirku sebagai Guardian of The Trash Can dimulai.

Hari pertama di Lantai 12. Suasananya seperti pasar saham yang sedang crash. Orang-orang berlarian, telepon berdering, printer menjerit minta tinta.

Aku memetakan wilayah kekuasaanku:

  1. Divisi Marketing: Isinya orang-orang extrovert yang berisik. Meja mereka adalah bencana alam. Bungkus permen, gelas kopi Starbucks sisa kemarin, remah keripik. Mereka tipe yang kalau minta tolong nadanya kayak merintah raja. "Mas! Kopi! Sekarang! Jangan lama!"
  2. Divisi HRD: Ruangannya dingin dan sunyi. Isinya orang-orang rapi yang tatapannya tajam seolah sedang menilai apakah aku layak hidup atau dipecat. Meja mereka bersih, tapi tong sampahnya penuh kertas rahasia yang harus dihancurkan.
  3. Divisi Accounting: Ini zona perang sesungguhnya. Isinya orang-orang bermuka stress, rambut acak-acakan, dan mata panda. Mereka mengonsumsi kopi hitam dalam jumlah yang bisa membunuh kuda.

Aku, Aryo, adalah satu-satunya entitas yang menjaga agar ketiga suku ini tidak mati tenggelam dalam sampah mereka sendiri. Pagi hariku dimulai jam 06.30. Mengepel lantai seluas samudera. Mengelap 45 meja. Mencuci sekitar 30 gelas kotor sisa kemarin yang sudah berjamur (karena karyawan sini manja-manja, minum doang nyuci kagak).

"Mas Aryo! Galon abis!" teriak seseorang dari Marketing. "Mas Aryo! Tisu toilet abis!" teriak dari HRD. "Mas Aryo! Kopi saya mana?!" teriak dari Accounting.

Aku berlari ke sana kemari seperti gasing. Kakiku rasanya mau copot. Tapi aku ingat mantra Pak Darto: Nrimo. Nrimo. Nrimo. Gaji UMR. Cicilan motor. Bayar kosan.

Di antara 45 manusia di lantai ini, aku merasa sepi. Mayoritas cewek-cewek di sini adalah tipe Socialita SCBD (walau kantornya agak minggir dikit). Contohnya Novi dan Arum dari Marketing. Mereka cantik, wangi parfumnya semerbak bunga melati campur duit. Bajunya bermerek. Sepatunya heels 7 cm. Tapi kalau ngomong sama aku, mereka tidak menatap mata. Mereka menatap nampan yang kubawa. "Taruh situ aja Mas." Dingin. Aku merasa seperti robot penyaji kopi. NPC (Non-Playable Character) yang tidak punya perasaan.

Ada juga ibu-ibu senior, seperti Bu Retno (HRD). Galak, bawel, suka nyuruh beliin gado-gado tapi duitnya kurang. "Kembaliannya ambil aja Yo (padahal kurang 500 perak)."

Aku menjalani hari-hariku dengan datar. Bangun, kerja, disuruh-suruh, dimarahi kalau telat angkat gelas, pulang, tidur. Ulangi. Sampai aku berpikir, apakah ini sisa hidupku? Menjadi bayangan biru muda di antara manusia berdasi?

Hingga suatu pagi... Takdir mengetuk pintu kaca otomatis Lantai 12 dengan keras.

Selasa, jam 08.15 WIB. Batas toleransi keterlambatan di PT Maju Mundur adalah jam 08.00. Lewat dari itu, potong gaji. Lewat dari 08.30, SP 1.

Aku sedang mengelap kaca pintu utama Lantai 12. Aku melihat ke arah lift. Pintu lift terbuka. Biasanya, karyawan yang telat akan berjalan dengan wajah panik atau mengendap-endap.

Tapi kali ini berbeda. Dari dalam lift, melesat sesosok wanita. Dia berlari. Bukan lari-lari kecil yang anggun. Tapi lari sprint sekuat tenaga seolah sedang dikejar Godzilla.

Penampilannya... berantakan tapi majestik. Rambutnya kusut dan lepek, jelas bekas tertindih helm full-face yang ketat. Di jidatnya ada garis merah tercetak jelas—tanda abadi dari busa helm yang menekan terlalu lama. Kemejanya sedikit keluar dari rok. Dia menenteng tas laptop di tangan kiri dan helm bogo di tangan kanan.

Dia berlari ke arah mesin absensi (Fingerprint) di tembok samping pintu kaca. Waktunya Sudah jam 10.00 , sudah sangat telat SP berapa itu, kalau dia selamat dari pemecatan, artinya dia memang budak yang sangat dibutuhkan boss.

Dia melakukan manuver drift di tikungan koridor (lantai licin bekas ku-pel). Sepatu flat shoes-nya berdecit. CIIIIT! Dia menempelkan jempolnya ke mesin. BEEP. "Terima Kasih." Jam digital menunjukkan: 10.00.

Wanita itu merosot. Dia bersandar di tembok, napasnya memburu hebat. Hah... hah... hah... Keringat sebesar biji jagung mengalir dari pelipisnya, melewati garis merah bekas helm itu.

Aku berdiri mematung memegang lap kaca dan semprotan Cling. Aku terpesona. Dia bukan Novi yang wangi dan rapi. Dia bukan Arum yang glowing paripurna. Dia... nyata. Dia adalah pejuang jalanan Jakarta. Dia baru saja menaklukkan macetnya Kalimalang-Sudirman, melawan asap knalpot, melawan truk kontainer, dan menang melawan waktu.

Dia mendongak, melihatku yang sedang bengong. "Mas..." suaranya serak karena haus. "Ada... ada air gak?"

Itu pertama kalinya dia bicara padaku. Bukan minta kopi. Bukan nyuruh bersihin sampah. Dia minta air. Kebutuhan dasar manusia.

Aku gelagapan. "E-eh... ada Mbak. Sebentar!" Aku lari ke pantry. Mengambil gelas bersih (yang kusembunyikan khusus buat Bos, tapi biarin lah). Mengisinya dengan air mineral dingin dispenser. Aku lari balik ke lobi.

"Ini Mbak."

Dia menyambar gelas itu. Menenggaknya habis dalam sekali teguk. Jakunnya (eh, cewek gak punya jakun ya), lehernya bergerak naik turun. "Hah... Lega..." Dia menyerahkan gelas kosong itu padaku. Lalu dia tersenyum. Senyum yang tulus. Bukan senyum sopan santun palsu. "Makasih ya Mas. Penyelamat banget. Saya hampir mati dehidrasi abis balapan sama Kopaja."

DEG. Jantungku berhenti berdetak sesaat. Di balik rambut lepek dan jidat bergaris helm itu... aku melihat wajah yang manis sekali. Matanya bulat, hidup, dan penuh semangat. Ada sedikit noda debu jalanan di pipinya, tapi bagiku itu seperti bedak termahal.

"S-sama-sama Mbak," jawabku kaku.

"Saya masuk dulu ya Mas. Harus nyiapin laporan." Dia merapikan rambutnya sebentar (usaha yang sia-sia karena tetap lepek), lalu masuk ke ruangan Divisi Accounting.

Aku menatap punggungnya. Lalu aku menatap gelas kosong di tanganku. Bekas lipstik tipis warna nude menempel di bibir gelas.

"Siapa dia?" batinku. Aku melirik daftar absensi di layar mesin fingerprint. Nama terakhir yang masuk: DEVI LEONA.

Namanya Devi ya, ada rasa yang berbeda di dadaku. Perasaan aneh, menyakitkan, tapi bikin penasaran.

Sejak hari itu, duniaku di Lantai 12 berubah warna. Dari abu-abu menjadi... pink norak. Tugasku tetap sama: menyapu, mengepel, mencuci gelas. Tapi sekarang ada misi tambahan: Melayani Devi dengan Standar VVIP.

Lihat selengkapnya