[POV HANIF]
Namaku Hanif, usiaku 33 tahun, dan sudah menikah. Untuk menghidupi keluarga kecilku dan gaya hidup istriku dirumah, aku bekerja sebagai kepala analis di PT Maju Mundur, kerjaan untuk para pemikir, karena setiap hari harus membuat analisis prediksi penjualan dan strategi marketing.
Jam 13.00 WIB. Ruangan kerjaku, yang biasanya rapi dan berbau pengharum ruangan lavender, kini lebih mirip tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan berantai. Bedanya, korbannya bukan manusia, melainkan hutan rimba Kalimantan yang diubah menjadi kertas HVS A4.
Di depanku, Devi Leona, Senior Staff Accounting yang biasanya galak dan marah-marah dengan laporan di aplikasi office nya. Sedang dalam mode meltdown. Rambutnya yang biasanya rapi kini mencuat-cuat seperti habis kesetrum gardu listrik. Matanya merah, bukan karena nangis, tapi karena menatap peta Jabodetabek selama 4 jam non-stop tanpa berkedip.
"Gak bisa Nif! GAK BISA!" teriak Devi histeris sambil mencoret peta Jakarta Timur dengan spidol merah sampai kertasnya bolong. "Kalau truknya lewat Tol Becakayu jam 3 sore, dia bakal kena macet di Kalimalang! Supirnya pasti bakal mampir ngerokok di warung kopi! Estimasi telat 45 menit! Cabang Bekasi bakal tutup! Kita mati, Nif! Kita mati!"
Aku memijat pelipisku yang berdenyut kencang. Rasanya ada orkestra dangdut koplo yang sedang check sound di dalam kepalaku. "Dev, tenang dulu. Tarik napas. Kita cari jalan tikus," ujarku putus asa.
"Jalan tikus?!" Devi melotot. "Ini truk boks, Hanif! Bukan Honda Beat! Lu mau suruh truk 4 roda lewat gang senggol?! Lu mau kita diamuk warga satu kelurahan?!"
Masalahnya sederhana tapi mematikan: Pak Bos (Si Botak) baru saja memberikan titah raja 3 jam yang lalu. Misi: Mengirimkan logistik (barang promosi dan dokumen audit) ke 15 Cabang PT Maju Mundur yang tersebar dari Tangerang ujung sampai Cikarang pelosok. Deadline: Barang harus sampai sebelum jam 19.00 malam ini. Kendala: Hanya ada 3 Truk. Budget bensin dipotong 20% (efisiensi katanya). Dan hari ini adalah Jumat, hari di mana lalu lintas Jakarta dikutuk oleh setan kemacetan.
Di meja kerjaku, tumpukan kertas berserakan. Rumus matematika, hitungan bensin, coretan rute, semuanya tumpang tindih. Kami sudah mencoba 12 skenario rute, dan semuanya gagal. Entah bensinnya gak cukup, entah waktunya gak keburu, atau rutenya melewati daerah kekuasaan "Pak Ogah" yang punglinya lebih mahal dari tarif tol.
"Gue nyerah," Devi melempar spidolnya. Dia merosot di kursi, menatap langit-langit. "Gue bakal dipecat. Gue bakal jadi pengamen di lampu merah Fatmawati."
Aku melihat jam. 13.30. Waktu terus berjalan mundur seperti bom waktu. Kepalaku butuh nikotin. Paru-paruku butuh jeda dari racun karbon dioksida hasil pernapasan panik Devi.
"Gue mau keluar bentar. Cari angin," kataku sambil menyambar vape-ku. "Jangan lama-lama! Kalau lu gak balik dalam 10 menit, gue anggep lu desersi!" ancam Devi.
Aku keluar ruangan, meninggalkan Devi yang mulai ngomong sendiri sama peta.
Aku membuka pintu berat tangga darurat. Udara di sini pengap, bau beton lembab dan sedikit debu. Tapi bagiku, ini surga. Aku duduk di anak tangga, menghisap vape dalam-dalam, lalu menghembuskan uap tebal rasa strawberry cheesecake.
Di lantai bawah, sekitar lima anak tangga dari tempatku duduk, ada seseorang. Seorang OB berseragam biru muda. Dia sedang menyapu sudut tangga dengan gerakan lambat dan meditatif. Namanya kalau tidak salah Aryo. Aku jarang ngobrol sama dia. Paling cuma "Pagi Mas" atau "Mas, kopi". Dia tipe OB yang invisible. Ada tapi tiada. Wajahnya datar, pasrah, tipikal orang yang "nrimo" walau gajinya cuma numpang lewat.
"Ngerokok Mas?" tanya Aryo ramah tanpa menoleh, masih fokus menyapu debu yang sepertinya sudah bersih dari tadi.
"Nge-vape, Yo. Stress gue," jawabku singkat.
"Tugas numpuk ya Mas?"
"Bukan numpuk lagi. Ini mah bencana alam. Pak Bos minta kirim barang ke 15 titik dalam 6 jam. Pake 3 truk doang. Bensin dicekek. Dikira truk kita pake tenaga doa kali," curhatku. Aku gak berharap dia ngerti, cuma butuh ngeluarin uneg-uneg.
Aryo cuma mengangguk-angguk. "Oalah... berat ya Mas. Semoga ada solusi."
Tiba-tiba pintu darurat terbuka lagi. Devi muncul. Wajahnya kusut parah. Dia membawa botol air mineral yang sudah diremas-remas sampai gepeng. Dia duduk di sebelahku, menghela napas panjang yang terdengar seperti ban kempes.
"Gue gak kuat Nif," rintih Devi. "Gue baru hitung ulang rute Ciledug. Ternyata di sana ada pasar tumpah kalau sore. Truk gak bakal gerak. Mati kita."
Aryo yang sedang menyapu di bawah berhenti sejenak. Dia tidak pergi. Dia malah terlihat... melama-lamakan sapuannya. Gerakannya jadi slow motion.
"Terus gimana Dev?" tanyaku.
"Gak tau! Gue udah simulasi pake Google Maps, Waze, sampe primbon Jawa. Gak ada yang tembus! Mana si Botak minta laporan rutenya jam 2 siang ini buat di-ACC. Itu tinggal 30 menit lagi, Nif!" Devi menjambak rambutnya sendiri.
"Udah lah, kita pasrah aja. Bilang aja gak sanggup," saranku pesimis.
"Gak bisa! Lu tau sendiri pak boss gimana? Titahnya turun adalah kewajiban bagi kita, berhasil dapet bonus, gagal kena SP1. Lagian kenapa divisi akunting harus yang ngerjain sih!? Ini kan tugas logistik!!!" Devi hampir menangis.
Aku melihat Aryo di bawah. Dia masih di situ. Kupikir dia bakal risih dengerin curhatan atasan, tapi dia malah kayak patung. Punggungnya tegang. Lalu, tanpa bicara apa-apa, Aryo membereskan sapu dan pengki-nya. "Permisi Mas, Mbak Devi," ucapnya sopan.
"Iya Yo,," jawabku malas.
Aryo mengangguk hormat, lalu masuk ke koridor, meninggalkan kami berdua yang masih meratapi nasib di tangga darurat.
"Hanif..." Devi menatapku nanar. "Apa kita resign aja terus jualan seblak?"
[POV ARYO]
Aku berjalan cepat menuju ruangan Mas Hanif. Jantungku berdegup kencang, tapi bukan karena takut. Aku baru saja mendengar distress signal (sinyal bahaya) dari orang yang kucintai. Devi sedih. Devi stress. Aku tidak boleh diam saja.
Aku masuk ke ruangan Mas Hanif. KLEK. Pintu tertutup. Pemandangannya mengerikan. Kertas berserakan di mana-mana. Peta Jabodetabek di meja penuh coretan spidol merah seperti benang kusut. Gelas kopi tumpah. Remah roti. Ini bukan ruang kerja. Ini manifestasi keputusasaan.
Aku meletakkan sapu dan kotak sampah di pojok. Aku punya waktu sekitar 10 menit sebelum mereka kembali dari tangga darurat. Semoga Cukup. Demi Devi.
Aku mendekati meja kerja yang berantakan itu. Mataku menyapu dokumen "DAFTAR ALAMAT 15 CABANG" dan "BATAS PAGU ANGGARAN BBM".
Kupejamkan mata sesaat sambil menghirup udara, kubuka mataku, dunia di sekelilingku berubah. Suara AC mendengung hilang. Warna-warna memudar menjadi monokrom. Yang menyala hanya data. Angka-angka beterbangan di udara. Peta di meja itu seolah menjadi model 3D di kepalaku.
ANALYSIS PHASE 1: VARIABEL STATIS & DINAMIS
Target: 15 Titik (Zona A: Tangerang, Zona B: Jaksel-Depok, Zona C: Bekasi-Cikarang).
Armada: 3 Truk Boks (Kapasitas 4 Ton, Konsumsi BBM 1:8 km).
Waktu: 13.30 - 19.00 (5.5 Jam Efektif).
Musuh Utama:
ANALYSIS PHASE 2: TRAFFIC PREDICTION ALGORITHM Aku memejamkan mata. Membuka Mind Palace (Istana Pikiran)-ku yang berisi database jalanan Jabodetabek hasil pengalamanku jadi kurir paket dan tukang antar-jemput ponakan selama 5 tahun sebelum jadi OB.
Ciledug: Pasar tumpah bubar jam 14.00, tapi macet residu sampai jam 15.00. HINDARI.
Tol JORR: Macet di gerbang Fatmawati mulai jam 15.30. HINDARI.