Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #7

Laptop Dicuri!!!

[POV DEVI]

Pagi itu, matahari Jakarta bersinar terik, seolah ingin membakar semangat para budak korporat yang sedang mengais rezeki. Tapi bagiku, panas ini terasa seperti sorotan lampu panggung kemenangan.

Aku baru saja keluar dari gedung pencakar langit milik klien besar. Di punggungku, tergendong sebuah ransel laptop hitam yang isinya lebih berharga daripada kedua ginjalku: Sebuah Laptop Perusahaan berisi data tender senilai miliaran rupiah yang baru saja... AKU MENANGKAN.

"Yes! Yes! Yes!" Aku mengepalkan tangan di udara. Presentasi tadi berjalan mulus. Pak Bos (Si Botak) pasti akan sujud syukur. Bonus akhir tahun aman. Rencana pindah kossan ke kos lebih bagus. Paylater lunas. Hidup ini indah.

Namun, hukum alam berkata: Perut yang sukses adalah perut yang lapar. Cacing-cacing di perutku mulai melakukan orasi demo menuntut logistik. Aku melihat jam tangan. Pukul 11.30 WIB. Masih ada waktu sebelum aku harus kembali ke kantor untuk menyerahkan laptop keramat ini ke Pak Bos sore nanti.

Aku melirik ke seberang jalan. Di sana, di antara debu jalanan dan asap knalpot, berdiri sebuah Warung Nasi Tegal (Warteg) "Barokah Jaya". Spanduknya biru kusam, etalasenya penuh dengan lauk pauk yang menggoda iman: Telur dadar tebal, orek tempe basah, usus goreng, dan sayur sop.

"Sempurna," gumamku. Aku menyeberang jalan dengan langkah pasti. Aku masuk ke warteg itu, memesan nasi setengah, telur dadar, orek tempe, dan es teh manis. Aku duduk di bangku panjang kayu, meletakkan ransel laptopku tepat di sampingku, di atas bangku kosong. Aku makan dengan lahap. Kenikmatan hakiki seorang karyawan yang baru lepas dari tekanan target.

Sampai suapan terakhir... Bencana itu datang tanpa mengetuk pintu.

Suasana damai warteg tiba-tiba pecah. Dari arah jalan raya, terdengar suara raungan motor yang memekakkan telinga. BREM... BREM... BREMMMM! Bukan satu atau dua motor, tapi puluhan. Dua kelompok remaja berseragam SMA (yang celananya sangat longgar sampai bisa dipakai buat kemah) turun dari motor.

Kelompok Kanan memakai jaket denim belel. Kelompok Kiri memakai sweater hitam. Masing-masing membawa senjata yang tidak masuk akal untuk standar pelajar: Gir motor yang diikat sabuk karate, penggaris besi 1 meter yang diasah tajam, dan batu konblok.

"SERANG!!! WOY MAJU LO!!!" teriak salah satu panglima perang mereka.

Warteg Barokah Jaya mendadak berubah menjadi Colosseum. Para pengunjung lain (bapak ojol, tukang parkir, kuli) langsung berhamburan lari ke dapur atau tiarap di bawah meja. Ibu Warteg menjerit histeris sambil memeluk toples kerupuk. Piring pecah. Gelas terbang. Meja dibalikkan.

Aku? Aku masih berdiri di depan kasir, memegang uang pecahan dua puluh ribu. "Bu, kembaliannya lima ribu, jangan lupa," kataku tenang, meski di sekelilingku batu beterbangan. Aku tidak takut. Aku Devi. Aku sudah biasa menghadapi revisi dadakan jam 3 pagi, masa takut sama bocah ingusan?

Tapi, kelengahanku dibayar mahal. Saat aku sedang fokus menunggu kembalian, salah satu peserta tawuran, seorang remaja kurus berbaju sweater hitam, tiba-tiba melompat ke arah bangku tempat aku duduk tadi. Tangan kotornya menyambar ransel laptopku.

Dia lari kencang keluar warteg, membawa nyawa dan karirku bersamanya.

"HEH! TAS GUE!" teriakku. Suaraku menggelegar mengalahkan suara knalpot.

Aku berniat mengejarnya. Tapi jalanku terhalang. Dua orang peserta tawuran dari kubu yang berlawanan (satu Denim, satu Sweater) sedang baku hantam tepat di depan pintu keluar warteg. Si Denim mengayunkan gir. Si Sweater mengayunkan balok kayu. Mereka menghalangi jalan suci menuju laptopku.

"MINGGIR GAK LO PADA?!" bentakku.

Mereka tidak minggir. Mereka malah menoleh ke arahku dengan tatapan meremehkan. "Apaan sih Tante Pendek?! Minggir lu!" bentak Si Denim, bahkan dia mengarahkan gir motornya ke arah wajahku.

 Darahku mendidih. Kata "Pendek" dan "Tante" dalam satu kalimat adalah hukuman mati. Ditambah laptopku yang makin menjauh dibawa kabur teman mereka.

"Oke. Kalian minta disekolahin ulang," desisku.

Waktu seolah melambat. Gir motor itu melayang ke arahku. Aku menunduk (ducking) dengan presisi milimeter. Gir itu lewat di atas kepalaku, memotong helai rambutku sedikit. Aku maju satu langkah. Masuk ke pertahanan Si Denim. Tanganku menyambar Botol Kecap Beling di meja terdekat. TRAK! Aku menghantamkan botol kecap itu ke tulang selangka Si Denim. Botolnya tidak pecah, tapi tulang selangkanya pasti retak. "ARGH!" Dia menjerit, gir-nya jatuh. Aku menyapu kakinya (Low Sweep). Dia jatuh gedebug.

Si Sweater (Geng Lawan) kaget melihat musuhnya tumbang oleh wanita mungil. Dia mencoba menyerangku dengan balok kayu. "Mati lu!"

Aku menangkap ayunan balok kayunya dengan tangan kiri, menahan rasa sakit sedikit. Tangan kananku meraih Sendok Garpu di meja. Aku tidak menusuknya (nanti masuk penjara), tapi aku menggunakan gagang sendok itu untuk menekan titik saraf di lehernya. TEKAN. Si Sweater melotot, tubuhnya kejang sesaat, lalu lemas. Aku membantingnya ke lantai dengan teknik Judo: O Goshi (Bantingan Pinggul). BRAKK!

Dalam waktu kurang dari 15 detik, dua petarung tawuran itu sudah terkapar di bawah kakiku. Peserta tawuran yang lain melihat kejadian itu. Mereka kaget. "Gila! Ada siluman di warteg! Kabur!" Sisa tawuran bubar. Mereka lari terbirit-birit, meninggalkan teman mereka yang kulumpuhkan.

Aku menyeret kerah baju Si Denim dan Si Sweater, mendudukkan mereka di kursi plastik, dan mengikat tangan mereka pakai taplak meja warteg.

"MANA TEMEN KALIAN YANG NGAMBIL TAS GUE?!" bentakku di depan muka mereka yang babak belur.

Si Denim (Geng A) nangis: "Hah?! Sumpah Kak! Dia bukan temen saya! Dia pake sweater item, itu temen dia!" (Nunjuk Si Sweater).

Si Sweater (Geng B) nangis lebih kencang: "FITNAH! Dia tadi lari ke arah motor anak Denim! Dia pasti temen lu! Kita gak ada rencana maling!"

"JANGAN SALING TUDUH!" Aku mengambil ulekan sambel dari dapur. "Jawab atau biji mata lu gue jadiin sambel?!"

Mereka berdua meraung-raung. Saling tuduh. Keterangan mereka berbelit-belit. Ciri-cirinya samar: "Pake masker, kurus, lari cepet." Ya semua anak tawuran begitu bentuknya!

Aku frustrasi. Si Maling sudah jauh. Laptopku... Tenderku... Aku terduduk lemas di lantai warteg yang penuh pecahan piring. Aku butuh bantuan. Tapi bukan polisi (kelamaan birokrasinya). Aku butuh seseorang yang otaknya jalan lebih cepat dari peluru.

Aku mengambil HP. Menelepon Mas Hanif. "Halo... Nif..." suaraku bergetar. "Laptop gue... diambil anak tawuran..."

"HAH?! Kok bisa Dev?! Lu gapapa?!"

"Gue gapapa. Dua pelakunya udah gue iket. Tapi yang bawa tas kabur. Gue bingung Nif, mereka saling tuduh. Gue gak bisa mikir jernih. Tolongin gue..."

"Oke Dev. Tenang. Gue kirim bantuan sekarang."

"Siapa? Polisi?"

"Bukan Dev, udah gue kirim orang sekarang, lu tunggu aja disitu. Shareloc sekarang."

Hanif menutup telepon. Aku menunggu di tengah puing-puing warteg, menjaga dua tawanan ini seperti sipir penjara Azkaban.


[POV : ARYO]

Jam 12.30 WIB. Aku memacu motor Supra kantor dengan kecepatan maksimal (yang cuma 60 km/jam karena getarannya kayak gempa bumi). Mas Hanif bilang Devi kena musibah. Laptopnya hilang. Di kepalaku, bukan laptopnya yang kupikirkan. Tapi Devi. Kalau dia gagal nyerahin laptop itu, dia bakal dipecat. Aku ga mau dia dipecat. Melihatnya bersedih saja aku tidak kuat, apalagi dipecat.

Aku sampai di lokasi. Warteg itu hancur lebur. Dan di tengah kehancuran itu, duduklah Devi Leona. Wajahnya garang, memegang ulekan batu. Di depannya, dua anak SMA babak belur terikat taplak meja, menangis sesenggukan. Pemandangan yang... Astagfirullah, cantik tapi mengerikan.

"Mbak Devi!" panggilku.

Devi menoleh, heran.

"Lho, Hanif menyuruhmu kemari? Kupikir dia akan mengirim teman polisinya, atau siapa gitu"

"Ga tau juga mbak, mas hanif yang nyuruh saya kesini, apa yang terjadi mbak?"

Mata Devi yang tadi garang berkaca-kaca. "Laptop kantor yo..."

Astaga, melihatnya berkaca-kaca mendesirkan dadaku.

Aku mendekat. "Tenang Mbak. Kita cari. Sekarang ceritain kronologinya. Runtut. Jangan ada yang kelewat."

Lihat selengkapnya