[POV DEVI]
Jumat Malam. Jam 23.45 WIB. Posisi: Rebahan di kasur kosan, membungkus diri dengan selimut seperti burrito depresi. Kondisi Mental: Zombie Mode. Otak rasional sudah log out, digantikan oleh impulsifitas pasca-gajian yang berbahaya.
Malam itu, algoritma TikTok sedang berkonspirasi untuk menghancurkan hidupku. Jempolku yang lelah men-scroll layar tiba-tiba berhenti mendadak karena sebuah teriakan melengking dari live streaming yang muncul di For You Page (FYP).
Di layar HP-ku, muncul sesosok wanita yang wajahnya... Subhanallah. Namanya "Siska Super Glowing". Wajah Siska ini bukan sekadar putih. Wajahnya memancarkan cahaya ilahi yang menentang hukum fisika optik. Saking licin dan mengkilapnya, aku yakin kalau ada nyamuk nekat mendarat di jidatnya, nyamuk itu akan tergelincir, jatuh bebas, dan mengalami gegar otak permanen. Cahaya ring light memantul di pipinya seolah-olah pipinya terbuat dari keramik lantai Masjidil Haram yang baru dipel.
"AYO BESTIE! JANGAN CUMA DILIATIN! DI-CHECKOUT SEKARANG JUGA!" Siska berteriak dengan volume suara yang bisa memecahkan layar HP. "Ini dia Cream Turbo-Glow 5 Detik! Skincare viral yang bikin dokter kulit ketar-ketir dan pabrik kosmetik gulung tikar!"
Aku mengerjap. Mataku yang tadinya layu langsung terbuka 50%.
"Kak Siska, kandungannya apa?" Siska membaca komentar netizen fiktif. "PERTANYAAN BAGUS! Dengerin ya Sayang! Ini mengandung Ekstrak Mutiara Laut Selatan dicampur dengan DNA Ubur-ubur Korea! Kalian tau kan ubur-ubur itu bening? Transparan? Nah, bayangin kalau DNA-nya masuk ke pori-pori kalian! Muka kalian bakal sebening kaca! Suami auto nempel, tetangga auto panas!"
Logika warasku, yang tersisa sekitar 5% di pojok otak kiri, berteriak lirih: "Devi! Stop! Itu biologinya ngaco! Mana ada DNA ubur-ubur bikin muka bening? Itu mah bikin gatel!"
Tapi Siska belum selesai. Dia mengeluarkan jurus pamungkasnya: The Price Drop. "Harganya berapa? Normalnya 5 JUTA RUPIAH! Tapi... khusus buat kalian yang begadang nemenin aku malem ini... Aku kasih diskon kiamat! Aku banting harga, banting tulang, banting setir jadi... Rp 15.000 AJA!!"
Logika warasku langsung tewas ditempat. Logika Irasional dan Jiwa Miskin-ku mengambil alih kemudi: "LIMA BELAS RIBU?! DAPET DNA UBUR-UBUR?! GILA! INI BUKAN DISKON, INI SEDEKAH!"
"Sepaket dapet apa aja Kak? Dapet Day Cream, Night Cream, Toner Air Zam-Zam (katanya), sama Sabun Batang Aroma Kemenyan! Buruan stok terbatas! Siapa cepat dia dapat kulit sultan!"
Tanpa sadar, jari jempolku bergerak sendiri di luar kendali saraf pusat. Seolah dirasuki roh belanja online. Klik Keranjang Kuning. Pilih Pembayaran. Checkout Berhasil.
"Terima kasih Kak Devi Leona sudah checkout! Semoga cepet glowing kayak bohlam 100 Watt ya Sayang!" teriak Siska di layar sebelum aku menutup aplikasi.
Aku meletakkan HP di dada, tersenyum puas menatap langit-langit kamar kosan yang bocor. "Sebentar lagi..." gumamku. "Sebentar lagi aku bakal jadi primadona PT Maju Mundur. Novi dan Arum bakal sungkem liat kulitku."
Aku tertidur dengan mimpi indah tentang wajah yang bersinar dalam gelap. Tidak menyadari bahwa aku baru saja membeli tiket VIP menuju neraka dermatologis.
Paket itu datang hari Senin sore di kantor. Kemasannya... jujur saja, agak mencurigakan. Wadahnya dari plastik tipis warna kuning neon (stabilo) yang menyakitkan mata. Kalau mati lampu, wadah ini mungkin bisa jadi emergency lamp. Labelnya miring, diprint pakai printer yang tintanya mau habis, tulisannya: "CREAM TURBO MAGIC: WHITENING MAX PRO ULTRA". Tidak ada nomor BPOM. Tidak ada tanggal kadaluarsa. Yang ada cuma tulisan kecil di pojok: "Racikan Dokter H. Syamsudin (Spesialis Kulit & Klenik Batin)".
"Dokter Syamsudin..." gumamku skeptis. "Mungkin dia dokter lulusan Hogwarts cabang Bojong Gede." Tapi, uang 15 ribu sudah keluar. Sayang kalau dibuang.
Malam itu juga di kosan, aku melakukan ritual pemakaian. Aku mencuci muka, lalu membuka pot Night Cream. Teksturnya lengket luar biasa, seperti lem tikus yang sudah didiamkan seminggu. Kalau ditempel ke dinding, krim ini mungkin bisa menahan beban lukisan. Baunya... Subhanallah. Bau menyengat campuran antara melati, logam, dan sedikit aroma bensin eceran.
"Mungkin ini bau alami DNA ubur-ubur," hiburku pada diri sendiri, berusaha positive thinking.
Aku mengoleskan krim lengket itu ke pipi kanan. CESS... Rasanya hangat. Lalu panas. Lalu... TERBAKAR.
"ADUH! PERIH!" pekikku di depan cermin. Rasanya seperti ada ribuan semut api yang sedang pesta dansa breakdance di atas pori-poriku. Aku mau lari mencucinya, tapi aku teringat kata-kata Siska di live streaming: "Kalau perih itu tandanya obatnya lagi bekerja, Bestie! Lagi mendetoks dosa-dosa, polusi, dan kotoran di wajah! Tahan aja, proses menuju glowing emang butuh pengorbanan! Beauty is Pain!"
Aku menarik napas panjang, menahan air mata. "Beauty is Pain, Devi. Beauty is Pain. Inget muka Siska yang licin. Tahan. Jangan cengeng."
Aku mengipasi wajahku dengan buku tabungan (yang saldonya miris). Panasnya minta ampun. Wajahku merah padam. Aku memaksakan diri untuk tidur dalam posisi telentang kaku seperti mumi Firaun, takut krimnya nempel di bantal (bisa bolong bantalnya). "Besok pagi... besok pagi aku jadi Cinderella," bisikku sebelum pingsan karena menahan sakit.
Alarm berbunyi jam 06.00. Aku bangun dengan perasaan wajah yang kaku, tebal, dan berat. Rasanya seperti memakai topeng beton. Dengan semangat 45, aku lari ke cermin kamar mandi, berharap melihat keajaiban.
"Hah..." Jeritan tertahan di tenggorokan. Suaraku hilang. Duniaku runtuh.
Wajahku tidak glowing. Tidak ada ubur-ubur Korea. Tidak ada mutiara. Wajahku... HANCUR LEBUR. Kulitku merah padam, warnanya persis seperti kepiting rebus saus padang level 10 yang baru diangkat dari wajan. Bengkak di area pipi dan mata. Kulitnya mengelupas kasar di sana-sini. Pori-poriku membesar seukuran kawah gunung berapi aktif. Dan rasanya... gatal, panas, perih campur aduk.
"TIDAAAAKKK!!!" teriakku histeris. Aku menyentuh pipiku. Kasar. Panas. "Siska Glowing sialaaaaan! Ini mah bukan DNA Ubur-ubur! Ini racun ubur-ubur SpongeBob! Muka gue jadi kayak radang knalpot!"
Aku menangis. Air mataku yang asin mengalir mengenai kulit wajah yang luka, rasanya makin perih kayak disiram air garam dan jeruk nipis. "Aduh... sakit... jelek... bodoh..."
Aku melihat jam. 06.30. Aku harus ngantor. "Apa aku izin sakit aja?" pikirku putus asa. Tapi kemudian, realita sebagai Budak Korporat PT Maju Mundur menampar pipiku (secara metafora, kalau tampar beneran bisa copot kulitku).
Di kantor ini, SOP Izin Sakit lebih rumit daripada UU KUHAP.
Aku tidak mungkin ke dokter sekarang. Antrinya lama, biayanya mahal, dan aku takut dokter malah menertawakan kebodohanku beli krim 15 ribu. Aku harus berangkat. Aku harus menghadapi dunia dengan wajah monster ini.
Aku mencoba menutupinya dengan bedak padat. Hasilnya: BENCANA. Bedak itu tidak menempel, malah retak-retak di atas kulit yang mengelupas. Wajahku jadi terlihat seperti donat gula yang jatuh ke aspal. Aku mencoba pake concealer. Makin parah, warnanya bereaksi dengan kulit merahku jadi abu-abu monyet.
Akhirnya, aku menyerah. Aku mengambil masker medis, melapisinya dengan masker kain hitam. Aku memakai kacamata hitam oversize milikku. Aku memakai topi bucket hat ditarik sampai menutupi mata. Penampilanku persis seperti buronan interpol, atau selebriti yang sedang menyamar menghindari skandal, atau teroris yang mau ngebom lobi.
Aku berangkat ke kantor dengan hati hancur. Sepanjang jalan di Ojol, aku merutuki nasib. "Ya Allah, ampuni hamba yang tergiur diskon. Hamba janji gak bakal beli skincare di TikTok lagi. Hamba janji bakal pake sabun bayi aja seumur hidup."
[POV ARYO]
Jam 07.00 WIB. Lobi Lantai 12. Aku sedang mengepel lantai marmer dengan ritme yang tenang. Sret... Sret... Bagiku, mengepel bukan sekadar membersihkan lantai. Ini adalah meditasi. Lantai yang bersih mencerminkan hati yang bersih. Dan lantai yang bersih adalah persembahanku untuk Devi, agar langkah kakinya tidak tergelincir.
TING. Lift terbuka. Biasanya, jam segini Devi akan keluar. Biasanya, dia akan berjalan dengan langkah cepat, dagu terangkat, hak sepatunya berbunyi tak-tak-tak penuh wibawa. Biasanya, dia akan menyapaku dengan senyum tipis, "Pagi Mas Aryo," yang cukup untuk membuatku semangat kerja 8 jam non-stop.