Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #4

Aku Telah Jatuh Cinta Pada Monster

[POV ARYO]

Jam 12.00 WIB. Bunyi bel istirahat kantor berbunyi seperti terompet sangkakala bagiku. Bukan karena aku takut kelaparan, tapi karena undangan keramat yang kuterima tadi pagi.

"Mas Aryo, nanti siang makan bareng ya. Aku traktir. Gak nerima penolakan." Itu kata Devi. Wanita yang membuat sistem saraf simpatisku mengalami korsleting permanen. Devi ingin berterima kasih atas ramuan tempo hari yang berhasil menyelamatkan wajahnya dari skincare abal-abala itu.

Sekarang, aku berdiri di lobi, menunggu Devi turun dari lift. Keringat dinginku mengucur deras. Bukan tetesan biasa, tapi aliran sungai Amazon yang membasahi punggung seragam biruku. Tanganku gemetar, kakiku lemas seperti jeli agar-agar yang belum set.

[ARYO: STATUS CHECK]

Heart Rate: 140 BPM (Setara lari maraton dikejar anjing herder).

Cortisol Level: Critical High (Stress level dewa).

Speech Ability: 20% (Potensi gagap tinggi).

Sweat Gland Activity: 300% (Banjir lokal).

"Tenang Yo... Tenang..." bisikku pada diri sendiri. "Ini cuma makan siang. Bukan sidang skripsi. Bukan eksekusi mati. Cuma makan nasi, lauk, sayur, bayar (eh, ditraktir), pulang."

Tapi otak jeniusku (yang biasanya dipakai buat analisis kimia sabun pel) malah mensimulasikan 1.000 skenario terburuk:

Skenario A: Aku keselek lengkuas rendang lalu mati di depan Devi.

Skenario B: Aku salah ngomong, Devi ilfeel, lalu dia memecatku sebagai teman.

Skenario C: Aku pingsan karena terlalu dekat dengan aura kecantikannya.

TING. Pintu lift terbuka. Devi keluar. Subhanallah. Wajahnya sudah mulus kembali (terima kasih racikan waktu itu). Dia memakai kemeja putih lengan panjang yang digulung sesiku, celana bahan hitam, dan sepatu kets. Simpel. Tapi di mataku, dia terlihat seperti Gal Gadot yang baru turun dari Olympus.

"Ayo Mas Aryo! Bengong aja!" tegurnya sambil tersenyum.

"E-eh... I-iya Mbak. Siap laksanakan!" jawabku dengan postur tegap ala Paskibraka salah baris.

Kami berjalan beriringan menuju Rumah Makan Padang "Sederhana Tapi Nikmat" yang berjarak 200 meter dari kantor. Jarak 200 meter itu terasa seperti perjalanan Frodo menuju Mordor. Setiap langkah adalah perjuangan menahan jantung yang mau melompat keluar dari rusuk.

"Mas Aryo mau makan apa?" tanya Devi santai.

Otakku loading. Pertanyaan sederhana. Jawaban harusnya: Rendang/Ayam Pop. Tapi mulutku yang dikendalikan oleh kepanikan menjawab: "S-saya... saya mau makan... Karbohidrat kompleks dengan rantai protein Mbak."

Devi menoleh, alisnya terangkat sebelah. "Hah? Maksudnya nasi sama ayam?"

"I-iya Mbak! Maksud saya itu! Nasi ayam! Ayamnya yang sudah mati ya Mbak!"

Devi tertawa renyah. "Ya kali ayam idup Mas, dipatuk dong mulut kita."

Aku ingin menampar mulutku sendiri. Ayam yang sudah mati? Aryo, kamu tolol.

 

[POV DEVI]

Kami sampai di RM Padang. Suasananya ramai. Bau gulai dan sambal ijo menguar menggoda iman. Aku memilih meja di pojok dekat kipas angin, biar Mas Aryo gak kepanasan. Soalnya dari tadi kulihat dia keringetan parah, kayak orang abis lari keliling GBK pake jaket parka.

Kami duduk. Pelayan datang membawa tumpukan piring dengan skill akrobatik sirkus. Tap. Tap. Tap. Meja penuh. Rendang, ayam pop, gulai tunjang, daun singkong, sambal ijo. Surga duniawi.

"Ayo makan Mas. Jangan sungkan. Ambil yang paling mahal juga gapapa, bonusku cair," kataku sambil mengambil nasi.

Mas Aryo duduk kaku banget. Punggungnya tegak lurus 90 derajat. Matanya menatap piring rendang seolah-olah rendang itu bom waktu yang harus dijinakkan.

"Mas Aryo kenapa? Sakit gigi?" tanyaku heran.

"E-enggak Mbak. Saya... saya lagi mengagumi struktur serat daging sapi ini. Sangat... geometris," jawabnya ngaco.

Aku terkikik. Mas Aryo ini emang unik. Kadang pinter banget (bikin obat muka), kadang absurd banget. Mungkin ini efek samping kebanyakan ngepel lantai pake karbol. Aku mencoba mencairkan suasana.

"Mas Aryo aslinya mana? Udah lama kerja di sini?" tanyaku sambil menyuap nasi gulai.

Mas Aryo tersentak kaget, sendoknya berdenting kena piring. Tring! "S-saya asli... asli DNA Homo Sapiens Mbak. Lahir di koordinat Jawa Tengah. Kerja di sini... ehem... berdasarkan kontrak waktu paruh, sudah sekitar 2 tahun cahaya... eh, 2 tahun kalender Masehi."

Aku bengong. Ini orang ngomong apa sih? Grogi atau emang alien? "Oke... hobi kamu apa Mas?"

Mas Aryo menelan ludah. Keringat menetes dari pelipisnya. "Hobi saya... Mengamati pertumbuhan jamur pada roti tawar di lingkungan lembab, dan... menghitung koefisien gesek lantai marmer."

Aku tertawa ngakak sampai keselek kuah gulai. "Hahaha! Mas Aryo, kamu tuh pelawak ya? Sumpah lucu banget. Muka lempeng tapi jawabannya out of the box."

Mas Aryo cuma nyengir kuda, wajahnya merah padam. "I-iya Mbak. Saya emang... suka humor begini."

Sebenarnya aku agak curiga dia grogi. Tapi lucu aja liatnya. Cowok sebaik dia, yang rela bikinin obat muka buat aku, masa grogi cuma makan sama aku? Emang aku monster?

Kami makan dengan tenang selama 10 menit. Sampai kemudian... Bencana datang dari pintu depan.


[POV ARYO]

Momen damai makan siangku (yang dipenuhi serangan panik internal) hancur seketika. Pintu rumah makan didobrak kasar. BRAK!

Masuklah 5 orang laki-laki :

Target 1 (Leader): Tinggi 185cm. Badan besar seperti kulkas dua pintu. Tato naga (tapi naganya agak gemuk) di leher. Memakai kaos kutang hitam dan kalung rantai kapal.

Target 2 & 3 (Muscle): Badan kekar, muka garang. Bawa pentungan bisbol dan rantai motor.

Target 4 & 5 (Minion): Kurus, mata merah (indikasi alkohol/narkoba). Bawa botol kaca kosong.

Suasana rumah makan yang tadinya riuh mendadak hening. Senyap. Bahkan lalat pun berhenti terbang karena takut.

Si Leader (kita sebut saja Si Kulkas) berjalan ke meja kasir. "WOY! UDA! MANA JATAH KEAMANAN?!" teriaknya. Suaranya ngebass pecah, bikin getar kaca etalase.

Pemilik RM Padang, Uda Buyung, gemetar di balik etalase. "Aduh Bang... Maaf Bang. Lagi sepi Bang. Belum ada duitnya... Minggu depan ya Bang?"

Lihat selengkapnya