Matahari Jakarta hari ini tidak sedang bersinar; dia sedang menyerang. Aspal di luar sana mungkin sudah cukup panas untuk melelehkan sendal jepit dalam waktu 5 menit. Dan kami, para budak korporat yang terkurung di dalam gedung kaca bertingkat ini, sedang menjalani simulasi siksa kubur.
Penyebabnya satu: AC Central Mati Total. Kompresor utama gedung meledak (katanya ada tikus yang bunuh diri di kapasitor). Teknisi gedung sudah angkat tangan, mengibarkan bendera putih berupa lap keringat. "Sparepart harus impor dari Jerman, Mas. Vendor baru sampe besok."
"BESOK?!" teriak Pak Bos dari dalam ruangannya yang kini berubah menjadi terrarium raksasa.
Dalam waktu 20 menit, suhu ruangan naik dari 24°C yang nyaman menjadi 36°C yang biadab. Udara di Lantai 12 tidak bergerak. Kaca jendela tipe mati (tidak bisa dibuka) mengubah ruangan ini menjadi efek rumah kaca yang sempurna. CO2 menumpuk. Oksigen menipis. Harapan hidup menurun.
Karyawan mulai kehilangan akal sehat. Mbak Novi (HRD) menempelkan jidatnya ke tembok beton, mendesah putus asa mencari sisa dingin. Mas Bambang (IT) sudah membuka kemejanya sampai kancing ketiga, mengipas-ngipas perut buncitnya dengan mousepad. Bau ruangan mulai berubah. Aroma parfum mahal Jo Malone bercampur dengan aroma bawang, keringat ketiak, dan keputusasaan korporat.
Aku? berdiri di sudut lorong sambil memeluk gagang sapu. Seragam biru mudaku sudah basah kuyup, menempel di punggung seperti kulit kedua. Keringat menetes dari hidungku. Jujur, aku tidak peduli dengan mereka. Biarlah Mas Bambang meleleh. Biarlah Pak Bos jadi dendeng. Itu seleksi alam.
Tapi... Mata elangku menangkap anomali di Zona A-4. Di sana, di kubikel paling pojok dekat jendela kaca (titik terpanas di ruangan), duduklah wanita yang kucintai, Devi.
Dia terlihat... layu. Wajahnya merah padam seperti kepiting rebus. Rambutnya yang biasanya badai, kini lepek menempel di dahi. Dia mengipas-ngipas wajahnya dengan buku agenda, tapi gerakannya lemah, putus asa.
Dunia di sekelilingku melambat. Grid data digital muncul di retinaku. Aku melakukan pemindaian cepat.
TARGET: Devi Leona (27).
LOKASI: Zona Radiasi UV Maksimal.
STATUS FISIOLOGIS:
Suhu Tubuh: Estimasi 38°C (Hyperthermia Ringan).
Hidrasi: Kritis (Bibir mulai kering).
Tingkat Stress: 99% (Potensi mengamuk tinggi).
STATUS KOSMETIK (CRITICAL):
Foundation: Mulai cracking di area T-Zone.
Mascara: Titik leleh tercapai. Potensi luntur: 80%.
KESIMPULAN: Pujaan hatiku sedang dalam bahaya leleh.
Darahku mendidih. Bukan karena panas, tapi karena naluri pelindungku berteriak. Aku tidak bisa membiarkan Devi menderita. Aku tidak rela makeup mahalnya luntur. Aku tidak rela dia pingsan. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi aku tidak bisa memperbaiki AC Central (itu butuh alat berat). Aku harus menciptakan Sistem Pendingin Mikro (Micro-Climate Cooling System) yang spesifik hanya untuk Devi.
Tapi alat itu harus:
Aku menyeringai tipis. "Oke. Waktunya main sains."
Aku masuk ke Pantry. Mengunci pintu. Ini laboratorium darurat.
Aku memejamkan mata. Membuka Mind Palace-ku. Rumus-rumus fisika dan diagram teknik beterbangan di udara.
MASALAH: Aku butuh aliran udara dingin yang FOKUS dan KUAT, tapi HENING. Kipas angin biasa (Desk Fan) terlalu berisik ("WERRRR") dan anginnya menyebar (Turbulen). Aku butuh aliran Laminar (Lurus).
SOLUSI: PC CASE FANS (Kipas Komputer). Kenapa?
TEORI PENDINGINAN: Hukum Bernoulli & Efek Joule-Thomson. Prinsip Eco-Cooler Bangladesh. Jika udara didorong masuk ke corong lebar dan dipaksa keluar lewat leher botol sempit:
1. Tekanan udara turun mendadak saat keluar (Ekspansi).
2. Penurunan tekanan = Penurunan Suhu.
3. Hasil: Angin yang keluar lebih dingin 3-5 derajat dari suhu ruangan.