Euforia keberhasilan misi penyelamatan rute logistik itu perlahan memudar. Devi sudah berhenti jingkrak-jingkrak soal bonusnya (mungkin uangnya sudah habis buat bayar paylater atau beli seblak satu gerobak), dan Mas Hanif sudah kembali sibuk dengan target marketing bulan depan.
Rahasia tetaplah rahasia. Di mata manajemen PT Maju Mundur, pahlawan efisiensi itu adalah Hanif dan Devi. Aku? Aku hanyalah figuran yang kebetulan ada di sana membuang sampah kertas mereka. Dan aku baik-baik saja dengan itu. Selama Devi tersenyum, egoku yang setipis tisu ini sudah cukup kenyang.
Namun, ada satu hal yang berubah. Sejak hari itu, Mas Hanif sering menatapku dengan tatapan berbeda. Bukan tatapan bos ke babu, tapi tatapan... seorang rekan kerja.
Tapi, kembali ke realita. Namaku tetap Aryo. Sehari-hari, duniaku kembali berputar pada rotasi galon air mineral, orbit sapu ijuk, dan revolusi kain pel. Jabatanku mentereng: Chief of Hygiene and Logistic Support atau dalam bahasa manusia normal: Office Boy (OB).
Aku adalah hantu di kantor ini. Aku ada, aku melihat semuanya, tapi seringkali aku tidak dianggap ada. Aku melihat siapa yang selingkuh di tangga darurat, aku tahu siapa yang nangis di toilet karena dimaki bos, dan aku tahu kopi siapa yang harus diaduk searah jarum jam.
Tapi, ada satu orang yang selalu "melihat"ku. Mbak Devi. Karyawati mungil dari Divisi Akunting yang baru saja kuselamatkan karirnya. Devi itu... bagaimana menjelaskannya ya? Jika kantor ini adalah file Excel yang membosankan dan penuh angka merah, Devi adalah Conditional Formatting berwarna hijau neon yang menyegarkan mata. Dia cantik. Cantik yang tidak intimidatif, tapi cantik yang bikin hati adem kayak ubin masjid.
Hanya saja, interaksiku dengannya sebatas naskah drama satu babak yang diulang-ulang setiap hari: "Misi Mbak, galonnya habis?" "Eh, iya Mas Aryo. Makasih ya." Atau: "Mbak, ini paketnya." "Makasih Mas Aryo, taruh situ aja."
Sudah. Itu saja. Hatiku ingin berteriak, "Mbak, senyummu mengandung glukosa tinggi, bahaya buat penderita diabetes!" tapi mulutku hanya bisa bilang, "Permisi." Aku ini introvert level akut. Kalau disuruh ngomong sama cewek cantik, sistem sarafku langsung error 404.
Sampai suatu hari, Mas Hanif—satu-satunya orang yang tahu "sisi lain" diriku—mendatangiku di pantry. Wajahnya tampak sedang merencanakan sesuatu yang licik tapi hemat.
"Yo, Aryo. Kamu lagi sibuk nyuci gelas gak?" tanya Mas Hanif sambil celingukan, memastikan tidak ada orang lain.
"Enggak Mas. Aman. Kenapa Mas? Mau minta tolong analisis rute truk lagi?" tanyaku berbisik.
"Bukan, bukan. Kali ini lebih artsy. Gini Yo. Minggu depan kan ada Townhall Meeting tahunan perusahaan. Pak Bos Si Botak itu minta dokumentasi yang proper. Tapi budget dari keuangan dipotong lagi. Kalau sewa vendor fotografer, biayanya mahal banget, bisa 5 juta sehari. Sayang duitnya."
Mas Hanif mendekat, merangkul pundakku sok akrab. Sejak dia tahu aku bisa mikir, dia jadi lebih sering melibatkan aku dalam proyek pribadinya. "Aku denger-denger, selain jago mikir strategi, kamu hobi motret ya? Sering hunting foto kucing jalanan kan?"
Aku mengangguk ragu. "Iya Mas. Dikit-dikit ngerti sih soal ISO sama Shutter Speed."
"Nah! Cucok! Gini aja. Daripada duit kantor abis buat sewa fotografer luar yang belum tentu ngerti angle kantor kita, mending kamu aja yang jadi fotografernya. Kamera pake punya aku, DSLR Canon lama tapi lensanya tajem. Nanti aku kasih honor tambahan deh. Gimana? Mau gak?"
Awalnya aku mau menolak. Aku ini OB, bukan seksi dokumentasi. Tugasku memastikan lantai bersih, bukan memastikan wajah Pak Bos terlihat glowing di foto.
Tapi kemudian otakku memutar simulasi. Acara tahunan = Semua karyawan kumpul. Semua karyawan kumpul = Mbak Devi ada di sana. Jadi fotografer = Punya alasan sah buat mandangin Mbak Devi lewat lensa tanpa dikira stalker. Dan yang paling penting: Mungkin ada momen aku bisa ngarahin gaya dia. "Mbak Devi, senyum dikit... Yak, cantik!"
"Boleh Mas Hanif. Saya siap," jawabku mantap. Bukan demi uang. Demi Devi.
"Sip! Mantap! Nanti hari H kamu pake batik ya, jangan pake seragam OB. Biar berbaur. Inget, dokumentasikan semua momen penting. Pidato bos, audiens, sesi tanya jawab, makan siang, semuanya."
"Siap Mas!"
Aku tidak tahu, bahwa keputusan ini akan menjadi awal dari bencana digital paling memalukan dalam hidupku.
Hari H tiba. Aku datang dengan kemeja batik lengan panjang (yang agak kegedean dikit, pinjeman bapak). Leherku dikalungi kamera DSLR berat punya Mas Hanif. Aku merasa gagah. Aku bukan lagi Aryo si tukang pel. Hari ini, aku Aryo The Photographer.
Acara dimulai di Ballroom hotel (yang sebenernya cuma aula ruko sebelah yang disewa murah). Karyawan mulai berdatangan. Dan di sanalah dia... Devi. Ya Tuhan. Biasanya dia pakai kemeja kerja yang formal. Hari ini, karena temanya Smart Casual, dia pakai blouse warna peach dan rok span selutut. Rambutnya yang biasanya dicepol asal-asalan, hari ini digerai lurus, berkilau memantulkan cahaya lampu ballroom. Dia berjalan masuk sambil tertawa renyah bersama teman-temannya (Mbak Novi dan Mbak Arum). Tawanya itu... rasanya ingin ku-rekam dan kujadikan ringtone alarm biar aku semangat bangun pagi.
Aku mengangkat kamera. Cekrek. Satu foto candid. Sempurna. Cahayanya pas jatuh di pipinya. "Oke Aryo, fokus. Tugas negara," gumamku.
Acara dimulai. Pak Bos (Si Botak) naik ke panggung untuk pidato pembukaan. Aku memotret Pak Bos. Cekrek. Tapi mataku melirik ke barisan audiens. Devi duduk di barisan kedua. Dia sedang menyimak serius sambil memiringkan kepalanya sedikit. Lucu banget. Tanganku bergerak sendiri. Lensa kamera bergeser dari wajah berminyak Pak Bos ke wajah glowing Devi. Zoom in. Cekrek. Cekrek. Cekrek. "Wah, Devi lagi benerin rambut. Cekrek." "Wah, Devi lagi minum air mineral. Cekrek." "Wah, Devi lagi nguap tapi ditutupin tangan. Cekrek."
Aku lupa daratan. Aku lupa lautan. Aku lupa kalau aku sedang bekerja. Dunia di balik viewfinder kamera ini seolah-olah hanya menyisakan satu objek fokus: Devi. Sisanya adalah background blur (bokeh).
Masuk ke sesi presentasi divisi. Giliran Divisi Akunting. Mbak Devi yang maju. Aku langsung siaga satu. Aku pindah posisi ke depan panggung, mengambil posisi low angle ala fotografer profesional.
Devi naik ke panggung. Dan di sinilah komedi Tuhan terjadi. Podiumnya... ketinggian. Podium itu diset untuk ukuran Pak Bos yang tingginya 175 cm. Devi tingginya... yah, mari kita sebut "kompak dan ekonomis" (sekitar 150-an cm). Begitu Devi berdiri di belakang podium, yang terlihat oleh audiens hanyalah dahi dan rambutnya. Mikrofonnya menjulang tinggi di atas kepalanya seperti tiang bendera.
Audiens mulai terkikik geli. "Lho? Mana pematerinya? Kok podiumnya ngomong sendiri?" celetuk Mas Hanif dari belakang.
Devi tampak panik. Dia berjinjit. Masih belum sampai. Wajahnya memerah padam. Lucu sekali. Rasanya ingin kumasukkan ke saku dan kubawa pulang. Akhirnya, panitia (Mas Hanif yang sigap) lari membawa dingklik (kursi kecil) plastik. Devi naik ke atas dingklik itu. Hop! Akhirnya wajahnya muncul. Dia tersenyum malu-malu, pipinya merah tomat. "Maaf ya teman-teman, maklum, pertumbuhan ke atasnya agak telat," candanya mencairkan suasana.
Satu ruangan tertawa gemas. Dan aku? Jariku menekan tombol shutter seperti senapan mesin. Cekrek-cekrek-cekrek-cekrek! Setiap detiknya adalah emas. Devi ketawa. Cekrek. Devi benerin mic. Cekrek. Devi nunjuk grafik di layar. Cekrek. Devi hampir kepleset dari dingklik. Cekrek.
Aku tidak peduli grafiknya. Aku tidak peduli isi presentasinya tentang "Neraca Rugi Laba Kuartal III". Yang aku pedulikan adalah Neraca Cintaku yang untung besar melihat pemandangan ini.
Jam 12 siang. ISOMA (Istirahat, Sholat, Makan). Inilah momen yang kutunggu-tunggu. Aku meletakkan kamera sejenak, mengambil piring prasmanan. Aku melihat Devi sedang berdiri sendirian di dekat meja dessert, sedang bingung memilih antara puding cokelat atau buah potong.
"Ini kesempatanku!" batinku. "Ayo Aryo! Jadilah laki-laki! Ajak ngobrol! Jangan cuma berani ngintip dari lensa!"
Aku merapikan rambut, menarik napas panjang, dan berjalan mendekat. Di kepalaku, aku sudah menyusun skrip dialog yang keren ala film rom-com. Skrip di otak: "Hai Mbak Devi. Presentasi tadi keren banget. Puding cokelatnya keliatan enak ya, manis kayak yang lagi liat." (Oke, agak cringe, tapi lumayan).