Catatan Harian Budak Korporat

cahyo laras
Chapter #8

Jangan Hina Orang Yang Kucintai

Selasa sore itu, langit Jakarta berwarna abu-abu, seabu-abu masa depanku di akhir bulan yang tinggal menunggu tagihan paylater meledak. Aku sedang duduk di kubikelku, menatap layar komputer dengan tatapan kosong, berpura-pura sedang menganalisis neraca rugi laba, padahal otakku sedang memutar ulang episode drakor semalam.

Tiba-tiba, HP-ku yang tergeletak di meja bergetar hebat. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul, membawa nama yang seharusnya sudah terkubur di lapisan kerak bumi ketujuh.

From: Samuel (Mantan Terkutuk / The Voldemort of My Life)

"Dev, apa kabar? Long time no see. Btw, Jumat malem ini kosong gak? Aku mau ngajak kamu double date. Aku sama tunangan baruku, Jesselyn. Kamu ajak pacar kamu juga ya. Kita makan di La Vie En Rose, SCBD. My treat. Ditunggu."

Darahku berhenti mengalir sesaat. Jantungku seperti dipukul palu godam. Samuel. Nama itu. Pria narsistik yang dulu selingkuh dengan sekretarisnya, lalu minta balikan sambil nangis darah, lalu selingkuh lagi dengan instruktur yoga, dan terakhir memutuskanku lewat chat WA : "Kamu terlalu dominan, aku butuh wanita yang bisa menjadi makmum yang diam."

Dan sekarang? Dia mengajak double date? Di La Vie En Rose? Restoran Perancis paling pretensius di Jakarta Selatan yang untuk bernapas di sana saja mungkin kena charge oksigen premium?

Otak reptilku langsung menerjemahkan pesan itu dengan akurasi 100%: "Hai Devi yang menyedihkan, aku mau pamer pacar baruku yang pasti lebih muda, lebih cantik, lebih glowing, dan lebih kaya dari kamu. Aku mau memastikan kamu masih jomblo ngenes yang makan mie instan tiap tanggal tua, sementara aku sukses menjadi CEO (palsu) dan bahagia. Datanglah dan saksikan kebahagiaanku."

Logika warasku berteriak histeris: "BLOKIR! JANGAN DIBALES! INI JEBAKAN BATMAN! HARGA DIRI LEBIH PENTING DARIPADA MAKAN GRATIS!"

Tapi Ego-ku, monster kecil yang haus validasi dan dendam kesumat, bangkit dari kuburnya. Dia mengambil alih jempolku. "OH, NANTANGIN?! LU KIRA GUE GAK BISA DAPET YANG LEBIH BAIK DARI LU?! GUE BUKTIIN KALAU HIDUP GUE LEBIH BAHAGIA, LEBIH GLAMOUR, DAN LEBIH BERKELAS DARIPADA HIDUP LU YANG PENUH KEBOHONGAN ITU!"

Jempolku bergerak sendiri mengetik balasan dengan kecepatan cahaya: "Hai Sam! Kabar baik banget dong. Wah, boleh banget. Kebetulan pacar aku juga lagi free Jumat malem. See you there. Thanks ya traktirannya." Send.

Detik setelah pesan itu terkirim, aku melempar HP ke meja dan menjerit dalam hati. "MAMPUS! PACAR MANA?! GUE JOMBLO DARI JAMAN DINOSAURUS! GUE BAHKAN GAK PUNYA KUCING BUAT DIAJAK CURHAT!"

Aku butuh pacar sewaan. Sekarang. Kriterianya harus: Berwibawa, kelihatan mapan, bisa ngimbangin Samuel yang gayanya selangit, dan punya kendaraan roda empat yang layak (masa ke SCBD naik ojol? Harga diri mau ditaruh di mana?).

Hanya satu nama yang memenuhi syarat di radius 10 km: Mas Hanif. Seniorku, seorang Analis. Wibawa bapak-bapak. Punya Pajero Sport (kredit sih, tapi kelihatan gagah). Rambutnya sudah ada uban sedikit yang menambah kesan sugar daddy mapan.

Aku lari ke ruangan Mas Hanif. Aku memohon, menyembah, bahkan hampir menangis darah di depan meja kerjanya. "Mas Hanif... Tolongin Devi Mas... Ini soal harga diri bangsa dan negara (diri sendiri)! Aku butuh pacar boongan buat Jumat malem!"

Awalnya Mas Hanif menolak mentah-mentah sambil melempar stapler. "Gila lu Dev! Istri gue, Feby, itu idungnya lebih tajem dari anjing pelacak K-9! Kalau dia nyium bau parfum cewek lain di mobil gue, gue bisa tidur di teras sebulan!"

"Mas, please! Cuma makan doang! Aku bayarin deh bensinnya! Aku traktir kopi sebulan! Aku kerjain laporan pajak!"

Mendengar tawaran "laporan pajak", pertahanan Mas Hanif runtuh. "Oke. Deal. Tapi awas ya, cuma makan! Dan lu harus siapin alibi kalau bini gue nelpon!"


Jumat Malam, Pukul 19.00 WIB. Lokasi: Lobi La Vie En Rose, SCBD.

Aku berdandan habis-habisan. Gaun hitam off-shoulder yang kubeli pakai paylater cicilan 12x, membalut tubuhku dengan sempurna (walau agak sesak karena kekenyangan makan siang tadi). Rambutku di-blow di salon mahal. Makeup flawless ala artis Korea. Aku berdiri di lobi restoran, dikelilingi lampu kristal gantung raksasa dan orang-orang kaya yang baunya uang. Jantungku berdegup kencang. Siap perang. Mas Hanif mana? Udah jam 19.05! Samuel pasti udah di dalem!

Tiba-tiba, pintu kaca berputar. Seseorang masuk dengan tergesa-gesa. Langkahnya kikuk. Dia hampir terpeleset di lantai marmer yang licin. Bukan Mas Hanif. Tapi sesosok pria kurus, memakai kemeja polo biru pudar yang agak kusut, celana jeans belel yang warnanya sudah memutih di lutut, dan... sepatu pantofel hitam yang terlihat kaku, mengkilap aneh, dan masih ada label harga oranye di solnya.

Dia celingukan dengan wajah panik, seperti rusa yang masuk ke lampu sorot truk. Itu... ARYO. Office Boy kantor.

Aku melotot sampai mataku hampir copot. "Ngapain dia di sini? Mau ambil sampah? Atau mau nawarin jasa kuras WC?" Aryo melihatku. Wajahnya cerah sedikit (campur ngeri). Dia lari mendekat. "Mbak Devi!" sapanya ngos-ngosan, aroma minyak angin cap kapak menguar sedikit dari badannya.

"Mas Aryo?! Ngapain kamu di sini?! Jangan bilang kamu nyasar!" bisikku panik, takut Samuel liat.

Ting! HP kami berbunyi bersamaan. Pesan WA dari Mas Hanif: Dev, Aryo. Sorry banget. KODE MERAH. Istri gue mendadak minta anter ke rumah mertua. Gue gak bisa kabur. Aryo, tolong gantikan saya jadi 'pasangan' Devi. Lu anak pinter, lu pasti bisa improvisasi. Dev, terima nasib ya. Good luck.

Duniaku runtuh. Langit SCBD serasa jatuh menimpaku. Hanif pengkhianat! Dia mengirim OB?! Buat ngadepin CEO?! Ini sama aja kayak ngirim tentara bawa ketapel buat lawan tank baja! Ini bunuh diri sosial!


[POV: ARYO]

Jujur saja, aku ingin pulang. Aku ingin kembali ke kosan, makan mie rebus pakai telor, dan nonton YouTube. Tadi sore, Mas Hanif meneleponku dengan suara panik, menyuruhku datang ke sini. Katanya darurat perusahaan. Katanya menyangkut masa depan Divisi Akunting.

Aku datang naik motor Supra bututku. Parkir di basement paling pojok karena malu sama mobil-mobil Alphard dan Ferrari. Masalah terbesarnya adalah: Aku pakai sandal jepit. Satpam di depan lobi tadi menahanku. "Mas, dilarang pakai sandal jepit. Ini fine dining." Aku panik. Di seberang jalan ada Mall. Aku lari ke sana. Masuk ke Matahari Department Store. Mencari sepatu paling murah yang kelihatannya "resmi". Dapat! Sepatu Pantofel Diskon 70%. Harganya 150 ribu. Bahannya kaku seperti triplek, solnya licin seperti kulit pisang. Aku membelinya, memakainya tanpa kaos kaki (karena lupa beli), lalu lari balik ke restoran.

Dan sekarang, di sini aku berdiri. Di depan Devi, wanita yang fotonya ada di dompetku. Devi malam ini... Masya Allah. Cantik banget. Gaun hitam itu membuatnya terlihat seperti bidadari. Tapi tatapannya... tatapannya seperti ingin membunuhku, mencincangku, lalu membuangku ke laut.

"Mbak... saya tadi disuruh Mas Hanif. Katanya darurat..." cicitku pelan.

Devi memijat pelipisnya. Dia terlihat mau pingsan. Tapi kemudian, dia menarik napas panjang, menegakkan badannya, dan menatapku tajam. Dia mencengkram bahuku. Kukunya menancap sakit.

"Mas Aryo. Dengerin saya baik-baik. Malam ini, nasib saya ada di tangan kamu. Di dalem ada Mantan saya yang brengsek. Tugas kamu: JADI PACAR SAYA."

Mataku mau loncat keluar. "HAH?! P-pacar Mbak Devi? Tapi saya cuma OB..."

"GAK PEDULI! Mulai detik ini, kamu bukan OB. Kamu pengusaha sukses. Kamu mapan. Kamu pinter. Jangan panggil saya Mbak! Panggil Sayang! Atau Dev! Dan demi Tuhan, tegapin badan kamu! Jangan bungkuk! Jangan liatin sepatu kardus itu terus!"

Aku menelan ludah. Keringat dingin mengalir di punggung. Sepatu baruku lecet di tumit. "S-siap Mba... eh, Sayang. Siap."

"Tarik napas. Kita masuk ke kandang macan."

Devi menggandeng lenganku. Erat. Tangannya dingin dan gemetar. Ternyata, bidadari galak ini juga ketakutan. Seketika, rasa takutku berkurang sedikit. Aku harus melindunginya. Walaupun senjataku cuma sepatu kardus ini.


[POV: DEVI]

Kami masuk ke dalam restoran. Atmosfernya mengintimidasi. Musik klasik pelan, lampu temaram romantis, pelayan berseragam rapi yang memandang sepatu Aryo dengan tatapan "Apa ini?". Aryo berjalan kaku seperti robot yang kehabisan baterai, mungkin karena kakinya lecet atau takut kepeleset.

Di meja nomor 8, dekat jendela besar dengan pemandangan kota Jakarta yang gemerlap, duduklah target kami. Samuel. Pria itu tampan, harus kuakui. Rambut klimis, jas Armani (kelihatannya mahal), jam tangan Rolex berkilau di bawah lampu. Senyumnya miring, senyum khas orang yang merasa dirinya pusat alam semesta.

Dan di sebelahnya... Jesselyn. Wanita ini definisinya 'sempurna'. Tinggi, langsing, kulitnya putih porselen, rambutnya pirang bergelombang, wajahnya blasteran Indo-Eropa. Dia memakai dress putih simpel tapi keliatan mahal (mungkin Chanel?). Umurnya mungkin baru 20 awal. Dibandingkan dengan Jesselyn, aku merasa seperti... butiran debu di atas kerupuk. Kalah telak. Kalah telak sampai ke DNA.

"Hai Dev. Akhirnya sampe," sapa Samuel. Dia tidak berdiri untuk menyalami, hanya melirik malas. Matanya langsung memindai penampilan Aryo dari ujung rambut lepek sampai ujung sepatu pantofel murah. Ada kilatan ejekan yang nyata di matanya. "Ini... pacar kamu?"

Aku menggandeng lengan Aryo makin erat, mencoba mentransfer keberanian (atau ancaman). "Hai Sam. Iya. Kenalin, ini Aryo. Pasangan aku."

Aryo mengulurkan tangan dengan kaku. "Aryo," katanya dengan suara cempreng karena gugup.

Samuel menjabatnya sekilas, jijik. "Samuel. Dan ini Jesselyn, tunangan aku."

Tunangan? Dada ini rasanya ditusuk jarum. Baru pacaran bentar udah tunangan? Dulu sama aku 2 tahun gak pernah ngomongin masa depan. Sialan. "Wow. Congrats ya. Ayo duduk Sayang," kataku pada Aryo, menekankan kata 'Sayang' dengan nada yang agak maksa.

Kami duduk berhadapan. Kursinya empuk sekali, beludru merah marun. Tapi rasanya seperti duduk di kursi listrik.

Pelayan datang memberikan buku menu. Buku menunya tebal, terbuat dari kulit, dan beratnya kayak batu bata. Aku membukanya. Bahasa Perancis semua. Escargot de Bourgogne... Coq au Vin... Boeuf Bourguignon...

Aku melirik Aryo. Dia membuka menu dan matanya melotot sampai hampir keluar dari rongganya. Mulutnya terbuka sedikit. Aku menendang kakinya di bawah meja. Tutup mulutmu! Aryo kaget, menutup mulut, tapi matanya tetap melotot melihat harga. Satu porsi makanan pembuka harganya 250 ribu. Makanan utama 800 ribu. Air mineral botol kaca harganya 75 ribu.

Samuel dan Jesselyn memesan dengan lancar, tanpa melihat harga. "Lobster Thermidor dua, medium well. Foie Gras untuk pembuka. Minumnya Château Margaux sebotol." Total pesanan mereka mungkin setara gaji setahun Aryo.

"Kalian mau pesen apa?" tanya Samuel pada kami, senyumnya meremehkan. "Pesen aja, jangan malu-malu. Aku yang bayar kok. Jarang-jarang kan makan beginian?"

Penghinaan pertama. Halus, tapi nusuk.

Aku menunjuk sembarang menu di tengah-tengah (harga menengah). "Aku... Poulet Rôti aja. Lagi pengen ayam." (Itu ayam panggang, harganya 450 ribu). Aryo ikutan panik. "Sama! Poulet Rôti juga! Saya suka ayam! Ayam itu sehat!"

Pesanan dicatat. Pelayan pergi. Sekarang, dimulailah sesi interogasi.

"Jadi Aryo," Samuel memutar gelas wine-nya. "Dev bilang kamu 'mapan'. Kerja di mana? Startup teknologi? Tambang? Atau Lawyer?"

Mataku melebar. Giliran Aryo. Aku menahan napas. Jangan bego, Yo. Jangan bego.

Aryo tampak berpikir keras. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. "Saya... ehem... Saya wirausaha, Mas Samuel," jawabnya mencoba tenang, meski suaranya bergetar.

"Oh? Bisnis apa tuh?" Samuel mencondongkan tubuh, menantang.

Aryo bingung. Dia menatapku minta tolong. Aku melotot. Jawab apa kek! "Saya... saya bergerak di bidang... Industri Distribusi Larutan Kimia Sanitasi Tingkat Lanjut dan Manajemen Logistik Hidrasi Korporat."

Samuel mengernyit. Jesselyn bengong. "Hah? Apaan tuh? Kedengeran canggih."

Aku hampir tersedak ludah sendiri. Larutan Kimia Sanitasi? Logistik Hidrasi? Itu bahasa keren dari Tukang Pel dan Tukang Ganti Galon. Aryo, kamu jenius tapi bego!

Samuel masih curiga. "Wow. Kedengeran kompleks. Jadi... lu bikin bahan kimia?"

"Kurang lebih. Saya memastikan higienitas lantai di gedung-gedung pencakar langit terjaga dengan formula khusus, dan memastikan suplai hidrasi karyawan tidak pernah terputus. Tanpa manajemen saya, ekosistem kantor bisa collapse."

Samuel manggut-manggut, tapi kemudian dia tertawa kecil. Tawa yang jahat. "Tunggu deh... 'Sanitasi Lantai'? 'Hidrasi Korporat'? Maksudnya... Cleaning Service Supplier? Atau jangan-jangan... tukang pel-nya?"

JLEB. Tebakannya tepat sasaran. Dia memang ular berbisa. Wajahku merah padam menahan malu. Aryo menunduk.

"Yah... semacam itu lah. Tapi skalanya nasional," jawab Aryo ngeles, tapi suaranya sudah kehilangan kepercayaan diri.

Samuel menyandarkan punggungnya, tersenyum puas. "Oh, oke. Unik juga selera kamu Dev. Dari CEO (aku), turun ke... konsultan sabun pel. Downgrade yang menarik."

Jesselyn terkikik kecil sambil menutup mulutnya. "Lucu ya Beb kerjaannya."

Lihat selengkapnya